Rasisme adalah Pola Pikir Negatif dengan Sederet Dampak Negatif Bagi Kesehatan


Rasisme adalah paham negatif yang menganggap suatu ras lebih unggul dibanding yang lainnya. Pola pikir ini pun berdampak buruk bagi kesehatan. Apa saja efek buruknya?

(0)
19 Dec 2020|Asni Harismi
Rasisme adalah pemikiran negatif yang menganggap ras tertentu paling baikRasisme adalah pandangan yang menganggap suatu ras paling baik
Rasisme adalah isu sensitif yang sayangnya masih banyak terjadi di negara dengan beragam latar belakang budaya. Pembahasan mengenai ras sendiri merupakan salah satu dari 4 hal yang sebaiknya tidak disinggung oleh masyarakat selain suku, agama, dan antargolongan.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, rasisme alias rasialisme adalah prasangka seseorang berdasarkan keturunan bangsanya atau paham bahwa ras sendiri adalah ras yang paling unggul. Prasangka atau paham ini mengakibatkan seseorang memperlakukan orang lain yang rasnya berbeda dengan tidak adil alias berat sebelah.

Rasisme adalah prasangka yang berujung pada gangguan kesehatan ini 

Korban rasisme berisiko memiliki keinginan bunuh diri
Sudah banyak penelitian yang mengatakan bahwa rasisme adalah tindakan yang dapat memperburuk kondisi fisik dan mental korbannya. Dari segi kesehatan fisik, orang yang sering menjadi korban tindakan rasisme berpotensi mengalami stres yang bila berkepanjangan, akan merusak tubuh dengan meningkatkan risiko beberapa penyakit, antara lain:

1. Hipertensi

Berdasarkan data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), orang yang sering menjadi korban rasisme berpotensi lebih besar mengalami tekanan darah tinggi alias hipertensi akibat stres.

2. Penyakit akibat pola hidup tidak sehat

Stres akibat menjadi korban rasisme bisa berujung pada pola hidup tidak sehat, seperti merokok, mengonsumsi alkohol secara berlebihan, penyalahgunaan narkoba, dan lain-lain.

3. Peradangan internal

Sebuah penelitian juga menemukan bahwa para korban rasisme lebih rentan mengalami peradangan internal yang menaikkan kemungkinan mengalami penyakit kronis, seperti sakit jantung dan gangguan ginjal.

4. Gangguan tidur

Kondisi fisik lain yang terjadi pada korban rasisme adalah gangguan tidur serta masalah fungsi psikologis, terutama pada korban usia separuh baya.Selain memengaruhi fisik, rasisme juga berisiko menggangu kesehatan mental para korban. Suatu riset menunjukkan, beberapa masalah mental yang biasanya dialami korban rasisme adalah:
  • Stres
  • Depresi
  • Kondisi emosi yang tidak stabil
  • Gangguan kecemasan
  • Gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stess disorder (PTSD)
  • Keinginan untuk bunuh diri
Rasisme adalah isu yang serius karena dapat mematikan harapan, motivasi, dan ketangguhan seseorang dalam menjalani hidup. Risiko-risiko di atas bisa muncul ketika tindakan rasisme yang diterima korban berbentuk verbal maupun fisik.

Bagaimana cara mencegah rasisme?

Ajarkan keragaman masyarakat pada anak
Banyak hal dapat mengakibatkan munculnya atau bertahannya rasisme di tengah masyarakat, salah satunya adalah stereotype yang muncul turun-temurun. Stereotype kemudian bisa menimbulkanS faksi, yakni kelompok eksklusif yang merasa harus memusuhi orang-orang yang berada di luar kelompok tersebut.Meskipun demikian, belum terlambat bagi Anda untuk melakukan serangkaian langkah pencegahan agar rasisme bisa diminimalisir keberadaannya. Tindakan preventif untuk mencegah berkembangnya rasisme adalah dengan:
  • Mengajarkan anak tentang perbedaan ras yang ada di masyarakat serta sikap yang harus ia tunjukkan pada orang-orang yang berbeda darinya. Pengajaran ini harus dimulai sedini mungkin.
  • Tidak berdiam diri saat melihat orang yang menjadi korban rasisme. Lindungi atau kalau bisa bela dia di depan perisak tersebut.
  • Berteman tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan.
  • Menjalani aktivitas bersama dengan orang yang memiliki ras berbeda.
  • Merancang kurikulum pembelajaran yang menekankan indahnya kebersamaan antargolongan atau ras, jika Anda bekerja sebagai pengajar maupun pendidik
  • Memilih pemimpin berdasarkan kompetensi, bukan ras. Sebab, orang dengan ras minoritas pun punya hak politik yang sama dengan mereka yang mayoritas.
Tidak mudah mengubah pandangan orang tentang ras tertentu. Demikian pula halnya dengan isu rasisme yang tidak akan hilang dalam waktu singkat.Akan tetapi, setidaknya Anda punya peran dalam mencegah generasi mendatang memiliki pola pikir negatif yang sama. Dengan demikian, rasisme diharapkan tidak terlalu berkembang di masa mendatang lewat penerapan langkah-langkah kecil di atas.

Catatan dari SehatQ

Apabila Anda pernah menjadi korban rasisme, atau mengenal orang dengan kondisi serupa, ada baiknya berkonsultasi dengan psikolog maupun psikiater. Anda bisa melakukan booking secara online di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di .Selain itu, Anda juga melaporkan pelaku pada pihak berwenang. Sebab, diskriminasi terhadap ras dan etnis, melanggar Undang-Undang No. 40 Tahun 2008.
gangguan mentalkesehatan mentalmasalah kejiwaanpenyakit kejiwaanbullying
KBBI. https://kbbi.web.id/rasialisme
Diakses pada 8 Desember 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/effects-of-racism
Diakses pada 8 Desember 2020
Very Well Mind. https://www.verywellmind.com/the-psychology-of-racism-5070459
Diakses pada 8 Desember 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health-news/racism-is-a-health-crisis-why-arent-we-treating-it-like-one
Diakses pada 8 Desember 2020
Kementerian Keuangan RI. https://jdih.kemenkeu.go.id/fulltext/2008/40tahun2008uu.htm
Diakses pada 9 Desember 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)
0

Artikel Terkait