Ejakulasi dini dan impotensi merupakan dua disfungsi seksual yang mengganggu pria perkasa
Pria perkasa belum tentu tidak mengalami impotensi.

Keharmonisan rumah tangga identik dengan kepuasan seksual yang dirasakan terhadap pasangan. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2014 menemukan bahwa kepuasaan seksual memiliki kaitan yang erat dengan kualitas hubungan dengan pasangan.

Pentingnya kepuasaan seksual dalam kehidupan berpasangan membuat kriteria “pria perkasa” menjadi salah satu persyaratan yang diperlukan untuk meningkatkan kepuasaan seksual.

“Pria perkasa” umumnya identik dengan kekuatan dan ketahanan pria saat melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Namun, terdapat beberapa disfungsi seksual yang dapat membuat pria tidak mendapatkan gelar “pria perkasa”.

Kategori Disfungsi Seksual

Disfungsi seksual merupakan gangguan-gangguan yang dialami saat sedang melakukan hubungan seksual.

Disfungsi seksual dapat dialami oleh segala usia dan jenis kelamin. Disfungsi seksual pada pria merupakan suatu gangguan yang cukup umum dan membuat pria berusaha untuk mencari resep untuk menjadi “pria perkasa”.

Secara garis besar, disfungsi seksual terbagi menjadi empat kategori, yaitu:

  • Gangguan gairah seksual, gangguan ini terjadi saat pria tidak dapat bergairah secara fisik meskipun secara emosional sudah merasa bergairah.
  • Gangguan orgasme, gangguan yang dialami saat pria tidak mampu untuk mencapai orgasme atau membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencapai orgasme.
  • Gangguan rasa sakit, gangguan yang meliputi rasa sakit saat berhubungan seksual.
  • Gangguan hasrat seksual, gangguan yang dicirikan dengan kondisi tidak adanya atau sedikitnya hasrat untuk melakukan hubungan seksual.

Disfungsi Seksual yang Mengganggu Pria Perkasa

Disfungsi seksual pada pria yang sering terjadi dan membuat pria menjadi frustrasi untuk mencapai gelar “pria perkasa” adalah:

  • Ejakulasi Dini (Ejakulasi Prematur)

Kondisi saat pria mengalami ejakulasi yang terlalu cepat dari yang diinginkan oleh pria tersebut dan pasangannya. Biasanya pria akan dianggap mengalami ejakulasi dini jika ejakulasi terjadi kurang dari satu menit setelah penetrasi. Ejakulasi dini membuat seakan-akan waktu untuk menikmati aktivitas seksual kurang.

Penyebab ejakulasi dini tidak hanya masalah psikologis, tetapi kondisi ini terjadi karena interksi kompleks antara faktor psikologis dan biologis. Faktor psikologis yang dimaksud contohnya adalah riwayat kekerasan seksual, depresi, atau pandangan yang buruk terhadap tubuh sendiri.

Sedangkan secara biologis, penyebab yang berkontribusi terhadap ejakulasi dini adalah tidak normalnya kadar hormon, terdapat peradangan atau infeksi di prostat atau uretra dan faktor keturunan.

  • Disfungsi Ereksi (Impotensi)

Berbeda dengan ejakulasi dini yang identik dengan ketahanan, disfungsi ereksi atau impotensi identik dengan kekuatan pada “pria perkasa”.

Impotensi merupakan ketidakmampuan pria untuk mengalami ereksi atau membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengalami ereksi. Impotensi dapat menimbulkan rasa malu dan frustrasi pada pria.

Namun, perlu diketahui bahwa disfungsi ereksi bisa jadi pertanda dari suatu kondisi medis lainnya, seperti penyakit jantung, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas. Oleh karenanya, konsultasikanlah ke dokter jika Anda merasa sangat terganggu dengan masalah ini.

  • Ejakulasi yang Tertunda

Waktu yang tepat adalah hal yang krusial dalam kepuasaan seksual terhadap pasangan. Ejakulasi yang terlalu lama atau bahkan ketidakmampuan untuk mengalami ejakulasi sama sekali dapat menimbulkan stres dalam kehidupan berpasangan.

Biasanya pria yang mengalami ejakulasi yang tertunda membutuhkan waktu lebih dari 30 menit untuk dapat mengalami ejakulasi. Bahkan, beberapa pria sama sekali tidak mengalami ejakulasi.

Seperti halnya penyebab disfungsi seksual yang lain, kondisi ini juga disebabkan faktor psikologis dan biologis. Selain itu, obat-obatan tertentu seperti antidepresan, beberapa obat darah tinggi, diuretik dan obat antipsikotik juga dapat menyebabkan ejakulasi yang tertunda.

Apakah ada cara untuk mengatasi disfungsi seksual?

Pemeriksaan ke dokter akan membantu untuk pemberian penanganan yang tepat. Anda tidak perlu ragu untuk memeriksakan diri hanya karena malu dianggap bukan pria perkasa. Penanganan yang sesuai dapat membantu mengatasi masalah disfungsi seksual yang dialami berdasarkan penyebabnya.

Umumnya dokter akan memberikan penanganan berupa obat-obatan untuk melencarkan peredaran darah ke penis ataupun pemasangan alat-alat tertentu yang dapat membantu fungsi organ vital pria. 

Selain obat-obatan dan pemasangan alat, penderita juga bisa mengikuti terapi seks ataupun psikoterapi, serta mempelajari teknik-teknik yang dapat membantu saat berhubungan intim dengan pasangan.

Konsultasikan ke Dokter!

Disfungsi seksual tidak hanya mengganggu gelar pria perkasa tetapi juga erat kaitannya dengan hubungan bersama pasangan. Anda tidak perlu malu untuk berdiskusi dengan dokter dan ahli kesehatan mental.

Oleh karenanya, jika Anda mengalami gejala-gejala disfungsi seksual, segera konsultasikan ke dokter dan ahli kesehatan mental untuk dilakukan pemeriksaan dan penanganan.

Cleveland Clinic.https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9121-sexual-dysfunction
Diakses pada 22 April 2019

Healthline.https://www.healthline.com/health/what-sexual-dysfunction#bad-night-vs.-disorder
Diakses pada 22 April 2019

Mayo Clinic.https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/premature-ejaculation/symptoms-causes/syc-20354900
Diakses pada 22 April 2019

Mayo Clinic.
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/erectile-dysfunction/symptoms-causes/syc-20355776
Diakses pada 22 April 2019

Mayo Clinic.https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/delayed-ejaculation/symptoms-causes/syc-20371358
Diakses pada 22 April 2019

NCBI.https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25053956
Diakses pada 22 April 2019

Urology Care Foundation. https://www.urologyhealth.org/urologic-conditions/premature-ejaculation
Diakses pada 22 April 2019


WebMD.https://www.webmd.com/men/what-is-premature-ejaculation#1
Diakses pada 22 April 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed