Ruam Kulit Dipercaya Sebagai Gejala Covid-19 Terbaru

(14)
16 Jul 2020|Fadli Adzani
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Ruam kulit dipercaya sebagai gejala virus corona Covid-19 terbaru.Para peneliti percaya, ruam kulit bisa menjadi gejala awal virus corona Covid-19.
Sebuah penelitian dari King's College London, Inggris menemukan bukti bahwa ruam kulit dapat dianggap sebagai gejala terbaru virus corona Covid-19.
Para peneliti yang bekerja dalam studi tersebut juga merupakan orang-orang yang pertama kali menyebutkan kalau hilangnya fungsi indra penciuman dan perasa adalah gejala Covid-19.Sebelumnya, gejala utama virus corona terbagi menjadi tiga, yaitu demam, batuk terus-menerus, dan kehilangan kehampuan indra perasa atau penciuman.Kini, para ahli tersebut meyakini bahwa munculnya ruam kulit juga bisa menjadi gejala utama virus corona Covid-19 terbaru yang harus diwaspadai.

Bukti ruam kulit sebagai gejala Covid-19

Riset yang dirilis secara online di medRxiv itu didasari oleh data dari 336 ribu pengguna aplikasi COVID Symptom Study di Inggris.Melalui data tersebut, para peneliti dari King’s College London menemukan bahwa 8,8% orang yang positif mengidap Covid-19 mengalami kemunculan ruam pada kulitnya, dibandingkan dengan 5,4% orang yang tidak terjangkit virus corona.Hasil yang sama juga dirasakan oleh 8,2% pengguna yang belum melakukan tes virus corona, tapi telah memiliki gejala Covid-19 lainnya (batuk, demam tinggi, dan hilangnya fungsi indra penciuman).
Ruam kulit
Ruam kulit dipercaya sebagai gejala Covid-19 
Untuk memperkuat klaim ruam kulit sebagai gejala Covid-19, para peneliti tersebut juga melakukan survei online dan berhasil mengumpulkan 12 ribu foto dari penderita ruam kulit, maupun orang-orang yang dicurigai atau terkonfirmasi mengidap Covid-19.Sekitar 17% dari responden tersebut mengaku bahwa ruam kulit adalah gejala Covid-19 pertama yang mereka rasakan. Tidak hanya itu, 1 dari 5 orang (21%) responden yang mengaku mengidap ruam kulit ataupun telah terkonfirmasi Covid-19, menyatakan bahwa ruam kulit adalah satu-satunya gejala Covid-19 yang mereka alami.Menurut para ahli, terdapat tiga jenis ruam kulit yang dapat diasosiasikan dengan Covid-19:
  • Urtikaria

Urtikaria adalah jenis ruam kulit berwarna merah dan terasa gatal. Ukuran ruam kulitnya juga bervariasi.Urtikaria dapat terjadi di sseluruh tubuh, namun biasanya dimulai dengan gejala rasa gatal di telapak tangan dan kaki, kemudian pembengkakan pada bibir dan kelopak mata terjadi.Menurut para ahli, ruam kulit urtikaria dapat muncul di awal infeksi. Namun kondisi ini juga bisa bertahan lama setelahnya.
  • Biang keringat

Biang keringat juga termasuk dalam kategori ruam kulit yang diasosiasikan dengan Covid-19. Umumnya, biang keringat akan muncul di bagian siku, lutut, hingga bagian belakang tangan dan kaki.Ruam biang keringat ini dapat bertahan selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu.
  • Chilblains

Chilblains sebenarnya adalah kondisi bengkak akibat udara dingin. Namun ternyata, ruam kulit ini dianggap yang paling spesifik menyerang pasien Covid-19.Chilblains akan menyebabkan munculnya benjolan berwarna merah atau ungu pada jari tangan dan kaki. Jika disentuh akan terasa nyeri, namun tidak gatal.Chilblains biasanya menyerang pasien Covid-19 yang lebih muda. Umumnya, chilblains tidak langsung muncul sesaat pasien terjangkit virus corona.Salah satu peneliti utama dari riset tersebut menegaskan, banyak infeksi virus yang berdampak pada kulit. Jadi tidak heran kalau virus corona Covid-19 juga bisa mengakibatkan ruam kulit.
Ruam kulit
Ruam kulit harus diwaspadai sebagai gejala Covid-19
Ia juga menegaskan kepada masyarakat untuk tidak meremehkan ruam kulit yang muncul. Sebab, ruam kulit bisa menjadi gejala awal atau gejala satu-satunya Covid-19.Presiden Asosiasi Dermatologi Inggris mengatakan, mendokumentasikan gejala pada kulit sangatlah penting untuk mendeteksi virus corona pada orang tanpa gejala.

Catatan dari SehatQ:

Penelitian dari pihak King’s College London menjadi pengingat agar kita terus waspada terhadap setiap perubahan yang terjadi di tubuh. Tidak hanya batuk, sesak napas, demam tinggi, atau hilangnya fungsi indra penciuman saja. Perubahan pada kulit juga harus diwaspadai, karena bisa menjadi gejala Covid-19.Dengan kata lain, tetaplah menjaga protokol kesehatan dengan membatasi aktivitas di luar rumah, rajin mencuci tangan, menggunakan masker, hingga melakukan physical distancing, untuk menghindarkan Anda dari virus corona.
kesehatan kulitinfeksi virusruam kulitcoronavirus
News Sky. https://news.sky.com/story/coronavirus-skin-rash-can-be-only-covid-19-symptom-and-should-be-fourth-key-sign-study-finds-12029116
Diakses pada 16 Juli 2020
Standard. https://www.standard.co.uk/news/health/skin-rash-key-coronavirus-symptom-nhs-a4499476.html
Diakses pada 16 Juli 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chronic-hives/symptoms-causes/syc-20352719
Diakses pada 16 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait

Benarkah Gatal dan Bentol di Kulit Itu Tanda Alergi Dingin pada Anak?

Alergi udara dingin rentan terjadi pada anak kecil. Selain kulit gatal, apa lagi tanda alergi dingin dan bagaimana cara mengatasinya?
07 Mei 2019|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Benarkah Gatal dan Bentol di Kulit Itu Tanda Alergi Dingin pada Anak?

Virus Korona, Penyebab Sakit Misterius di Seluruh Dunia yang Bisa Menular Antarmanusia

Virus korona yang pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok, hingga saat ini masih mewabah di seluruh dunia. Sampai saat ini, belum ada vaksin yang bisa digunakan untuk mencegahnya.
21 Jan 2020|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Virus Korona, Penyebab Sakit Misterius di Seluruh Dunia yang Bisa Menular Antarmanusia

Apa itu Patogen dan Mengapa Berbahaya untuk Kesehatan?

Patogen mikroorganisme yang mampu menyebabkan penyakit. Mikroba ini dapat membuat kekebalan tubuh Anda menurun dan dapat menyebar melalui populasi manusia dengan berbagai cara. Pengobatan infeksi yang disebabkan bakteri patogen melibatkan penggunaan antibiotik.
20 Mar 2020|Dessy Diniyanti
Baca selengkapnya
Apa itu Patogen dan Mengapa Berbahaya untuk Kesehatan?