Segala Hal Tentang Sekolah Ramah Anak yang Wajib Diketahui Orangtua

Di sekolah ramah anak, si Kecil bebas belajar apa saja
Seorang anak sedang belajar di sekolah

Setiap orangtua pasti punya alasan tersendiri dalam memilih sekolah untuk anak. Nah, salah satu aspek yang dapat Anda pertimbangkan dalam hal ini adalah memastikan sekolah yang Anda pilih adalah sekolah ramah anak.

Sekolah ramah anak adalah istilah yang digunakan oleh Badan PBB yang membawahi urusan anak (UNICEF) untuk sekolah yang mendidik anak secara keseluruhan. Sekolah itu haruslah tidak membedakan anak berdasarkan gender, memenuhi hak-hak anak, serta menciptakan lingkungan yang positif secara psikologis dan emosional bagi anak.

Di Indonesia, sekolah ramah anak diterapkan untuk memutus rantai kekerasan di lingkungan pendidikan sekaligus memastikan anak mendapat pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, sekolah ramah anak juga wajib menjalankan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sekaligus UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional.

Seperti apa sekolah ramah anak itu?

UNICEF menyebut sekolah ramah anak memiliki dua karakteristik utama, yaitu:

  • Child-seeking school

Sekolah ini secara aktif menyeleksi muridnya dari anak-anak yang berada di lingkungan sekitar. Sekolah ramah anak ini akan memantau perkembangan mereka selama berada di sekolah dan tidak lepas tangan ketika si anak kembali ke komunitasnya.

  • Child-centered school

Menjalankan program sesuai dengan minat anak dan menuntun anak memaksimalkan potensinya. Sekolah ramah anak ini juga wajib memastikan anak mendapatkan seluruh haknya, seperti berada dalam kondisi sehat, gizi terpenuhi, dan sehat secara jasmani serta rohani. Sekolah juga juga terus memantau perkembangan anak ketika berada di luar sekolah.

UNICEF mengklaim sekolah ramah anak merupakan institusi yang sangat berpengaruh untuk memastikan anak mendapatkan kualitas pendidikan yang baik. Sedangkan bagi tenaga pengajar, orangtua, hingga lingkungan sekitar, sekolah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran semua pihak untuk mendukung hak anak secara menyeluruh.

Memilih sekolah ramah anak

Tidak semua sekolah dapat dikatakan sebagai sekolah ramah anak. Anda dapat mengenali sekolah ramah anak dari implementasi kebijakannya dalam berbagai aspek sebagai berikut:

1. Kurikulum

  • Mencantumkan pelaksanaan sekolah ramah anak
  • Mencantumkan UU Perlindungan Anak sebagai dasar hukum berdirinya sekolah

2. Pendidik dan tenaga kerja kependidikan

  • Tidak pernah secara sengaja maupun tidak melakukan kekerasan kepada anak. Kekerasan yang dimaksud, misalnya kekerasan fisik (memukul, mencekik, dan lain-lain), seksual (meraba bagian tubuh anak atau meminta anak melakukan hal sebaliknya pada pendidik), dan emosional (menghina, mempermalukan, hingga menyebut anak bodoh, malas, atau nakal).
  • Tidak pernah secara sengaja atau tidak menelantarkan anak, misalnya tidak memberi makan atau tempat duduk pada anak.

3. Proses pembelajaran

  • Pembelajaran dilakukan secara aktif, kreatif, efektif, dan tidak ada diskriminasi. Tenaga pendidik bertugas menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
  • Sekolah ramah anak menyediakan kebutuhan siswa dalam proses belajar, misalnya seragam, sepatu, buku, hingga memberi makanan tambahan dan fasilitas kesehatan yang memadai.

4. Sarana dan prasarana

  • Dalam penataan tempat duduk, murid dilibatkan dalam pemilihan tempat duduk sesuai kebutuhan dan merawat kebersihannya.
  • Di lingkungan sekolah, ada fasilitas seperti toilet, tempat cuci tangan, bebas asap rokok, dan terjaga kebersihannya.

5. Biaya

  • Anak tidak dilibatkan dalam urusan keuangan yang terkait dengan kewajiban orangtua. Artinya, saat orangtua belum bisa melunasi uang SPP, bukan berarti anak tidak boleh sekolah.
  • Infaq bersifat sukarela, bukan menjadi ajang sekolah untuk mencari dana tambahan
  • Bila ada program wisata, sekolah ramah anak akan mendiskusikannya secara transparan dan tidak ada paksaan bagi murid yang tidak ingin ikut karena berbagai alasan.

6. Pengelolaan standar

  • Ada sistem reward and punishment kepada anak, misalnya dengan menerapkan sistem poin.
  • Program sekolah disosialisasikan kepada orangtua dan masyarakat secara umum.

7. Penilaian pendidikan

  • Memberi reward pada anak yang berprestasi secara akademis maupun nonakademis.
  • Membimbing dan memotivasi anak yang dinilai kurang berhasil.
  • Tidak mempermalukan anak di depan temannya bila prestasinya kurang baik.

Pada akhirnya, sekolah ramah anak akan memiliki lulusan yang lebih toleran di masyarakat. Ia akan memiliki sikap antikekerasan, peduli lingkungan, setia kawan, dan bangga terhadap sekolah maupun almamaternya.

Sayangnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menilai hingga akhir 2019, baru 15 persen sekolah di Indonesia yang bisa dikategorikan sebagai sekolah ramah anak. Artinya, dari 400 ribu sekolah jenjang PAUD hingga SMA/sederajat, baru 15 ribuan sekolah yang sudah menerapkan sistem ini.

UNICEF. https://www.unicef.org/lifeskills/index_7260.html
Diakses pada 7 Februari 2020

Pemprov Jawa Barat. http://dp3akb.jabarprov.go.id/mengenal-dan-mengembangkan-sekolah-ramah-anak/
Diakses pada 7 Februari 2020

Medcom. https://www.medcom.id/pendidikan/news-pendidikan/GNlYrVXb-baru-15-persen-sekolah-ramah-anak
Diakses pada 7 Februari 2020

Research Gate. https://www.researchgate.net/publication/44788733_Quality_Education_through_Child-Friendly_Schools_Resource_Allocation_for_the_Protection_of_Children's_Rights
Diakses pada 7 Februari 2020

Artikel Terkait