Orang yang memiliki kecenderungan agresif ternyata memiliki cara kerja otak yang berbeda
Perilaku agresi yang sering dilihat dalam aksi unjuk rasa berpotensi membahayakan orang lain.

Pemilu tahun ini memang terasa lebih rumit jika dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Hal ini bisa kita rasakan dengan mudah, cukup hanya dengan melihat keadaan media sosial akhir-akhir ini. Pasukan netizen dari kedua kubu saling menyerang satu sama lain. Mereka dengan santainya melontarkan cacian, bahkan menyerukan kekerasan.

Tanggal 22 Mei 2019 lalu, kita menyaksikan beberapa aksi kericuhan di Jakarta pasca demo. Aksi massa yang ingin menyampaikan aspirasinya ke Bawaslu, diakhiri dengan kerusuhan akibat ulah beberapa oknum.

Banyak warga Jakarta yang terkena imbasnya. Lini masa media sosial penuh dengan kicauan yang mempertanyakan alasan mengapa sebagian oknum malah menebarkan teror dan kekerasan di bulan Ramadhan yang seharusnya penuh kedamaian ini.

Jawabannya mungkin ada pada cara kerja otak mereka yang berbeda. Dalam sebuah kajian, para ilmuwan menguak bagaimana cara kerja otak orang yang agresif, serta menghubungkan perilaku agresif impulsif dengan ketidakseimbangan substansi saraf dan kelainan pada bagian otak yang mengontrol fungsi luhur.

Agresi pada konteks ini didefinisikan sebagai perilaku yang berpotensi membahayakan, mencederai, atau merusak, seringkali disebabkan oleh rasa frustrasi, baik secara individual ataupun kolektif.

Serotonin dan agresi

Serotonin adalah neurotransmiter yang berperan dalam mengatur emosi dan perilaku, termasuk menghambat agresi. Kadar serotonin yang rendah berhubungan dengan perilaku agresif yang impulsif. Penelitian menunjukkan semakin rendah kadar serotonin seseorang, semakin agresif perilakunya.

Dopamin dan agresi

Sama halnya dengan serotonin, dopamin juga mengatur perilaku agresif manusia. Namun sebaliknya, peningkatan dopamin berperan dalam memicu perilaku agresif impulsif.

Serotonin dan dopamin bekerja bersama-sama. Jika kadar serotonin rendah, maka akan terjadi hiperaktivitas sistem dopamin, lalu berujung pada agresi impulsif.

Kelainan pada otak

Studi menunjukkan pada orang yang agresif impulsif terjadi ketidakseimbangan antara kerja amigdala dengan prefrontal korteks. Prefrontal korteks adalah bagian otak manusia yang berfungsi untuk mengatur perilaku sosial dan agresi.

Gangguan pada bagian otak ini menyebabkan seseorang tidak dapat menunjukkan emosi yang sesuai dalam menanggapi stimulus dan berdampak pada perilakunya. Menghadapi stimulus yang memicu rasa marah, otak prefrontal manusia harusnya bekerja sebagai sistem kontrol. Namun jika proses ini terganggu, seseorang dapat menunjukkan perilaku yang agresif dan tidak pantas secara sosial, atau bahkan menimbulkan kerusakan pada diri sendiri dan orang lain.

Studi neuroimaging yang menggambarkan fungsi otak manusia menunjukkan aktivitas berlebih dari amigdala (pusat emosi pada otak manusia) akan meningkatkan risiko munculnya perilaku yang agresif, jika tidak disertai dengan regulasi dari prefrontal korteks,. 

Agresi sesungguhnya merupakan mekanisme manusia untuk bertahan hidup, untuk menghadapai ancaman. Namun jika agresi terjadi berlebihan dan berujung pada kekerasan, tentunya secara sosial tidak dapat diterima. Dengan memahami cara otak bekerja dalam menghadapi stimulus pemicu agresi, diharapkan akan ditemukan cara untuk mengidentifikasi individu yang rentan dan terapi yang dapat mencegah perilaku agresi.

Siever LJ. Neurobiology of aggression and violence. Am J Psychiatry. 2008; 165(4): 429-442. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4176893/
Diakses pada Mei 2019

Seo D, Patrick CJ. Role of serotonin and dopamine system interactions in the neurobiology of impulsive aggression and its comorbidity with other clinical disorders. Aggress Violeng Behav. 2008; 13(5): 383-395. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2612120/
Diakses pada Mei 2019

Giotakos O. Aggresive behavior: theoretical and biological aspects. Psychiatriki. 2013; 24(2):117-31. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/24200542
Diakses pada Mei 2019

Widmayer S, Borgwardt S, Lang UE, et al. Functional neuroimaging correlates of aggression in psychosis: a systematic review with recommendations for future research. Front Psychiatry. 2018; 9:777. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6370727/
Diakses pada Mei 2019

Brainfacts. http://www.brainfacts.org/Archives/2008/Aggression-and-the-Brain
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed