logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Penyakit

Apa Saja Pertimbangan Cuci Darah pada Pasien Ginjal Kronis?

open-summary

Sebelum melakukan prosedur dialisis atau cuci darah pada pasien penyakit ginjal kronis, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan menurut dokter. Apa saja?


close-summary

23 Des 2019

| Arif Putra

Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Cuci darah adalah prosedur yang dilakukan untuk membuang limbah berbahaya dalam tubuh

Dialisis atau cuci darah merupakan prosedur yang umum dilakukan pada penderita penyakit ginjal kronis

Table of Content

  • Kapan harus melakukan cuci darah untuk penderita penyakit ginjal kronis?
  • Bagaimana dengan dialisis pada pasien usia lanjut?

Dialisis adalah prosedur yang dilakukan untuk membuang limbah berbahaya di dalam tubuh pada stadium akhir penyakit ginjal kronis atau gagal ginjal kronis. Dialisis mungkin lebih Anda kenal dengan istilah cuci darah.

Advertisement

Pada tubuh yang sehat normal, proses ini dilakukan oleh ginjal. Namun, pada penyakit ginjal kronis, ginjal tidak mampu untuk menjalankan fungsinya.

Dialisis terdiri atas dua jenis, yaitu hemodialisis dan dialisis peritoneal. Hemodialisis dilakukan dengan menggunakan ginjal buatan (hemodialyzer) untuk menyingkirkan limbah dan cairan berlebih dari darah. Darah kemudian akan dikembalikan ke tubuh menggunakan mesin dialisis.

Sementara itu, dialisis peritoneal melibatkan tindakan bedah untuk menempatkan tabung plastik (katerer) ke dalam perut. Pada jenis dialisis ini, darah akan dibersihkan dalam tubuh.

Kapan harus melakukan cuci darah untuk penderita penyakit ginjal kronis?

Menurut, dr. Indah Fitriani, Sp.PD selaku Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Rumah Sakit Awal Bros Bekasi Timur, keputusan untuk memulai dialisis memang hal yang sulit. Sebab, terapinya berlangsung seumur hidup yang seringkali menimbulkan ketidaknyamanan dan risiko-risiko lain bagi pasien.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, dr. Indah menjawab bahwa dialisis harus dimulai ketika manfaat dari berkurangnya tanda atau gejala uremikum melampaui risiko dan efek samping lain terhadap kualitas hidup pasien. Uremikum terjadi limbah metabolisme tubuh tetap beredar di darah karena ginjal tak mampu menjalankan fungsinya.

Ada beberapa faktor yang dapat menjadi pertimbangan untuk memulai dialisis. Salah satu faktor tersebut adalah estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR). Tes eGFR akan memperkirakan berapa banyak darah yang melewati glomerulus (penyaring kecil pada ginjal) setiap menitnya. Semakin rendah hasil tes eGFR, maka semakin parah tingkat kerusakan ginjal.   

Berikut penjelasan yang lebih rinci dari hasil tes eGFR:

1. Pasien dengan eGFR >15 ml/menit/1,73 m2

Pada pasien dengan hasil eGFR tersebut tidak dilakukan dialisis, walaupun terdapat gejala yang mungkin terkait gagal ginjal stadium akhir. Biasanya, pasien ini masih responsif dengan obat-obatan dokter sehingga dialisis jarang dilakukan.

2. Pasien asimtomatik dengan eGFR 5-15 ml/menit/1,73 m2

Pada kondisi pasien di atas, dokter akan melakukan evaluasi ketat. Walau begitu, dialisis tidak akan dilakukantanpa adanya tanda atau gejala terkait ESRD (stadium akhir penyakit ginjal).

3. Pasien dengan eGFR 5-15 ml/menit/1,73 m2 dengan tanda atau gejala yang mungkin terjadi karena ESRD

Pasien kelompok ini perlu menjalani penanganan konservatif. Jika tanda atau gejala terkait ESRD tidak berpengaruh walau telah menjalani terapi, dokter akan menyarankan dilakukannya dialisis. Kecuali, jika keadaan pasien sudah mengharuskan dilakukan dialisis (indikasi absolut) dialisis sebaiknya jangan ditunda.

4. Pasien dengan eGFR <5

Pasien dengan kondisi hasil tes di atas akan perlu melakukan dialisis, walaupun tidak menunjukkan gejala dan tanda dari ESRD.

Selain hasil tes eGFR di atas, keputusan untuk memulai dialisis juga dilihat dari gejala yang berkaitan dengan sindrom uremia, laju penurunan eGFR, kualitas hidup pasien, dan tentunya pilihan pasien yang bersangkutan.

Bagaimana dengan dialisis pada pasien usia lanjut?

Dialisis menjadi terapi seumur hidup dan menimbulkan rasa tidak nyaman pada pasien. Sehingga dialisis harus dipertimbangkan dengan mendalam.

Pada pasien usia lanjut, efek dialisis dapat berbeda dengan penderita usia muda. Secara umum, prosedur cuci darah atau dialisis pada kaum lansia dapat menyebabkan kualitas hidup yang menurun, setelah dilakukannya dialisis tersebut.

Efek samping dari dialisis akan lebih nyata pada pasien usia lanjut. “Untuk itu, edukasi pada pasien dan keluarga diperlukan atas komplikasi-komplikasi yang terjadi selama prosedur hemodialisis atau dialisis (prosedur intradialitik),” tandas dr. Indah.

Narasumber:
dr. Indah Fitriani, SpPD
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Rumah Sakit Awal Bros Bekasi Timur

Advertisement

penyakit ginjalgagal ginjal kronisgagal ginjal

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved