Memiliki Kebiasaan Pura-Pura Sakit? Hati-Hati Sindrom Munchausen


Pura-pura sakit yang dilakukan secara terus menerus bisa jadi tanda Sindrom Munchausen. Sindrom pura-pura sakit adalah kelainan psikologis yang ditandai dengan seseorang dengan sengaja dan sering menciptakan tanda-tanda palsu.

(0)
13 Jun 2019|Asni Harismi
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Pura-pura sakit atau sindrom MunchausenTerlalu sering pura-pura sakit bisa menjadi pertanda gangguan mental bernama sindrom Munchausen.
Apakah Anda sering pura-pura sakit demi mencuri perhatian orang? Jika jawabannya "ya", Anda mungkin mengidap gangguan jiwa yang dinamakan sindrom Munchausen.Sindrom Munchausen adalah kelainan psikologis yang ditandai dengan seseorang dengan sengaja dan sering menciptakan tanda-tanda palsu bahwa mereka tengah sakit. Tujuannya semata-mata untuk mencari perhatian atau ingin dikasihani.Penderita Munchausen Syndrome sering kali menunjukkan tanda-tanda seperti, berbohong dengan berpura-pura mengalami gejala tertentu. Bahkan, untuk meyakinkan sakit yang dialaminya, penderita sindom ini bisa menyakiti diri sendiri atau sengaja memanipulasi hasil pemeriksaan.[[artikel-terkait]]Penyebab sindrom ini sangat banyak. Beberapa diantaranya adalah trauma masa kecil, gangguan kepribadian, dan memiliki dendam tertentu dengan tokoh kesehatan.Tapi apa semua semua orang yang bersandirawa sakit pasti menderita sindrom tersebut? Ketahui ciri-cirinya secara detail di sini!

Gejala sindrom pura-pura sakit alias sindrom Munchausen

Tidak semua orang yang senang bersandiwara sakit pasti mengidap sindrom Munchausen. Untuk lebih jelasnya, mari simak pura-pura sakit seperti apa yang termasuk gejala sindrom ini.
  • Pura-pura mengalami sakit secara fisik, misalnya mengeluhkan sakit pada perut, nyeri pada dada, maupun sakit di bagian tubuh lainnya. Perilaku ini paling sering ditunjukkan oleh penderita sindrom Munchausen.
  • Pura-pura mengalami gangguan mental. Penderita akan bertingkah seolah-olah mampu mendengar suara-suara gaib atau melihat hal-hal tidak kasatmata.
  • Sengaja membuat dirinya sakit, misalnya minum obat atau senyawa kimia tertentu agar sakit perut maupun menggosok luka dengan tanah agar infeksi.
  • Memiliki riwayat penyakit yang dramatis, tapi tidak konsisten.
  • Mengalami gejala penyakit yang tidak jelas, bahkan bisa bertambah parah seiring dilakukannya tindakan pengobatan terhadap gejala tersebut.
  • Munculnya gejala baru. Tapi ketika dilakukan  tes laboratorium, hasilnya negatif.
  • Memperlihatkan gejala penyakit hanya ketika sedang diperiksa maupun sedang bersama orang lain.
  • Mengaku penyakitnya kambuh, padahal kondisinya tampak sudah semakin sehat
  • Memiliki pengetahuan luas tentang istilah medis, misalnya deksripsi penyakit maupun obat.
  • Memiliki beberapa bekas luka operasi.
  • Sangat antusias ketika disarankan menjalani operasi. Mereka bahkan tidak segan meminta untuk dioperasi sekalipun tahu bahwa hal ini tidak diperlukan dan justru dapat membahayakan nyawa mereka.
  • Memiliki riwayat mengunjungi dokter atau rumah sakit yang berbeda-beda, bahkan hingga rumah sakit di luar kota atau di luar negeri.
  • Memiliki kepercayaan diri yang rendah.
  • Enggan mempertemukan dokter dengan orangtua, pasangan, kerabat, atau dokter yang pernah merawatnya.
Dokter maupun tenaga medis lain bisa saja tertipu oleh sandiwara penderita hingga akhirnya menyetujui permintaan mereka. Pasalnya, pengidap sindrom ini sangat manipulatif.Umumnya, ketika kebohongannya terbongkar dan ketahuan oleh dokter atau pihak rumah sakit, penderita akan langsung angkat kaki. Setelah itu, mereka akan mencari rumah sakit lain untuk mengulangi tindakan yang sama.

Apa sindrom Munchausen bisa disembuhkan?

Sekalipun ingin sembuh, penderita sindrom Munchausen tidak akan bisa menahan diri untuk terus berpura-pura. Mereka juga terkenal manipulatif dan suka berbohong.Selain itu, tidak ada obat yang bisa menyembuhkan gangguan mental tersebut. Namun dokter mungkin akan meresepkan obat antidepresan untuk mengurangi kecemasan maupun rasa khawatir berlebihan bila memang itu sumber dan penyebab munculnya kelainan mental ini.Satu-satunya jalan untuk meredakan gejala sindrom Munchausen ialah dengan mengandalkan terapi dari psikiater maupun psikolog berlisensi. Meski tidak ada standar baku untuk pengobatan sindrom ini, terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy/CBT) terbukti efektif dalam membantu meringankan gejala pada penderita.
gangguan mentalgangguan kepribadiansindrom munchausen
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/munchausens-syndrome/
Diakses pada 9 Mei 2019
WebMD. https://www.webmd.com/mental-health/munchausen-syndrome#1
Diakses pada 9 Mei 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait