Rumah Berantakan Buruk Bagi Kesehatan Mental, Apa Sebabnya?


Memiliki rumah berantakan bukan hanya merusak pemandangan saja, tapi juga bersifat merusak bagi kesehatan mental. Merapikan barang bukan hanya menjadikan rumah Anda rapi tapi juga baik bagi kesehatan mental.

0,0
17 May 2021|Azelia Trifiana
Rumah berantakan tak baik bagi kesehatan mentalRumah berantakan tak baik bagi kesehatan mental
Memiliki rumah berantakan bukan hanya merusak pemandangan saja, tapi juga bersifat merusak bagi kesehatan mental. Bahkan membayangkannya saja sudah bisa menghabiskan energi sekaligus membuat mood berantakan. Di sinilah pentingnya melakukan declutter atau memilah barang mana yang perlu dan tidak.Ketika seseorang sudah piawai melakukan decluttering, maka sudut-sudut rumah tidak akan lagi dipenuhi barang yang tak pernah tersentuh. Hidup pun terasa lebih ringan karena emosi tidak lagi melekat pada terlalu banyak barang.

Efek buruk rumah berantakan

Idealnya, rumah menjadi tempat pulang dan beristirahat setelah penat seharian. Atau, menjadi tempat menuntaskan rasa rindu bagi perantau. Namun ketika kondisi rumah berantakan, jangankan merasa nyaman. Justru, yang muncul adalah sebaliknya.Rumah berantakan dalam hal ini bukan berarti harus punya interior dengan satu tone warna sama atau serba minimalis. Bukan itu. Rumah yang tidak berantakan berarti seluruh barang terletak di tempatnya.Lebih jauh lagi, barang yang ada pun memiliki fungsi. Bukan hanya tergeletak atau ada di sudut rumah padahal tidak pernah dipakai.Berikut ini beberapa dampak rumah berantakan terhadap kesehatan mental:
  • Menimbulkan rasa stres
  • Energi berkurang
  • Sulit fokus
  • Tidak bisa menuntaskan pekerjaan
  • Sulit menemukan barang
  • Hidup tidak stabil
  • Mudah marah dan tersinggung
  • Mood berantakan
  • Merasa kesepian
  • Membuat manajemen waktu berantakan
Beberapa hal di atas hanya segelintir dampak negatif rumah berantakan terhadap mental. Berada di dalam rumah yang kacau balau akan membuat hari seseorang penuh dengan energi negatif. Tentunya, ini membuat sulit fokus dan menuntaskan tugas. Apalagi untuk menemukan ide atau inspirasi.Secara teknis, rumah yang tidak tertata juga menyulitkan ketika harus mencari sesuatu. Pasti perlu waktu jauh lebih lama ketimbang ketika segala benda sudah terletak di tempatnya.Waktu yang terbuang percuma ini lama kelamaan akan menghabiskan alokasi waktu untuk hal-hal penting, bahkan merawat diri sendiri.

Rumah berantakan memberi energi negatif

Dalam jangka panjang, kondisi ini juga membuat seseorang merasa rumahnya penuh dengan musuh. Benda-benda ini akan menuntut “pertanggungjawaban” baik untuk dibersihkan, digunakan, atau dirapikan. Seluruh energi ini tanpa sadar akan membuat seseorang merasa kewalahan.Bukan hanya itu, tumpukan barang juga bisa berdampak pada kehidupan sosial seseorang. Contohnya merasa malu ketika ada teman atau saudara berkunjung ke rumah. Bahkan untuk merawat diri sendiri seperti melakukan yoga atau bersantai pun menjadi sulit ketika rumah terlalu berantakan.Pada akhirnya, ini bisa menimbulkan rasa kesepian. Kehidupan sosial pun bisa terganggu. Bahkan ketika merasa mood berantakan dan mudah tersinggung karena rumah tidak keruan, rasanya berkomunikasi dengan orang baik pun bisa jadi kacau.

Memicu hoarding disorder

hoarding
Mengumpulkan barang-barang tak berguna
Orang yang betah dengan rumah berantakan atau begitu banyak tumpukan barang bisa mengalami obsesi sebagai hoarder. Ini adalah obsesi untuk terus menyimpan dan menambah objek di sekitar.Gangguan hoarding ini ditandai dengan beberapa hal, seperti:
  • Yakin benda-benda di rumah berguna untuk masa depan
  • Enggan membuang barang karena rasa cemas berlebih
  • Membeli benda yang sama lebih dari satu kali karena tak bisa menemukan yang sebelumnya
  • Membiarkan benda rusak hingga jangka waktu lama
  • Tidak mau menerima tamu atau kunjungan
  • Sulit mengonsumsi makanan sehat karena sulit mengakses dapur atau kulkas terlalu penuh
  • Sulit tidur di kamar karena penuh dengan barang
  • Sulit meninggalkan rumah dengan cepat di saat darurat
Pada akhirnya, seseorang dengan gangguan hoarding ini akan merasa malu atau kesepian. Ketika ada orang lain datang ke rumah, ada kecurigaan terhadap apa komentar atau tindakan mereka. Tidak menutup kemungkinan, kondisi ini menyebabkan rasa terisolasi dan rendah self-esteem.Lebih parahnya lagi, gangguan yang berakar dari kebiasaan membiarkan rumah berantakan ini juga memicu masalah di aspek lain. Contohnya hubungan asmara, tanggung jawab profesional, hingga peran sebagai makhluk sosial.Jangan lupakan pula kemungkinan mengalami kondisi finansial kacau. Kesehatan finansial tidak menjadi prioritas. Artinya, sangat mungkin keuangan berantakan karena terus menerus membeli benda baru – meski sudah ada di rumah – atau menghabiskan uang untuk hal tak penting lainnya.Memang tidak semua orang dengan kebiasaan membiarkan rumah berantakan akan mengalami gangguan menumpuk barang atau hoarding. Namun, sulit mendiskusikan seputar konsekuensinya terhadap kesehatan mental tanpa mengaitkan dengan hoarding.

Bagi yang ingin mulai membenahi hidup, bisa dimulai dengan membuang barang rusak dan tak bisa dibetulkan. Kemudian, pilih dan pilah benda di sekitar apakah masih memberikan manfaat atau tidak? Adakah keterikatan emosional atau hanya menimbulkan emosi negatif?Kemudian, lanjutkan dengan membersihkan rumah perlahan, setiap hari. Tak perlu deep cleaning, bisa dengan merapikan sudut tertentu sekitar 10 menit saja. Dengan metode ini, membersihkan rumah tidak akan terasa sebagai hal yang membebani.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar kapan kondisi rumah berantakan sudah mengganggu kesehatan mental, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
kesehatan mentalmenjaga kesehatanpola hidup sehat
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/decluttering-our-house-to-cleanse-our-minds-5101511
Diakses pada 29 April 2021
Mind. https://www.mind.org.uk/information-support/types-of-mental-health-problems/hoarding/about-hoarding/
Diakses pada 29 April 2021
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/fulfillment-any-age/201705/5-reasons-why-clutter-disrupts-mental-health
Diakses pada 29 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait