Plagiosefali atau kepala bayi peyang saat lahir tidak selalu mengindikasikan kondisi yang berbahaya
Kepala bayi peyang tidak selalu mengindikasikan kondisi berbahaya

Saat lahir, kepala bayi adalah salah satu bagian yang perlu diperhatikan oleh kedua orangtua. Adanya kelainan pada kepala dapat menjadi pertanda gangguan pada otak. Kelainan tersebut dapat berupa lingkar kepala yang terlalu besar (makrosefali) atau terlalu kecil (mikrosefali). Pada kasus langka, bayi dapat terlahir tanpa tempurung kepala atau anensefali. Selain ukuran, kelainan bentuk kepala juga dapat terjadi. Salah satu kasus yang paling umum adalah bentuk kepala bayi peyang.

Kepala bayi peyang dalam istilah medis disebut dengan plagiosefali, yaitu pendataran kepala pada satu sisi sehingga tampak tidak simetris. Jika Anda perhatikan kepala bayi yang peyang, dapat terlihat posisi telinga kanan dan kiri yang tidak sejajar.

Kepala bayi juga bisa mengalami pendataran pada bagian belakang. Kondisi ini disebut dengan brakisefali. Kepala bayi akan tampak melebar dengan dahi yang menonjol sebagai akibat dari brakisefali.

Kepala bayi peyang sering terjadi pada bayi berusia di bawah 5 bulan. Meski demikian, Anda tidak perlu khawatir dengan kepala bayi peyang karena kondisi ini merupakan hal yang normal terjadi, dan umumnya akan menghilang dengan sendirinya seiring pertumbuhan bayi. Kepala bayi peyang tidak memengaruhi perkembangan otak bayi.

Penyebab kepala bayi peyang

Adanya gangguan dalam kandungan menyebabkan mudahnya terjadi penekanan pada kepala bayi. Hal ini berperan dalam menyebabkan kepala bayi peyang. Beberapa gangguan tersebut meliputi janin dalam kondisi sungsang atau lintang, hamil bayi kembar, dan cairan ketuban yang kurang.

Selain itu, pada proses melahirkan normal, kondisi jalan lahir juga bisa berperan menyebabkan kepala bayi peyang. Pada kelahiran anak pertama dengan persalinan normal, otot-otot dasar panggul lebih kencang dibandingkan proses persalinan setelahnya. Hal ini menyebabkan penekanan lebih kuat pada kepala bayi saat ibu mendorong bayi keluar.

Selain itu, ada juga kemungkinan kepala bayi peyang pada bayi yang lahir dengan kondisi kepala normal. Beberapa hal yang dapat memengaruhi, di antaranya:

1. Tidur dalam posisi yang sama

Setelah bayi lahir, kepala bayi dapat menjadi peyang apabila bayi tidur dengan posisi yang sama dalam jangka waktu panjang. Hal ini normal terjadi karena bayi pada beberapa bulan pertama belum cukup kuat untuk menggerakkan kepalanya sendiri.

Walaupun demikian, jangan mengganti posisi tidur bayi menjadi tengkurap hanya untuk menghindari kepala bayi peyang. Posisi tidur tengkurap dapat berbahaya bagi bayi. Pertahankan posisi telentang pada bayi. Dengan posisi tidur telentang, bayi terlindungi dari kejadian kematian bayi meninggal mendadak atau sudden infant death syndrome.

2. Bayi lahir kurang bulan atau prematur

Bayi yang lahir secara prematur memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kepala peyang. Hal ini disebabkan kondisi tulang yang masih lunak. Selain itu, sebagian besar bayi prematur akan mengalami perawatan dalam inkubator untuk waktu yang cukup lama.

Bayi prematur juga cenderung tidur dalam satu posisi yang sama karena mereka tidak memiliki otot yang cukup kuat untuk menggerakkan kepalanya sehingga kepala mereka rentan menjadi peyang.

[[artikel-terkait]]

3. Bayi lahir dengan tortikolis

Tortikolis merupakan suatu gangguan pada otot leher yang terjadi saat bayi lahir. Hal ini menyebabkan posisi kepala bayi cenderung miring ke satu sisi sehingga menyebabkan kepala bayi peyang.

Dokter akan menganjurkan bayi dengan kepala tortikolis untuk melakukan fisioterapi. Dalam fisioterapi, Anda akan diajarkan cara memberikan peregangan otot leher yang benar pada bayi. Latihan ini dapat dilakukan beberapa kali sehari untuk mengurangi kondisi tortikolis yang dialami.

4. Kraniosinostosis

Tulang tengkorak terdiri atas gabungan beberapa tulang. Ketika bayi baru lahir, sambungan antar tulang tersebut belum menutup atau menyatu sempurna. Apabila terjadi penyatuan pada sambungan antar tulang lebih awal, kondisi ini disebut dengan kraniositosis. Kraniositosis merupakan penyebab kepala bayi peyang yang jarang terjadi karena hanya dialami oleh setiap 1 dari 2000 bayi lahir.

Penyatuan antar tulang tengkorak yang terjadi terlalu cepat menyebabkan kepala menjadi tidak proporsional dan berukuran lebih kecil. Terkadang, kondisi ini juga dapat menghambat pertumbuhan tulang dan otak di dalamnya.

Apabila tidak diperbaiki, kraniositosis dapat menyebabkan hambatan pertumbuhan kepala dan peningkatan tekanan intrakranial, yaitu tekanan yang terjadi pada dalam tengkorak karena massa di dalamnya yang terlalu besar.

Artikel Terkait

Banner Telemed