Sederet Obat Kejang dari Dokter yang Membantu Pasien Epilepsi

(0)
17 Jun 2020|Arif Putra
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Obat kejang membantu mengontrol episode kejang pada pasien penderita epilepsiPasien epilepsi akan membutuhkan obat kejang yang diresepkan oleh dokter
Kejang merupakan perilaku dan pergerakan tubuh yang abnormal akibat perubahan aktivitas listrik di dalam otak. Kejang utamanya dapat terjadi akibat epilepsi, yakni gangguan sistem saraf pusat yang memicu kejang berulang. Untuk menangani gejala ini, beberapa obat kejang akan diberikan oleh dokter, baik secara kombinasi maupun satu jenis obat.Obat kejang dapat mengontrol episode kejang yang dialami hingga 70% pasien penyakit epilepsi. Namun, penting untuk diingat bahwa belum ada obat yang bisa menyembuhkan gangguan saraf ini. Sebagian besar pasien juga akan perlu melanjutkan penggunaan obat jangka panjang.

Jenis obat kejang yang umum untuk atasi epilepsi

Ada beragam jenisnya, berikut ini obat kejang yang umum diberikan dokter:

1. Karbamazepin (carbamazepin)

Karbamazepin adakah obat yang bisa diberikan dokter untuk kejang parsial di sebagian tubuh, kejang tonik-klonik, dan kejang campuran. Kejang tonik-klonik sendiri merupakan salah satu kejang umum yang terkadang penderita kehilangan kontrol terhadap saluran kemihnya.Karbamazepin diketahui membantu menghambat aliran natrium di otak dan di badan, sehingga mengurangi aktivitas listrik yang abnormal antar sel saraf. Namun, obak kejang ini dapat menimbulkan beberapa efek samping, seperti kelelahan, perubahan penglihatan, mual, ruam kulit, dan pusing.

2. Fenitoin (phenytoin)

Fenitoin membantu mengendalikan kejang parsial serta kejang umum tonik-klonik. Obat ini dapat diberikan dokter secara intravena untuk segera mengontrol kejang aktif yang dialami pasien.Efek samping fenitoin dapat beragam, termasuk:
  • Pusing
  • Kelelahan
  • Sulit berbicara
  • Jerawat
  • Ruam kulit
  • Pembengkakan gusi
  • Pertumbuhan rambut di tempat yang tak seharusnya (hirsutisme)
Selain itu, fenitoin dapat menimbulkan efek jangka panjang berupa penipisan tulang.

3. Valproat dan asam valproat

Valproat dan asam valproat merupakan obat kejang untuk mengatasi kejang parsial, kejang umum tonik-klonik, dan kejang absen. Kejang absen terjadi saat penderitanya kehilangan kesadaran diri beberapa saat yang ditandai dengan tatapan kosong. Kejang absen merupakan jenis kejang yang lebih sering terjadi pada anak-anak.Efek samping umum dari valproat dan asam valproat termasuk pusing, mual, muntah, tremor, rambut rontok, penurunan perhatian, serta penurunan berpikir. Pasien yang meminumnya juga berisiko mengalami kenaikan berat badan, depresi pada orang dewasa, dan rewel pada anak-anak.Obat kejang ini juga menimbulkan efek jangka panjang, termasuk penipisan tulang, pembengkakan di pergelangan kaki, dan periode menstruasi yang tak beraturan. Valproat tidak bisa dikonsumsi oleh ibu hamil.

4. Diazepam dan lorazepam

Diazepam dan lorazepam efekfif sebagai penanganan jangka pendek segala jenis kejang. Obat ini juga digunakan dalam kondisi gawat darurat untuk menghentikan kejang pada pasien, terutama pada yang berada dalam status epileptikus.
diazepam obat epilepsi
Diazepam efekfif digunakan sebagai penanganan jangka pendek segala jenis kejang
Efek samping dari obat-obatan untuk kejang ini termasuk kelelahan pada pasien, langkah yang tidak stabil, mual, depresi, dan penurunan nafsu makan. Anak-anak yang mengonsumsi diazepam atau lorazepam berisiko pula menjadi ngiler dan hiperaktif.Toleransi tubuh terhadap obat bisa berkembang setelah beberapa minggu, sehingga efek sampingnya bisa berkurang walau pada dosis yang sama.

5. Fenobarbital (phenobarbital)

Fenobarbital merupakan obat epilepsi dan kejang yang masih digunakan hingga saat ini. Obat ini membantu menangani hampir segala jenis kejang dan menjadi obat yang sangat efektif dengan harga murah. Namun, fenobarbital juga dapat memicu efek samping seperti rasa ngantuk dan perubahan perilaku pada pasien.

6. Levetiracetam

Levetiracetam merupakan obat yang sering dikombinasikan dengan obat kejang lain untuk menangani kejang parsial dan kejang umum primer, serta mioklonik. Kejang mioklonik membuat otot penderitanya tiba-tiba tersentak seolah-olah sedang terkejut.Efek samping levetirecetam dapat berupa kelelahan, rasa lemah, dan perubahan perilaku.

7. Okskarbazepin (Oxcarbazepine)

Okskarbazepin digunakan untuk tangani kejang parsial. Obat ini bisa diminum sendiri atau dikombinasikan dengan obat kejang lainnya – yang dikonsumsi secara harian. Beberapa efek samping okskarbazepin termasuk pusing, rasa kantuk, sakit kepala, muntah, penglihatan ganda, dan gangguan keseimbangan tubuh.

8. Tiagabin (tiagabine)

Tiagabin diresepkan dokter untuk menangani kejang parsial, baik yang diiringi dengan kejang umum maupun yang tidak. Pemberian tiagabin akan dikombinasikan dengan obat-obat epilepsi lainnya.Seperti obat kejang lain, tiagabin juga bisa memicu efek samping umum berupa pusing, kelelahan dan rasa lemah. Pasiennya juga mungkin menjadi lekas marah, cemas, dan bingung.

Tips apabila menjalani hidup dengan epilepsi

Hidup dengan epilepsi tentunya bukan hal yang mudah untuk dijalani. Ada beberapa tips yang bisa Anda terapkan untuk meminimalkan risiko bahaya jika hidup dengan epilepsi:
  • Ajak keluarga dan rekan-rekan untuk memahami epilepsi. Sampaikan bahwa apabila terjadi episode kejang, mereka bisa melakukan beberapa cara penanganan. Misalnya, dengan memberi bantalan pada kepala dan melonggarkan pakaian.
  • Mengubah gaya hidup, seperti tidak berkendara dan bepergian dengan kendaraan umum atau sharing ride
  • Mencoba metode relaksasi seperti yoga, teknik pernapasan dalam, dan tai chi
  • Mencari dokter yang membuat Anda nyaman
  • Mencari kelompok sebaya untuk saling memberikan dukungan bagi penderita epilepsi

Catatan dari SehatQ

Obat kejang dapat diberikan dokter untuk mengontrol kejang pada pasien epilepsi. Selalu pastikan dengan baik pada dokter terkait efek samping dan peringatan lain terkait penggunaan obat yang akan Anda konsumsi.
kejangepilepsikesehatan otak
Healthline. https://www.healthline.com/health/seizures
Diakses pada 3 Juni 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/petit-mal-seizure
Diakses pada 3 Juni 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/epilepsy
Diakses pada 3 Juni 2020
WebMD. https://www.webmd.com/epilepsy/guide/understanding-seizures-and-epilepsy
Diakses pada 3 Juni 2020
WebMD. https://www.webmd.com/epilepsy/types-of-seizures-their-symptoms
Diakses pada 3 Juni 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait