Saat Protein dalam Urine Berlebih, Proteinuria Adalah Konsekuensinya

Proteinuria adalah gejala awal saat fungsi ginjal seseorang tidak lagi maksimal
Proteinuria adalah kondisi urine yang mengandung kadar protein berlebih karena masalah pada ginjal

Idealnya, ginjal hanya akan bekerja dengan mengeluarkan kelebihan air dan zat sisa dari darah menjadi urine. Substansi yang lebih besar seperti protein tidak akan ikut tersaring di ginjal. Namun ketika fungsi ginjal terganggu, proteinuria adalah risiko yang mungkin terjadi.

Pada penderita proteinuria, ada kadar protein yang abnormal dalam urine. Kerap kali, kondisi ini menjadi sinyal terjadinya gangguan ginjal kronis. Proteinuria adalah gejala awal saat fungsi ginjal seseorang tidak lagi maksimal.

Mengenal proteinuria

Masalah gangguan ginjal kerap tidak menunjukkan gejala yang signifikan. Bukan tidak mungkin penderitanya menyadari ada gangguan pada ginjal setelah mengetahui hasil tes urine saat medical check up berkala.

Proteinuria berarti kondisi urine yang mengandung kadar protein berlebih. Seharusnya, protein yang membantu membentuk otot dan tulang ini tetap berada dalam darah.

Belum lagi protein juga berfungsi untuk melawan infeksi, membawa lemak, dan mengatur kadar cairan dalam darah. Jika protein “meninggalkan” tubuh lewat urine, ini kondisi yang tidak sehat.

Seharusnya, pembuluh kapiler kecil dalam ginjal yaitu glomeruli menyaring zat sisa dan kelebihan cairan dalam darah. Ketika glomeruli ini mengalami kerusakan, protein tidak bisa disaring maksimal dan justru lolos ke urine.

Penyebabnya beragam dan bisa berbeda setiap orang. Ada beberapa orang yang memiliki faktor risiko proteinuria lebih tinggi, seperti:

Biasanya, seseorang dikatakan mengalami proteinuria ketika kadar pengeluaran proteinnya dalam urine lebih dari 150 mg per hari. Kadar ini bisa dideteksi dalam waktu 24 jam sejak sampel urine diperiksa di laboratorium. Jenis protein yang paling umum ditemukan dalam spesimen urine penderita proteinuria adalah albumin.

Gejala proteinuria

Beberapa sinyal yang bisa jadi menunjukkan seseorang mengalami proteinuria di antaranya:

  • Kencing berbusa
  • Frekuensi kencing sangat sering
  • Mudah merasa lelah
  • Mual dan muntah
  • Wajah, kaki, tangan bengkak
  • Hilang nafsu makan
  • Kram otot di malam hari
  • Mata bengkak terutama di pagi hari

Mengatasi proteinuria

Cara mengatasi proteinuria bergantung pada apa pemicunya. Artinya, sebelum ditentukan tindakannya, perlu dicari tahu apa penyebab seseorang bisa mengalami proteinuria. Tindakan ini harus dilakukan segera karena jika ditunda, bisa saja terjadi gagal ginjal.

Saat memeriksakan diri ke dokter, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan sebelum menentukan diagnosis, seperti:

  • Usia muda
  • Banyaknya protein dalam urine
  • Tes darah pada urine
  • Tes masalah ginjal
  • Tekanan darah

Setelah pemeriksaan lebih lanjut, dokter biasanya akan meresepkan dokter terutama bagi penderita diabetes atau hipertensi. Obatnya dari golongan ACE inhibitors (angiotensin-converting enzyme inhibitors) dan ARBs (angiotensin receptor blockers).

Bagi orang yang mengalami proteinuria namun tidak menderita diabetes atau tekanan darah tinggi, pemberian obat tersebut sudah cukup untuk melindungi ginjal dari kerusakan lebih parah.

Namun apabila yang menjadi masalah kronis adalah penyakit seperti diabetes dan tekanan darah tinggi, maka perlu penanganan lebih lanjut terhadap penyakit tersebut.

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/16428-proteinuria
Diakses 14 November 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/24-hour-urine-protein
Diakses 14 November 2019

Kidney Research. https://kidneyresearchuk.org/conditions-symptoms/proteinuria/
Diakses 14 November 2019

WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/proteinuria-protein-in-urine
Diakses 14 November 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed