Refeeding Syndrome, Perubahan Metabolisme Tubuh yang Membahayakan Pasien Gizi Buruk


Refeeding syndrome adalah kondisi perubahan metabolisme tubuh saat pengenalan makanan kembali pada penderita malnutrisi. Kondisi ini bisa menyebabkan kelelahan, kejang, gagal jantung, hingga kematian pada penderitanya.

0,0
Refeeding syndrome adalah kondisi perubahan metabolisme tubuh saat pengenalan makanan kembali pada penderita malnutrisiRefeeding syndrome akan menyebabkan penderitanya kelelahan, lemas, bahkan sulit bernapas
Pada penderita kondisi-kondisi seperti malnutrisi, gangguan makan, maupun kelaparan parah, konsumsi makanan tambahan dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan gizi dan nutrisi mereka.  Proses memperkenalkan kembali makanan ini dikenal dengan istilah refeeding.Meski begitu, proses refeeding harus dilakukan secara hati-hati dan bertahap. Jika dilakukan secara asal-asalan, tindakan tersebut berpotensi menyebabkan kondisi berbahaya bernama refeeding syndrome.

Apa itu refeeding syndrome?

Refeeding syndrome adalah kondisi saat proses pengenalan kembali makanan pada penderita malnutrisi, gangguan makan, dan kelaparan parah yang dilakukan terlalu cepat. Kondisi ini memicu pergeseran cairan dan elektrolit yang membantu tubuh dalam proses metabolisme makanan.Kekurangan makanan yang terjadi sebelumnya mengubah cara tubuh dalam memproses nutrisi. Sebagai contoh, minimnya konsumsi karbohidrat membuat sekresi insulin melambat. Tubuh kemudian akan beralih ke simpanan lemak dan protein untuk menjadi sumber energi. Seiring waktu berjalan, kondisi tersebut akan menghabiskan simpanan fosfat, elektrolit yang membantu sel untuk mengubah glukosa menjadi energi.Saat proses refeeding, akan terjadi perubahan mendadak dari metabolisme lemak dan protein kembali ke karbohidrat. Hasilnya, sekresi insulin pun meningkat. Sel dalam tubuh Anda memerlukan elektrolit seperti fosfat untuk mengubah glukosa menjadi energi, namun jumlahnya sangat terbatas. Hal itu memicu hipofosfatemia, yang berkontribusi pada refeeding syndrome.Perubahan metabolisme yang dapat terjadi akibat refeeding syndrome, antara ain:
  • Defisiensi tiamin
  • Hipokalemia (kadar kalium rendah)
  • Hipofosfatemia (kadar fosfat rendah)
  • Hipomagnesemia (kadar magnesium rendah)
  • Perubahan metabolisme lemak, glukosa, dan protein
  • Tidak normalnya kadar natrium dan cairan dalam tubuh

Tanda-tanda mengalami refeeding syndrome

Refeeding syndrome dapat memicu kemunculan sejumlah gejala pada penderitanya, mulai dari yang ringan hingga berat. Dalam beberapa kasus, kondisi ini bahkan berpotensi untuk membuat penderitanya meninggal dunia.Berikut ini sejumlah gejala yang menjadi tanda refeeding syndrome:
  • Kelelahan
  • Perasaan bingung
  • Tubuh terasa lemas
  • Kesulitan bernapas
  • Meningkatnya tekanan darah
  • Kejang
  • Aritmia (gangguan pada irama jantung)
  • Gagal jantung
  • Koma
  • Kematian
Jika Anda merasakan kemunculan gejala yang mengarah pada refeeding syndrome selama proses pengenalan kembali makanan, segeralah berkonsultasi ke dokter. Langkah tersebut penting dilakukan untuk mencegah kondisi bertambah parah.

Siapa saja yang berisiko mengalami refeeding syndrome?

Refeeding syndrome biasanya terjadi pada orang-orang yang kekurangan gizi atau membatasi asupan makanan tubuh mereka secara berlebihan. Anda berisiko mengalami kondisi ini apabila:
  • Memiliki masa indeks massa tubuh (BMI) di bawah 16
  • Kehilangan lebih dari 15 persen berat badan dalam 3 hingga 6 bulan terakhir
  • Hasil tes darah menunjukkan rendahnya kadar fosfat, kalium, dan magnesium
  • Mengonsumsi sedikit makanan atau jumlah kalori di bawah rata-rata selama lebih dari 10 hari berturut-turut
  • Menderita kondisi seperti anoreksia nervosa, kanker, malnutrisi, hingga diabetes yang tak terkendali
Apabila Anda termasuk salah satunya, segera periksakan kondisi Anda. Dengan begitu, Anda bisa mencegah refeeding syndrome sedari awal.

Bagaimana cara mengatasi refeeding syndrome?

Refeeding syndrome adalah masalah kesehatan yang sangat serius. Komplikasi penyakit akibat kondisi ini dapat muncul secara tiba-tiba. Maka dari itu, penderitanya memerlukan pengawasan dan perawatan medis di rumah sakit.Hingga saat ini, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan cara terbaik dalam mengatasi refeeding syndrome. Perawatan biasanya melibatkan penggantian elektrolit esensial terpengaruh, yang terus dipantau melalui tes darah rutin.Selain  itu, proses refeeding juga akan diperlambat. Penambahan kalori akan dilakukan secara bertahap dengan rata-rata 20 kalori per kilogram berat badan, atau sekitar 1.000 kalori per hari pada tahap awal.

Catatan dari SehatQ

Refeeding syndrome adalah kondisi ketika terjadi pergeseran elektrolit yang membantu proses metabolisme nutrisi selama proses refeeding. Kondisi ini bisa menyebabkan kelelahan, kejang, gagal jantung, hingga kematian pada penderitanya.Untuk menanganinya, perawatan medis sangatlah dibutuhkan. Segeralah berkonsultasi dengan dokter jika merasakan kemunculan sejumlah gejala yang mengarah pada sindrom berbahaya ini untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.Apabila Anda memiliki pertanyaan seputar masalah kesehatan, Anda bisa bertanya langsung dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh aplikasi SehatQ sekarang di App Store atau Google Play.
gizi burukmalnutrisi
Healthline. https://www.healthline.com/health/refeeding-syndrome
Diakses pada 8 September 2021
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2440847/
Diakses pada 8 September 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait