Satu Miliar Orang Bisa Mengalaminya, Apa Tanda Kekurangan Protein?

Rambut rontok merupakan salah satu tanda kekurangan protein pada tubuh
Kekurangan protein yang cukup parah dapat menyebabkan rambut mengalami penipisan, kerontokan, atau warnanya memudar

Protein memegang peran penting bagi seluruh jaringan tubuh. Tak hanya itu, protein juga membentuk otot, kulit, enzim, dan juga hormon. Jika terjadi defisiensi, tanda kekurangan protein bisa terlihat secara fisik seperti kulit kering hingga massa otot berkurang drastis. 

Di negara maju, defisiensi protein jarang terjadi. Namun di dunia, ada sekitar 1 miliar orang yang mengalami tanda kekurangan protein. Utamanya, anak-anak di Afrika Tengah dan Asia Selatan dengan prevalensi mencapai 30%.

Tanda kekurangan protein

Penting untuk tahu apa saja tanda kekurangan protein sehingga bisa segera diatasi lewat asupan makanan yang tepat. Beberapa tanda kekurangan protein adalah:

1. Muncul edema

Edema adalah pembengkakan anggota tubuh karena ada akumulasi cairan. Hal ini terjadi karena rendahnya albumin, protein yang seharusnya ada di dalam plasma darah. Konsekuensinya, air ikut masuk dalam sirkulasi darah dan terakumulasi di jaringan tubuh atau kompartemen lainnya.

Untuk alasan yang sama, tanda kekurangan protein biasanya ditunjukkan dengan penumpukan cairan di rongga abdominal sekitar perut. Ketika edema sudah terjadi, artinya kekurangan protein yang terjadi sangatlah parah.

2. Masalah pada kulit, rambut, dan kuku

Kulit, rambut, dan juga kuku sebagian besar terbentuk dari protein. Pada anak-anak yang menderita kekurangan protein, tanda-tandanya adalah kulit pecah-pecah, kemerahan, atau mengalami depigmentasi. 

Selain itu, rambut juga bisa mengalami penipisan, kerontokan, atau warnanya memudar. Untuk kuku, kondisinya menjadi lebih rapuh. Sama seperti edema, tanda kekurangan protein ini hanya terjadi pada kasus yang sudah cukup parah.

3. Hilangnya massa otot

Dalam tubuh, protein disimpan di dalam otot. Namun ketika asupannya di bawah kebutuhan, maka tubuh akan mengambil protein dari otot rangka agar jaringan-jaringan bisa tetap berfungsi. Jika dibiarkan dalam jangka panjang, massa otot perlahan akan hilang.

Hal ini umum terjadi pada lansia. Namun ketika asupan protein dari sumber makanan mencukupi, maka degenerasi otot karena penuaan pun bisa dihindari.

4. Rentan patah tulang

Tak hanya otot, tulang juga bisa berisiko ketika seseorang mengalami defisiensi protein. Tulang akan menjadi lemah dan rentan mengalami patah. Dalam sebuah penelitian pada perempuan setelah fase menopause, mereka yang mengonsumsi cukup protein mereduksi 69% risiko mengalami patah tulang pinggul.

5. Stunting

Isu stunting kian meresahkan, dan hal ini terkait erat dengan tanda kekurangan protein. Anak yang tidak mendapatkan cukup protein tidak akan tumbuh secara optimal baik dilihat dari tinggi maupun berat badannya. Di penjuru dunia, jutaan anak berisiko mengalami stunting.

6. Infeksi semakin parah

Ketika seseorang terinfeksi dan sistem kekebalan tubuhnya tidak bisa merespons dengan baik, bisa jadi tanda kekurangan protein. Hal ini terjadi karena defisiensi protein akan berimbas pada sistem imun seseorang. 

Tak hanya itu, tanda kekurangan protein lainnya adalah mudah terserang flu atau demam akibat virus maupun bakteri. Frekuensi terserang penyakit ini bisa jadi jauh lebih sering ketimbang orang yang kebutuhan proteinnya tercukupi.

7. Nafsu makan berlebih

Pada kasus defisiensi protein yang ringan, penderitanya bisa merasakan nafsu makan berlebih. Hal ini terjadi karena tubuh berusaha menyimpan protein dengan meningkatkan nafsu makan dan menambah asupan kalori. 

Namun hal ini bisa terjadi berbeda-beda pada tiap orang. Ada yang hanya ingin mengonsumsi makanan gurih, ada juga yang kondisinya berlainan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan obesitas.

Idealnya, asupan protein adalah 0,8 gram per kg berat badan setiap individu. Namun pada kondisi tertentu seperti lansia dan atlet, kebutuhan ini bisa meningkat.

Itu sebabnya penting memastikan tubuh mendapatkan asupan protein sesuai kebutuhan dan berat badan. Konsumsi sumber protein yang sehat dan seimbangkan dengan kebutuhan lainnya.

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/protein-deficiency-symptoms#section11
Diakses 25 Februari 2020

WebMD. https://www.webmd.com/diet/ss/slideshow-not-enough-protein-signs
Diakses 25 Februari 2020

Health. https://www.health.com/nutrition/signs-not-eating-enough-protein
Diakses 25 Februari 2020

Artikel Terkait