logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Hidup Sehat

Mengenal Seitan, Pengganti Daging untuk Para Vegan yang Wajib Dicoba

open-summary

Seitan adalah makanan pengganti daging yang terbuat dari gandum yang kandungan proteinnya sangat mirip seperti daging. Jika dibandingkan dengan daging, kadar karbohidratnya jauh lebih rendah.


close-summary

8 Mar 2021

| Azelia Trifiana

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Seitan memiliki kadar protein yang mirip daging

Seitan memiliki kadar protein yang mirip daging

Table of Content

  • Apa itu seitan?
  • Apa saja kandungan nutrisi seitan?
  • Apa kekurangannya?
  • Bagaimana cara mengolah seitan?
  • Catatan dari SehatQ

Orang yang menjalani gaya hidup vegan dan vegetarian mungkin tak asing lagi dengan seitan, pengganti makan daging yang terbuat dari gandum. Kandungan proteinnya sangat mirip seperti daging. Jika dibandingkan dengan daging, kadar karbohidratnya jauh lebih rendah.

Advertisement

Meski demikian, tetap ada kemungkinan munculnya efek negatif mengingat seitan sepenuhnya mengandung gluten, protein yang ada dalam gandum. Jadi, selalu dengarkan kondisi tubuh sebelum memutuskan mengonsumsinya.

Baca Juga

  • Terapi Lintah, Apa Saja Manfaat dan Efek Sampingnya?
  • Mengapa Menguap Bisa Menular? Ini Penjelasannya
  • 7 Makanan Pembentuk Otot untuk Membentuk Badan Ideal

Apa itu seitan?

Seitan adalah makanan alternatif pengganti daging. Proses pembuatannya adalah dengan mencampur tepung gandum dengan air. Dengan demikian, akan terbentuk helaian protein gluten yang lengket.

Kemudian, adonan ini akan dicuci bersih untuk menghilangkan tepungnya. Dari situlah protein gluten lengket ini bisa diolah layaknya mengolah daging.

Mulai dari diberi bumbu, dimasak, dan dijadikan bagian dari menu apapun untuk mereka yang vegan atau vegetarian.

Hal yang membuat seitan dikenal sebagai pengganti daging adalah kandungan proteinnya yang sangat tinggi. Jumlahnya beragam, lagi-lagi bergantung pada proses pembuatannya. Apabila ada tambahan bahan seperti kedelai atau tepung legume, bisa jadi kadar proteinnya bertambah.

Meski demikian, olahan gandum ini mengandung lysine cukup rendah. Ini adalah asam amino esensial yang diperoleh manusia dari makanan. Jadi, seitan bukanlah protein komplet.

Untuk mengimbanginya, biasanya orang vegan dan vegetarian mengonsumsi makanan tinggi lysine seperti kacang-kacangan.

Baca juga: Aneka Sumber Protein Nabati yang Mudah Dicari di Pasar dan Supermarket

Apa saja kandungan nutrisi seitan?

Umumnya, dalam 85 gram seitan terdapat 15-21 gram protein. Ini sama banyaknya seperti protein yang ada dalam sumber hewani seperti ayam dan daging sapi.

Lebih jauh lagi, dikutip dari Pusat Data Makanan, kandungan nutrisi dalam tiap satu sajian seitan mengandung:

  • Kalori: 104
  • Protein: 21 gram
  • Selenium: 16% AKG
  • Zat besi: 8% AKG
  • Fosfor: 7% AKG
  • Kalsium: 4% AKG
  • Tembaga: 3% AKG

Kadar karbohidrat dari seitan sangat rendah karena hampir seluruh tepungnya terbilas selama proses pembuatan. Setiap sajian seitan rata-rata hanya mengandung karbohidrat sebanyak 4 gram.

Tak hanya itu, mengingat sebagian besar olahan gandum tidak mengandung lemak, itu pula yang ada pada seitan. Hanya ada sekitar 0,5 gram lemak dalam tiap satu sajiannya.

Namun, bisa jadi kandungan nutrisi ini berbeda apabila produknya dibeli dari supermarket. Mungkin saja dalam proses pembuatannya diberikan bahan tambahan untuk membuat tekstur dan rasanya lebih lezat.

Apa kekurangannya?

Selain kandungan lysine yang rendah, ada beberapa hal lain yang menjadi kekurangan seitan seperti salah satunya:

1. Proses cukup panjang

Seitan tidak tersedia oleh alam sehingga harus melewati proses pembuatan yang cukup panjang. Cara pembuatannya harus dilakukan dengan mengolah tepung gandum dengan air. Jadi, orang yang sudah cukup banyak mengonsumsi makanan diproses sebaiknya berpikir dua kali sebelum mengonsumsi seitan.

Namun bagi yang tidak, usah risau. Meski diproses cukup panjang, kandungan kalori, gula, dan lemaknya sangat rendah. Jadi, tak ada risiko menyebabkan obesitas.

2. Tidak untuk yang alergi gluten

Mengingat bahan baku utama seitan adalah tepung gluten, artinya pengganti daging yang satu ini tidak untuk mereka yang sensitif terhadap gluten. Terlebih, penderita penyakit celiac juga harus menghindarinya. Mengonsumsi gluten salah-salah bisa menyebabkan penyakit autoimun ini kembali kambuh. Alternatifnya, mungkin Anda bisa memilih produk seitan gluten free.

3. Tinggi sodium

Ada pula kemungkinan produk seitan yang dijual di pasaran telah diberi tambahan sodium. Bagi orang yang harus mengawasi betul konsumsi sodium, sebaiknya baca saksama label kemasan sebelum mengonsumsinya.

4. Potensi buruk untuk pencernaan

Lagi-lagi karena terbuat sepenuhnya dari gluten, ada kekhawatiran seitan menjadi buruk untuk pencernaan. Normalnya, penyerapan usus sangat terjaga sehingga hanya partikel makanan kecil saja yang bisa lewat ke aliran darah.

Namun terkadang, pencernaan juga bisa mengalami “kebocoran” sehingga partikel yang lewat lebih besar. Inilah yang menjadi faktor risiko sensitivitas terhadap makanan, peradangan, hingga penyakit autoimun.

Beberapa studi menemukan bahwa mengonsumsi gluten dapat meningkatkan risiko terjadinya hal ini. Bahkan, ini bisa terjadi pada orang yang tidak menderita penyakit celiac atau sensitif terhadap gluten sekalipun.

Bagaimana cara mengolah seitan?

Kelebihan lain dari seitan adalah mudah diolah menjadi makanan karena bahan bakunya hanya gandum gluten dan air. Artinya, rasanya cukup netral dan bisa berpadu dengan bumbu lain dalam masakan.

Beberapa cara mengonsumsi seitan yang cukup populer adalah dengan cara:

  • Dimarinasi dan diiris seperti daging
  • Digiling
  • Dipotong menjadi strips
  • Diiris dan goreng seperti chicken strips
  • Diolah menjadi sate kemudian dipanggang
  • Dimasak dalam kaldu
  • Dikukus

Tekstur dari seitan ini lebih padat sehingga lebih meyakinkan atau mirip seperti daging dibandingkan dengan tahu atau tempe. Tak hanya itu, seitan bisa menjadi alternatif bagi yang tidak bisa mengonsumsi makanan berbahan dasar kedelai.

Baca juga: Bisa Makan Tanpa Risau Berkat 11 Alternatif Tepung Bebas Gluten

Catatan dari SehatQ

Apakah mengonsumsi seitan berdampak baik atau buruk pada tubuh tentu hanya Anda yang tahu. Untuk itu, apabila muncul reaksi atau gejala yang kurang nyaman, coba hindari mengonsumsinya selama 30 hari dan lihat apakah gejalanya membaik.

Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar konsumsi seitan dan kesehatan pencernaan, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.

Advertisement

makanan sehathidup sehatpola hidup sehat

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved