Quarter Life Crisis, Ketika Impian Tak Sejalan dengan Kenyataan

Quarter life crisis bisa ditandai dengan rasa terpuruk
Rasa terpuruk bisa menjadi gejala quarter life crisis

Orang yang masih muda mungkin pernah merasa kehidupannya berjalan begitu-gitu saja. Tak jarang mereka merasa hilang arah dan tak punya tujuan hidup, apalagi ekspektasi keluarga bertentangan dengan idealisme diri.

Karier pun mungkin tak berjalan semulus yang dibayangkan saat masa kuliah serta beragam dilema lainnya. Jika Anda merasakan satu atau beberapa hal tersebut, ada kemungkinan Anda tengah mengalami quarter life crisis atau krisis seperempat abad.

Apa itu quarter life crisis?

Quarter life crisis adalah periode ketika seseorang merasa cemas saat menapakkan kaki menuju kehidupan dewasa. Krisis ini umumnya muncul pada rentang usia pertengahan 20-an hingga awal 30-an ketika orang baru lulus kuliah atau mulai masuk dunia kerja.

Kaum muda yang mengalami krisis seperempat abad bisa merasakan kebingungan, rendah diri, bahkan tidak punya tujuan hidup. Memikirkan masa depan seolah seperti merangkul gulungan kecemasan.

Dengan banyaknya tekanan dari diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, orang yang mengalami krisis ini berusaha untuk menciptakan identitas yang bermakna serta sesuai dengan harapan.

Apa saja hal-hal yang memicu quarter life crisis?

Selepas dari bangku kuliah dan mulai bekerja, seseorang mulai dihadapkan pada banyak pilihan dan pertanyaan. Sering kali, orang bingung dan bertanya-tanya:

  • Apa ia harus mengikuti idealisme atau menjalani hidup yang dianggap ‘normal’ oleh keluarga dan masyarakat?
  • Apakah perlu melanjutkan sekolah lagi, traveling selama beberapa waktu, ataukah segera mencari kerja seperti yang diharapkan oleh orang tua?
  • Apakah seluruh hidupnya harus dihabiskan untuk bekerja sampai malam dan menyisihkan impian lainnya?
  • Ingin keluar dari zona nyaman, namun tidak tahu harus mulai dari mana?
  • Belum lagi kecemasan kalau pilihannya ternyata tidak semulus yang dibayangkan.
  • Bagaimana jika kariernya jalan di tempat dan tidak semapan teman-teman lain yang sudah menjadi manager atau mencapai posisi tinggi lainnya?

Quarter life crisis juga membuat orang merasa tak aman dalam soal hubungan asmara. Mendengar beberapa teman sudah menikah dan memiliki anak sementara Anda sendiri masih lajang, bisa memunculkan kegamangan.

Anda mungkin menjadi merasa gagal atau ketinggalan jauh. Terlebih jika Anda diberatkan oleh harapan keluarga untuk cepat-cepat mencari pendamping.

Benturan antara impian yang tak sejalan dengan kenyataan serta gejolak ketidakpastian akan masa depan, membuat orang terjebak dalam lingkaran krisis seperempat abad.

Adakah cara menghadapi quarter life crisis?

Memasuki kehidupan dewasa, semua orang mulai membangun mimpi dan ambisi. Tapi manusia terkadang tidak realistis.

Orang menuntut segala yang ia impikan harus berjalan beriringan dengan kenyataan. Jika tidak sesuai harapan, muncullah rasa cemas akan masa depan yang berujung pada quarter life crisis.

Terlebih lagi di era media sosial sekarang yang membuat Anda mudah untuk membandingkan hidup dengan orang lain. Pada akhirnya, Anda jadi semakin tidak tenang karena selalu merasa ada yang kurang.

Jadi bagaimanakah cara menghadapi gejolak masa transisi menuju orang dewasa tersebut?

  • Tidak ada kata terlambat

Percayalah bahwa tiap orang punya ‘zona waktunya’ masing-masing. Anda mungkin iri saat melihat orang seumuran Anda sudah sukses dan mapan.

Tapi apakah Anda tahu bahwa mereka sebenarnya juga memiliki kekhawatiran dan keraguan yang sama dengan Anda?

Tidak ada kata terlambat selagi Anda terus belajar dan memperbaiki diri. Peluang dan kesuksesan tidak mengenal batas usia.

  • Gali potensi diri

Temukan dan kembangkan potensi diri Anda. Caranya adalah dengan mengenali apa saja hal-hal yang Anda senang lakukan atau kepandaian Anda.

Jika Anda merasa kesulitan, cobalah minta bantuan pada keluarga atau teman terdekat untuk menilai kelebihan dan kekurangan pada diri Anda.

  • Buat catatan berisi hal-hal yang disyukuri

Mencatat hal-hal yang patut disyukuri setiap harinya tidak hanya dapat membuat Anda lebih tenang. Hal ini juga akan membuka mata Anda mengenai apa yang sebenarnya Anda inginkan dalam hidup.

Pada dasarnya, terus berkutat dengan kelemahan diri hanya akan membuat Anda merasa terjebak dan sulit melihat gambaran besar dari persoalan Anda.

Quarter life crisis termasuk hal yang lumrah selama masa transisi menuju kehidupan dewasa. Jika Anda belum tahu apa yang Anda sebenarnya inginkan, tidak perlu merasa gagal dan rendah diri. Tidak semua hal harus terjawab sekarang, bukan?

Anda juga perlu bersikap lebih fleksibel karena selalu ada kemungkinan yang bisa terjadi. Yang penting, Anda terus berjalan dan berusaha. Pasalnya, tiap hal membutuhkan proses. Ingat pula bahwa tidak ada kata terlalu cepat atau terlalu lambat untuk menjadi apa yang Anda inginkan.

Namun jika quarter life crisis memicu rasa cemas yang parah hingga mengganggu rutinintas, Anda sebaiknya memeriksakan diri ke psikolog atau psikiater. Dengan ini, Anda akan mendapatkan konseling serta penanganan yang tepat.

Net Doctor. https://www.netdoctor.co.uk/healthy-living/mental-health/a27715/quarter-life-crisis/
Diakses pada 31 Maret 2020

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-gen-y-guide/201512/quarter-life-crises-5-steps-stop-floundering
Diakses pada 31 Maret 2020

Artikel Terkait