Rhinotillexomania, Kebiasaan Mengupil Berlebihan Hingga Membahayakan Diri


Kebiasaan mengorek hidung atau mengupil berlebihan hingga melukai diri sendiri disebut dengan rhinotillexomania. Berbeda dengan mengupil sesekali yang lazim dilakukan seseorang, kondisi ini disertai dengan obsesi sehingga cukup mengkhawatirkan.

0,0
17 Sep 2021|Azelia Trifiana
Obsesi mengupil yang berlebihanObsesi mengupil yang berlebihan
Kebiasaan mengorek hidung atau mengupil berlebihan hingga melukai diri sendiri disebut dengan rhinotillexomania. Berbeda dengan mengupil sesekali yang lazim dilakukan seseorang, kondisi ini disertai dengan obsesi sehingga cukup mengkhawatirkan.Selain itu, orang dengan rhinotillexomania juga bisa merasakan stres parah serta cemas berlebih. Terkadang, mereka juga melakukan kebiasaan seperti menggigit kuku.

Bahaya mengupil berlebihan

Orang tentu memiliki alasan mengapa mereka mengupil. Ketika merasa bosan, tegang, atau ingin mengambil kotoran. Masih termasuk wajar, mengorek hidung semacam ini tidak akan menimbulkan masalah apa-apa.Namun ketika termasuk rhinotillexomania, bahaya bisa saja terjadi. Dalam studi tahun 2001 terhadap 200 partisipan, sebanyak 17% mengaku mengalami masalah serius. Sementara 25% sisanya juga sesekali mengalami mimisan. Selain itu, rhinotillexomania juga kerap dikaitkan dengan masalah kesehatan mental seperti obsessive-compulsive disorder, kecemasan berlebih, dan masalah serupa seperti skin picking.Kebiasaan mengorek hidung disebut berbahaya apabila memenuhi kriteria berupa:
  • Menghabiskan sebagian besar waktu orang yang melakukannya
  • Beberapa kali mencoba menghentikan kebiasaan namun gagal
  • Berlangsung berulang sehingga menyebabkan cedera
  • Mengganggu kehidupan sehari-hari seseorang
Saking berbahayanya, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi seperti:
  • Mimisan
  • Infeksi pernapasan
  • Risiko mengalami infeksi sinus
  • Menjadi media penularan penyakit
  • Lubang di septum (tulang lunak di rongga hidung)
Kondisi mengupil berlebihan ini lebih sering ditemui pada anak-anak dan remaja yang beranjak dewasa.

Apa pemicunya?

Sama seperti kebanyakan gangguan kompulsif lainnya, tidak diketahui penyebab pasti terjadinya rhinotillexomania. Meski demikian, ada beberapa penjelasan yang mungkin menjadi jawaban mengapa kebiasaan mengorek hidung berlebihan ini terjadi:
  • Genetik

Bisa saja, orang yang memiliki kebiasaan rhinotillexomania juga punya riwayat genetik serupa. Mungkin di dalam keluarganya, ada juga perilaku berulang yang fokus pada salah satu bagian tubuh. Artinya, orangtua atau saudara kandung mungkin punya kebiasaan yang berkaitan dengan skin picking lainnya.
  • Cemas berlebih

Orang dengan kecemasan berlebih bisa saja melampiaskan kepanikan mereka dengan mengupil berlebihan. Biasanya, ini terjadi pada situasi yang memicu kecemasan agar bisa merasa lebih tenang.
  • Konsumsi obat

Beberapa jenis obat memiliki efek samping munculnya kebiasaan rhinotillexomania. Bahkan, bagi orang yang sebelumnya sama sekali tidak punya masalah dengan kebiasaan mengupil berlebihan. Contoh obat dengan potensi efek samping semacam ini adalah stimulan untuk mengobati ADHD.
  • Perubahan hormon

Terkadang, perubahan hormon pada perempuan juga bisa memicu munculnya rhinotillexomania. Bahkan, studi pada Juli 2018 ini menemukan bahwa kondisi bisa jadi kian parah saat perubahan hormon cukup ekstrem seperti saat menopause.Lebih jauh lagi, ada beberapa jenis gangguan rhinotillexomania. Ada yang merasa cukup puas dengan mengorek hidung menggunakan jari. Mereka cenderung membersihkan kotoran atau objek apapun yang ada di rongga hidung secara obsesif.Di sisi lain, ada pula orang dengan rhinotillexomania yang secara obsesif mencabut bulu hidung. Ini bisa dilakukan baik dengan jari maupun alat lain.

Cara penanganan mengupil berlebihan

Mengingat kebiasaan mengupil berlebihan bisa jadi berbahaya, maka orang dengan rhinotillexomania perlu mendapat penanganan. Umumnya, penanganan bergantung pada seberapa parah kondisi seseorang.Beberapa pilihan penanganan di antaranya:
  • Mekanik

Bagi beberapa orang dengan rhinotillexomania, memastikan tangan sibuk melakukan hal lain sudah cukup efektif untuk menghentikan kebiasaan. Contohnya dengan memegang alat seperti fidget spinner sehingga jari-jari tidak mengorek hidung setiap saat.
  • Terapi perilaku

Jenis terapi ini fokus membantu seseorang dalam mengganti perilaku negatifnya dengan yang positif. Seorang terapis akan mencari tahu apa penyebab seseorang mengorek hidung berebihan. Jika terjadi secara tiba-tiba, akan dicari tahu pula apa pemicunya.
  • Pemberian obat

Belum ada obat spesifik untuk mengobati rhinotillexomania. Namun apabila ini terjadi atas pengaruh masalah lain seperti OCD atau kecemasan berlebih, maka penanganan terhadap kondisi medisnya dapat membuat kebiasaan mengupil berlebihan mereda.Dengan penanganan yang tepat, rhinotillexomania dapat berkurang atau bahkan berhenti total. Jadi, sebaiknya orang yang mengalami hal ini terbuka dengan dokter atau terapis sehingga bisa tahu bagaimana penanganan yang tepat.

Catatan dari SehatQ

Apabila pemicu obsesi mengorek hidung adalah stres, maka cari tahu bagaimana cara berdamai dengan hal itu. Namun ketika tidak tahu bagaimana cara menghentikannya, langkah pertama adalah berbicara dengan pakar kesehatan mental.Penting untuk mendiskusikan hal ini bersama ahlinya karena apabila dibiarkan, mengupil berlebihan bisa membahayakan diri seseorang. Bahkan, risiko komplikasi seperti infeksi pernapasan atau septum berlubang juga tak terhindarkan.Untuk berdiskusi lebih lanjut bagaimana membedakan rhinotillexomania dan mengupil biasa, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
gangguan mentalkesehatan mentaladhd
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/rhinotillexomania-definition-causes-treatment-5194909
Diakses pada 3 September 2021
Psychiatry Research. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0165178118300891?via%3Dihub
Diakses pada 3 September 2021
The Journal of Clinical Psychiatry. https://www.psychiatrist.com/jcp/mental/child/preliminary-survey-rhinotillexomania-adolescent-sample/
Diakses pada 3 September 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait