Retikulosit adalah Sel Darah Merah Belum Matang, Ini Penyakit yang Berisiko Menyertainya


Retikulosit adalah sel darah merah yang belum matang, atau baru saja diproduksi oleh sumsum tulang dan diedarkan melalui aliran darah. Tes retikulosit pun penting dilakukan, untuk mendeteksi penyakit tertentu.

(0)
15 Dec 2020|Asni Harismi
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Retikulosit adalah sel darah merah yang baru diproduksi sumsum tulang dan belum matangRetikulosit adalah sel darah merah yang belum matang
Retikulosit adalah sel darah merah yang belum matang. Dengan kata lain, sel darah merah ini baru saja diproduksi oleh sumsum tulang dan diedarkan melalui aliran darah. Sekitar dua hari setelah produksi, retikulosit akan berubah menjadi sel darah merah matang yang mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.Jumlah retikulotis bisa juga lebih rendah atau lebih tinggi dari normal yang mungkin mengindikasikan penyakit tertentu. Dokter mungkin akan merekomendasikan tes tambahan untuk memastikan diagnosis penyakit yang dimaksud.

Retikulosit adalah sel darah merah yang juga bisa dihitung

Tes retikulosit dibutuhkan oleh penderita anemia
Dahulu, perhitungan retikulosit dipakai sebagai metode untuk mendiagnosis anemia. Namun kini, teknologi telah memungkinkan penggunaan tes retikulosit untuk mengetahui penyakit lain di dalam tubuh, terlepas dari ada atau tidaknya gejala anemia.Untuk menghitung jumlah retikulosit di dalam darah, sampel darah akan diambil dan diperiksa di laboratorium. Pada kebanyakan orang, jumlah retikulosit ialah sekitar 0,5-1,5% dari total sel darah yang terdeteksi dalam tes tersebut.Tidak sembarang orang akan direkomendasikan untuk melakukan tes ini. Mereka yang diprioritaskan untuk melakukan uji retikulosit adalah:
  • Orang yang diduga mengalami anemia tipe spesifik, yakni ketika jumlah sel darah merah di dalam tubuh lebih rendah dari normal
  • Pasien anemia, dengan tujuan mengetahui efektivitas pengobatan yang dijalaninya
  • Pasien kanker, terutama untuk mengetahui keberhasilan kemoterapi
  • Pasien yang baru saja menjalani transplantasi sumsum tulang, untuk memastikan sel darah merah diproduksi secara normal
Dokter akan menjelaskan prosedur tes retikulosit, termasuk efek samping yang mungkin akan Anda alami. Namun pada dasarnya, tes retikulosit adalah metode yang aman bagi sebagian besar orang, seperti halnya pengambilan sampel darah untuk keperluan lain.Salah satu hal yang harus diantisipasi adalah jika petugas medis yang mengambil sampel darah kesulitan menemukan pembuluh vena di tangan karena berbagai alasan. Hal ini akan membuat Anda merasakan tusukan jarum berkali-kali sehingga kadang menimbulkan nyeri atau memar setelahnya.

Penyakit yang bisa terlihat dengan tes retikulosit

Sirosis hati bisa dideteksi lewat tes retikulosit
Tujuan tes retikulosit adalah mengetahui jumlah sel darah merah belum matang yang ada di dalam darah. Jika jumlah retikulosit melebihi ambang batas normal, Anda berpotensi mengalami:

1. Anemia hemolitik

Anemia ini terjadi akibat sel darah merah matang lebih cepat hancur, sehingga produksi sel darah merah baru oleh sumsum tulang tidak bisa mencukupi kebutuhan tubuh akan komponen pengangkut oksigen ini.

2. Penyakit hemolitik (pada bayi)

Kondisi ini mengakibatkan tubuh bayi kesulitan mengangkut oksigen dari paru-paru ke organ dan jaringan lain.Sementara itu, kondisi yang ditandai dengan rendahnya level retikulosit adalah:
  • Anemia zat besi. Tipe anemia ini terjadi karena tubuh kurang mendapat asupan zat besi.
  • Anemia pernisiosa. Tipe anemia ini muncul akibat tubuh kekurangan beberapa jenis vitamin B (folat dan vitamin B12) atau ketika tubuh tidak mampu menyerap vitamin B secara normal.
  • Anemia aplastik. Tipe anemia ini terjadi saat sumsum tulang tidak mampu memproduksi sel darah merah dalam jumlah yang normal.
  • Gagal sumsum tulang. Kondisi ini mungkin terjadi jiak Anda menderita infeksi serius atau kanker.
  • Penyakit ginjal
  • Sirosis. Kondisi ini ditandai oleh luka pada organ hati yang menyebabkannya tidak bisa berfungsi secara normal.
Meskipun demikian, jumlah retikulosit yang lebih rendah atau lebih tinggi dari normal tidak selalu mengindikasikan penyakit. Pada ibu hamil, tingginya kadar retikulosit adalah hal yang lumrah dan biasanya akan kembali normal secara bertahap setelah melahirkan.Orang yang berada di dataran tinggi atau pegunungan juga relatif memiliki kadar retikulosit yang tinggi. Sebab, rendahnya level oksigen memaksa tubuh memproduksi lebih banyak sel darah merah. Mirip seperti kehamilan, kadar retikulosit akan kembali normal jika Anda berada di dataran rendah dengan kadar oksigen yang cukup.

Catatan dari SehatQ

Oleh karena itu, selalu komunikasikan dengan dokter mengenai hasil tes retikulosit yang Anda jalani. Jika memang ada abnormalitas dalam tubuh yang membuat kadar retikulosit naik atau turun secara drastis, dokter akan menentukan perawatan yang tepat sesuai kondisi Anda.Untuk mengetahui informasi lebih lanjut tentang retikulosit, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
sel darahsel keping darahsel darah putihsel darah merah
AAHA. https://www.aaha.org/publications/newstat/articles/2018-10/why-reticulocytes-can-be-a-great-early-indicator-that-something-is-wrong/
Diakses pada 1 Desember 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/reticulocyte-count
Diakses pada 1 Desember 2020
Medline Plus. https://medlineplus.gov/lab-tests/reticulocyte-count/
Diakses pada 1 Desember 2020
WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/reticulocyte-count-test
Diakses pada 1 Desember 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait