Remaja Tertarik Main Tinder? Ini yang Perlu Orangtua Lakukan


Aplikasi Tinder belum cocok untuk anak remaja. Berikan pemahaman kepada anak bahwa main Tinder bisa memberi celah bagi predator seksual.

(0)
14 Feb 2021|Azelia Trifiana
Tinder lebih cocok digunakan oleh orang dewasaTinder lebih cocok digunakan oleh orang dewasa
Swipe kanan, swipe kiri. Fenomena main Tinder berkembang kian jauh. Tak hanya dilakukan orang dewasa, remaja pun bisa memanipulasi usia mereka untuk membuat akun meski masih berusia di bawah 18 tahun.Bahkan ketika anak remaja Anda sudah memenuhi syarat usia pun, ingatlah bahwa ada beberapa kontroversi seputar aplikasi kencan online semacam ini. Lagi-lagi, untuk bisa mengawasinya, orangtua tak bisa sekadar bernasihat. Harus ikut terjun dan menyelam sekalian.

Fenomena remaja main Tinder

Tinder merupakan aplikasi kencan online yang berisi profil laki-laki dan perempuan. Dalam hitungan menit, penggunanya memiliki akses ke foto orang lain yang berada di sekitar areanya.Kemudian, foto akan ditampilkan satu persatu. Swipe left jika merasa tidak tertarik, sebaliknya coba swipe right apabila tertarik untuk mengenal lebih jauh.Pengguna akan mendapat notifikasi apabila ada orang yang swipe right saat melihat foto mereka. Perkenalan awal ini bisa berlanjut ke saling bertukar pesan di kolom chat hingga sepakat untuk bertemu.Di sinilah risiko menghantui. Utamanya, bagi anak remaja.Kita tidak pernah tahu siapa yang ada di balik foto profil seseorang di Tinder. Bisa jadi, foto itu milik orang lain. Deskripsi profilnya pun bisa saja hanya angan-angan.Ditambah lagi, chat dengan akun yang ada di Tinder bisa menjadi begitu manipulatif. Lontaran kalimat demi kalimat yang membuai bisa saja membuat orang dewasa terlena, terlebih anak remaja yang prefrontal cortex atau otak bagian depannya belum berkembang sempurna, bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan rasional.Sayangnya, risiko semacam ini masih kurang digaungkan dibandingkan dengan popularitas aplikasinya. Rasa senang dan antusias secara instan yang diperoleh ketika bertemu “match” bisa membuat ketagihan.Apalagi, Tinder semakin membuai karena notifikasi hanya muncul ketika ada orang yang swipe right. Tidak ada notifikasi serupa apabila orang melakukan swipe left ke profil Anda. Artinya, Tinder seakan tidak memberi ruang untuk rasa “ditolak”.

Apa risikonya?

Aplikasi parental control berupa Qustudio menyebut Tinder sebagai aplikasi terburuk untuk remaja, bukan tanpa alasan. Beberapa risiko lain yang mengintai di antaranya:
  • Ancaman predator

Aplikasi dating online ini adalah lahan empuk bagi predator untuk mencari remaja-remaja polos. Utamanya, remaja di bawah usia yang masih mudah percaya pada orang lain.
  • Privasi terenggut

Cara kerja aplikasi ini adalah memungkinkan orang saling mencari satu sama lain, ketika berada di jarak yang dekat. Artinya, mudah sekali menemukan di mana lokasi anak remaja Anda. Bahkan, lokasi bisa dikenali dari foto profil mereka.
  • Penipuan

Jangan lupakan juga ancaman penipuan dari orang asing. Ketika mulai akrab, mereka akan mengirimkan tautan yang apabila di­-click akan membocorkan informasi pribadi penggunanya.
  • Bertemu langsung

Ajakan dan bujuk rayu predator bisa membuat remaja terperdaya dan mau bertemu di tempat yang private. Alasannya untuk berkenalan lebih jauh hingga sekadar ngobrol. Padahal, ini sangat berisiko.
  • Pergaulan bebas

Aplikasi ini juga disebut sebagai tempat orang mencari kepuasan one night stand alias pergaulan bebas. Artinya, ini bukan tempat untuk anak remaja Anda memperluas pertemanan mereka.

Lalu, apa yang harus dilakukan orangtua?

Langkah pertama untuk mencegah anak remaja Anda terjerat dalam jebakan predator di Tinder adalah dengan membicarakannya. Diskusikan apa saja risiko yang bisa terjadi apabila anak Anda bertemu dengan orang asing yang dikenal lewat Tinder.Paparkan analogi yang mudah dimengerti. Bisa juga dengan memberikan contoh kasus seperti yang ramai diperbincangkan pada awal tahun 2021, fenomena si @aliskamugemas.Jangan hanya menggurui anak, biarkan mereka mengungkapkan pendapatnya tentang aplikasi ini. Dengarkan dengan pikiran terbuka dan tanpa keberpihakan. Dengan demikian, anak Anda dengan senang hati akan memaparkan pendapat bahkan mungkin pengalaman mereka ketika menggunakan Tinder.Kemudian setelah sama-sama paham tentang risikonya, buat aturan tentang penggunaan aplikasi semacam ini. Paparkan alasan mengapa akan jauh lebih baik mencari pertemanan lewat cara lain, bukan di aplikasi kencan online semacam Tinder.Teknologi tidak akan berhenti sampai di situ. Nantinya, akan ada jenis Tinder-Tinder lainnya yang bisa tampak menggiurkan dari luar, namun sama-sama berisiko.

Jangan lupa ajarkan tentang pendidikan seksual kepada anak sejak dini. Buat mereka paham bahwa pertemuan dengan orang lain bisa berujung pada ajakan seks paksa dan akibat-akibat apa yang mengintai seperti tertular infeksi menular seksual hingga hamil.Tak usah menganggap tabu hal-hal semacam ini. Remaja berhak tahu apa yang berbahaya di luar sana.Tugas orangtua adalah memaparkan apa saja yang mungkin terjadi sembari membimbing mereka mengambil keputusan rasional.Untuk berdiskusi lebih lanjut tentang langkah proaktif dalam melindungi anak dari predator seksual, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
tips parentinggaya parentingpola hidup sehat
Verywell Family. https://www.verywellfamily.com/what-every-parent-needs-to-know-about-tinder-2609052
Diakses pada 27 Januari 2021
Teen Vogue. https://www.teenvogue.com/story/tinder-unsafe-for-teens
Diakses pada 27 Januari 2021
Parent Info. https://parentinfo.org/article/teens-on-tinder
Diakses pada 27 Januari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait