Meski telah tersedia, pengobatan HIV berupa terapi antiretroviral (ART), belum dimanfaatkan secara optimal.
Terapi antiretroviral (ART) bisa membantu penderita HIV hidup sehat kembali.

HIV memang bisa dianggap sebagai infeksi berbahaya yang dapat mengancam hidup penderitanya. Beruntung, pengobatan HIV berupa terapi antiretroviral (ART), penderita HIV tetap dapat menjalani hidup dengan sehat, dengan waktu harapan hidup jauh lebih panjang dibandingkan sebelumnya.

Sayangnya, pengobatan HIV ini belum dimanfaatkan dengan optimal. Berdasarkan data UNAIDS pada 2016, dari total jumlah penderita HIV di Indonesia, hanya sekitar 13% di antaranya yang sudah mengakses terapi ART.

Tidak hanya itu, disebutkan juga bahwa kematian yang berhubungan dengan AIDS, naik sebesar 68% sejak tahun 2010. Melihat tingginya angka tersebut, penting bagi para penderita HIV untuk mengenali lebih jauh tentang efektivitas pengobatan yang tersedia.

[[artikel-terkait]]

Pengobatan HIV efektif untuk tekan jumlah virus di tubuh

Pengobatan HIV yang beredar saat ini tidak dapat 100% menyembuhkan HIV. Obat ini bekerja dengan cara menekan jumlah virus di tubuh agar tetap rendah.

Hal ini membuat munculnya gangguan kesehatan akibat kerusakan sistem imun dapat dicegah. Rendahnya jumlah virus di tubuh (viral load) juga membuat kemungkinan penularan semakin kecil.

Orang yang menjalani ART umumnya akan diinstruksikan untuk mengonsumsi kombinasi dari tiga obat sekaligus. Dengan perawatan yang tepat, harapan hidup orang dengan HIV bisa sama dengan orang pada umumnya. Penderita HIV yang menjalani terapi ART dapat menjalani kegiatannya seperti biasa.

Pengobatan HIV disebut efektif apabila dapat mengurangi jumlah virus tersebut di tubuh, bahkan hingga tahap tidak terdeteksi. Tidak terdeteksinya virus di tubuh menandakan jumlah virus tersebut sudah sangat berkurang hingga hanya sebagian kecilnya saja tersisa.

Konsumsi obat HIV tidak boleh dihentikan

Saat jumlah virus telah mencapai pada tahap tidak terdeteksi, maka HIV dianggap sudah tidak memengaruhi kondisi kesehatan penderitanya. Selain itu, risiko penularan kepada orang lain pun telah hilang.

Namun perlu diingat, meski virus telah tidak terdeteksi, pengobatan HIV harus tetap berjalan seumur hidup. Jika konsumsi obat dihentikan, maka jumlah virus di tubuh dapat kembali naik dan kembali mengganggu kesehatan.

Adakah perbedaan pengobatan HIV pada pria dan wanita?

Secara umum, pengobatan HIV pada pria dan wanita tidak berbeda. Namun, terdapat faktor yang dapat memengaruhi pengobatan HIV pada wanita, seperti penggunaan alat kontrasepsi dan kehamilan.

Beberapa jenis obat HIV dapat mengurangi tingkat efektivitas alat kontrasepsi hormonal seperti pil, cincin, dan implan. Sehingga, wanita yang menjalani ART umumnya akan disarankan untuk menambah jenis kontrasepsi atau menggantinya dengan jenis lain.

Wanita hamil yang mengalami HIV juga perlu menjalani pengobatan, untuk mengurangi risiko penularan dari ibu ke anak dan melindungi kesehatan janin. Beberapa faktor di bawah ini dapat memengaruhi pengobatan HIV pada wanita hamil:

  • Kehamilan menyebabkan obat HIV diproses secara berbeda oleh tubuh. Sehingga, pola konsumsi obatnya pun perlu disesuaikan.
  • Efek samping obat HIV yang muncul saat kehamilan, membuat wanita menjadi lebih sulit menjalani ART.
  • Pemilihan obat untuk mengatasi HIV, harus mempertimbangkan efek samping serta risiko yang mungkin timbul pada janin.

Efek samping pengobatan HIV pada wanita

Tidak semua orang yang menjalani ART, akan mengalami efek samping. Kalaupun muncul, efek samping umumnya akan terlihat segera setelah obat dikonsumsi, dan akan mereda seiring dengan berjalannya waktu.

Efek samping yang muncul pun umumnya bukan merupakan kondisi yang serius. Individu yang menjalani ART, kemungkinan akan mengalami efek samping berupa mual, diare, sakit kepala, ruam, dan merasa lelah.

Selain itu, ada sejumlah efek samping yang jarang terjadi, tapi lebih sering muncul pada wanita, seperti:

1. Ruam dan keracunan hati yang berkaitan dengan nevirapine

Wanita disebutkan lebih berisiko mengalami efek samping yang berkaitan dengan obat HIV nevirapine, dibandingkan dengan pria.

Efek samping ini umumnya akan muncul pada tiga bulan pertama pengobatan. Dokter akan mengawasi dengan ketat, jika efek samping ini mulai timbul.

2. Perubahan metabolisme

Perubahan metabolisme yang terjadi dapat berupa perubahan kadar gula dan lemak dalam darah. Efek samping ini dapat memicu terjadinya tekanan darah tinggi, kadar gula darah naik, serta meningkatnya kadar kolesterol dan trigliserida di tubuh.

3. Perubahan pada siklus menstruasi

Pada beberapa orang, konsumsi obat HIV juga dapat menyebabkan perubahan siklus menstruasi menjadi tidak teratur.

Selain itu, menstruasi yang dialami juga dapat terasa lebih nyeri, dengan peningkatan volume darah. Kondisi ini umumnya dikaitkan dengan kelompok obat HIV berjenis lopinavir atau ritronavir.

Saat ini, ART dianggap sebagai pengobatan HIV yang paling efektif. Semakin cepat pengobatan dimulai maka semakin baik. Pengobatan yang dilakukan sejak dini juga akan mencegah HIV dan AIDS.

UNAIDS. http://www.unaids.org/en/regionscountries/countries/indonesia
Diakses pada 7 Mei 2019

Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/hiv/basics/livingwithhiv/treatment.html
Diakses pada 7 Mei 2019

AVERT. https://www.avert.org/living-with-hiv/starting-treatment
Diakses pada 7 Mei 2019

AIDS Info. https://aidsinfo.nih.gov/understanding-hiv-aids/fact-sheets/25/69/hiv-and-women
Diakses pada 7 Mei 2019

AIDS Map. http://www.aidsmap.com/HIV-treatment-in-women/page/1550400/
Diakses pada 7 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed