logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Mental

Menyimak Keakuratan Tes MBTI yang Populer di Intenet

open-summary

Tes MBTI dibuat agar orang yang menjalaninya bisa mengerti apa yang disukai, kekuatan, kelemahan, jalur karier, hingga cara berinteraksi dengan orang lain.


close-summary

4.59

(46)

22 Feb 2022

| Nina Hertiwi Putri

Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Tes MBTI

Sudah pernah coba mengikuti tesnya?

Table of Content

  • Awal mula kemunculan tes MBTI
  • Pembagian kepribadian pada tes MBTI
  • Pro kontra soal akurasi hasil tes MBTI
  • Seperti apa kepribadian yang dikatakan sehat?

Sudah tidak terhitung berapa jenis tes kepribadian yang pernah saya ikuti. Hingga saat ini, kepribadian saya dianggap cocok masuk ke asrama Hufflepuff dan digolongkan memiliki tipe kepribadian INFJ. Empat huruf terakhir, adalah hasil terkaan dari tes MBTI, yang saat ini merupakan salah satu tes kepribadian paling populer di Internet.

Advertisement

MBTI adalah singkatan dari Myers Briggs Type-Indicators, yang mengelompokkan karakteristik manusia menjadi 16 tipe kepribadian. Sekitar 1,5 juta orang mengikuti tes kepribadian MBTI tiap tahunnya. Kegunaan tes MBTI sering kali digunakan dalam proses penerimaan pegawai di suatu perusahaan.

Dengan reputasinya sebagai tes psikologi yang terkenal, tes kepribadian MBTI juga menuai banyak kontroversi. Tidak sedikit psikolog yang menganggap bahwa tes ini tidaklah akurat secara keilmuan.

Awal mula kemunculan tes MBTI

Tes MBTI mungkin baru mulai populer selama beberapa tahun belakangan ini. Namun, tes ini sebenarnya sudah digagas sejak terjadinya Perang Dunia Kedua dan pertama kali ditulis sekitar tahun 1940.

Terinspirasi dari gagasan Carl Jung, psikolog pertama yang membagi kepribadian manusia menjadi dua jenis, pencetus MBTI mengembangkan tipe kepribadian manusia yang kala itu batu terbagi menjadi dua, yaitu introvert dan ekstrovert.

MBTI dicetuskan oleh pasangan ibu dan anak. Sang ibu, Katherine Cook Briggs dan anaknya Isabel Briggs Myers, mulai menganalisis teori tentang tes kepribadian ini dengan melakukan uji coba kepada keluarga dekat mereka. Selama 20 tahun, mereka terus memperbaikinya serta membangun sistem dan teori seputar jenis kepribadian manusia.

Hasil tes MBTI bukanlah soal benar dan salah. Tes ini dirancang agar orang yang menjalaninya bisa mengerti kesukaan, ketidaksukaan, kekuatan, kelemahan, jalur karier, cara membuat keputusan hingga cara berinteraksi dengan orang lain. Hasil tes MBTI juga dianggap bisa mewakili sudut pandang psikologis seseorang dalam melihat dunia.

Pembagian kepribadian pada tes MBTI

Hasil tes ini didasari dari empat kelompok kriteria, yaitu:

Extraversion (E) dan Introversion (I)

Ekstrovert dan introvert, menjadi huruf pertama dalam identifikasi hasil MBTI. Orang yang ekstrovert membutuhkan interaksi sosial dengan orang lain untuk mendapatkan energi. Sebaliknya, introvert adalah orang yang membutuhkan waktu sendirian untuk mendapatkan energi.

Sensing (S) dan Intuition (N)

Kelompok kriteria ini, mengukur cara seseorang dalam mengumpulkan informasi dari lingkungan sekitarnya.
Orang yang mengumpulkan informasi dengan cara sensing, cenderung lebih realistis dan fokus pada data dan fakta yang ada di lapangan.

Sementara itu, orang yang mengumpulkan informasi dengan cara intuition, lebih tertarik berimajinasi tentang masa depan, hal-hal yang mungkin akan terjadi, dan teori-teori abstrak.

Thinking (T) dan Feeling (F)

Kelanjutan dari kriteria S dan N, adalah thinking (T) dan feeling (F). Kriteria ini, melihat cara seseorang mengambil keputusan berdasarkan buah pemikirannya atau intiuisi mereka.

Orang yang mengambil keputusan berdasarkan thinking, menitik beratkan keputusannya pada data dan fakta yang objektif. Sementara itu, orang yang mengandalkan feeling, akan lebih mempertimbangkan perasaan orang lain saat akan mengambil suatu keputusan.

Judging (J) dan Perceiving (P)

Kriteria terakhir yang dinilai adalah cara orang tersebut berinteraksi dengan dunia di sekitarnya. Orang yang cenderung ke arah judging, akan berpikir lebih terstruktur dan kuat pendiriannya. Sementara itu, orang yang berpikir dengan perceiving, cenderung lebih terbuka, fleksibel, dan mudah beradaptasi.

Keempat kelompok kriteria tersebut, kemudian dipecah menjadi 16 jenis kepribadian, yaitu:

tes MBTI
kepribadian yang terangkum dalam hasil tes

Baca juga: INTJ Adalah Sang Pemikir yang Senang Bekerja Sendirian

Pro kontra soal akurasi hasil tes MBTI

Saat mengetahui hasil tesnya dan membaca penjelasannya, saya secara refleks mengangguk dan mengamini kata demi kata yang membedah kepribadian saya. Entah karena sugesti atau memang ada penjelasan ilmiah di baliknya.

Bagi orang awam, mengetahui rahasia tentang diri sendiri adalah hal yang menyenangkan. Apalagi, hasil tes MBTI dijelaskan dengan kata-kata yang begitu baik, netral, dan tak menghakimi. Namun, sebuah tes kepribadian sudah seharusnya tidak dijadikan satu patokan formal terhadap diri seseorang.

Hal tersebut bisa dengan mudah saya aplikasikan ketika sedang melakukan tes yang nyeleneh, seperti menebak kepribadian dari makanan kesukaan yang dipilih. Namun, jika bicara soal hasil MBTI, mau tidak mau, saya seolah terdorong untuk memproklamirkan diri sebagai INFJ. Begitupun dengan banyak orang lain yang pernah mengikuti tes ini.

Saya seolah lupa, jika sebelumnya, saya juga pernah mengisi kuesioner MBTI dan hasilnya, saya adalah INFP. Beda kepribadian.

Contoh seperti inilah yang membuat para ahli meragukan akurasinya. Terlebih, MBTI secara garis besar hanya membagi manusia menjadi dua kategori, yaitu intovert dan extrovert. Penilaian ini, bagi sebagian ahli, terlihat terlalu hitam putih.

Ahli psikologi berpendapat, agar suatu alat ukur psikologis dapat digunakan, ada empat aspek yang harus dicapai, yaitu:

  • Reliability (dapat dipercaya)
  • Validity (akurat)
  • Independent (penelitian dilakukan secara mandiri atau netral)
  • Comprehensive (menyeluruh)

Sementara itu, tes kepribadian ini dianggap belum memenuhi seluruh aspek tersebut. Di sisi lain, sudah ada tes kepribadian atau tes psikologis lain yang sudah memenuhinya, seperti The Big Five. The Big Five adalah penilaian kepribadian seseorang yang dilihat dari lima aspek, yaitu:

  • Agreeableness (kecenderungan mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan diri sendiri dan menghindari konflik)
  • Conscientiousness (menilai kadar disiplin dalam diri seseroang)
  • Extraversion (menilai kecenderungan seseorang dalam mencari stimulasi dari luar)
  • Openness to experience (menilai kecenderungan seseorang berpikir secara abstrak dan kompleks)
  • Neuroticism (menilai kecenderungan seseorang mengalami emosi negatif, seperti takut, sedih, cemas, dan malu)

Namun hingga saat ini, lembaga resmi MBTI tetap bersikukuh bahwa metode penilaian itu sudah akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Lembaga tersebut menilai, perbedaan hasil tes yang terjadi adalah suatu hal yang normal karena perbedaan tersebut hanya terjadi pada salah satu kelompok kriteria. Mungkin, seperti yang saya alami di atas.

Baca juga: Jenis Kepribadian INFP, Si Introvert yang Suka Menolong Orang

Meski pro kontra seputar tes MBTI masih berlangsung hingga sekarang, bukan berarti tes ini sama sekali tidak boleh dilakukan. Selepas ini pun, ketertarikan saya akan mengisi kuis-kuis kepribadian di Internet tidak berkurang. Karena saya masih sering penasaran, bisakah tes atau kuis itu benar menebak kepribadian berdasarkan pilihan aktor Hollywood favorit? 

Hanya saja, sebaiknya hasil tes ini tidak dijadikan sebagai acuan mutlak untuk mengambil keputusan dalam hidup. Saya pun sekaligus mengingatkan diri sendiri bahwa tes yang saya lakukan waktu itu hanyalah tes gratis di Internet, bukan tes yang dilakukan lembaga resmi. Jadi, saya sebenarnya juga tidak tahu pasti soal kredibilitas situs yang saya kunjungi waktu itu.

Hasil kepribadian yang keluar juga mungkin akan berbeda apabila tesnya diselenggarakan oleh lembaga yang benar-benar paham soal MBTI. Saat ini, sudah ada lembaga resmi yang menyediakan tes kepribadian MBTI yang memang dikurasi dan diselenggarakan oleh para ahlinya. 

Seperti apa kepribadian yang dikatakan sehat?

Wiebke Bleidorn, PhD, profesor psikologi asal UC Davis mengatakan bahwa kepribadian yang sehat secara psikologis dapat ditandai dengan ciri-ciri berikut:

  • Mampu merasakan dan mengekspresikan emosi
  • Percaya diri dengan kemampuan mereka sendiri
  • Stabil secara emosional
  • Mampu menghadapi stres
  • Mudah berinteraksi
  • Ramah dan hangat saat berbicara dengan sekitar
  • Menjadi diri sendiri

Sudahkah saya memenuhi semua persyaratan tersebut? Rasanya belum. Tapi, kembali lagi bahwa penilaian kepribadian yang paling netral, hendaknya dilakukan oleh profesional seperti psikolog atau psikiater. Saya jadi penasaran, sebenarnya jika diukur dengan metode ilmiah, jenis kepribadian apa yang bisa terekam dari jawaban-jawaban yang tertulis?

Advertisement

kesehatan mentalgangguan kepribadiangangguan kepribadian gandates psikologi

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved