Pornografi Adalah Perusak Komitmen Suatu Hubungan, Ini Alasannya

(0)
24 Sep 2020|Azelia Trifiana
Pornografi menjadi salah satu perusak hubunganPornografi menjadi sumber perusak hubungan
Sebuah studi pada pertengahan tahun 2020 menunjukkan bahwa ada tren berkurangnya pria muda yang tertarik berhubungan langsung dengan orang lain, dan salah satu pemicunya adalah pornografi. Mudahnya mengakses internet termasuk konten pornografi adalah faktor yang membuat pria berusia 18-24 tahun memilih tidak terikat dengan siapapun.Di sisi lain, pornografi juga dapat melemahkan komitmen dalam hubungan pernikahan. Apa yang disuguhkan dalam pornografi membuat impresi tentang hubungan seksual serta tubuh pasangan menjadi bergeser.

Mengapa pornografi bisa merusak hubungan?

Seorang pria adu argumen dengan seorang wanita
Pornografi dapat menyebabkan pertengkaran
Berdasarkan definisinya, pornografi adalah deskripsi atau pertunjukan aktivitas seksual dalam bentuk literatur, film, dan lainnya untuk memberi stimulasi erotis. Dalam sebuah hubungan, stimulasi atau kedekatan emosional yang intim sebenarnya terwakili oleh kehadiran satu sama lain secara fisik.Ketika pasangan memiliki kedekatan emosional yang baik, maka tingkat kepuasan terhadap kehidupan seksual mereka pun jauh lebih kuat. Artinya, tak perlu mencari stimulasi erotis lagi dari orang lain maupun konten-konten pornografi.Sebaliknya ketika seseorang yang sudah terikat dalam sebuah hubungan justru mencari kepuasan lewat pornografi, itu menjadi tanda tanya besar. Beberapa alasan mengapa pornografi adalah hal yang berpotensi merusak hubungan:

1. Ekspektasi tidak realistis

Pornografi adalah konten yang menghadirkan ekspektasi tak realistis tentang pasangan sekaligus aktivitas seksual yang bisa dilakukan. Itu sebabnya, pornografi dapat melemahkan komitmen karena menciptakan impresi yang salah tentang bentuk tubuh dan aktivitas seksual yang didambakan.Padahal, hubungan seksual dalam sebuah ikatan seharusnya bersifat mutual. Saling memuaskan satu sama lain. Sebaliknya, pornografi lebih bertendensi memberi gratifikasi diri sendiri bahkan mendominasi orang lain.

2. Menggantikan interaksi dengan manusia

Salah satu ketakutan terbesar dari “kecanduan” pornografi adalah kemungkinan bisa menggantikan interaksi nyata dengan manusia. Namun menurut beberapa penelitian, hal ini tidak berlaku secara general. Justru banyak orang yang tidak lagi tertarik melihat konten porno setelah melakukan aktivitas seksual dengan pasangannya.

3. Menurunnya kepuasan dalam hubungan

Penelitian tahun 2006 menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan yang sering melihat konten pornografi merasa lebih tidak bahagia dengan hubungan yang dijalaninya. Hubungan sebab-akibatnya bukan berupa pornografi membuat tak puas dengan hubungan, justru sebaliknya.Seseorang yang berada dalam hubungan kurang harmonis cenderung mencari distraksi dari konten pornografi. Ketika pelarian ini dilakukan dalam frekuensi tinggi, maka risiko merasa tidak puas dengan hubungan yang dimiliki pun meningkat.

Kemudahan akses internet juga berperan

Mudahnya akses pornografi lewat internet sangat berpengaruh
Kembali merujuk pada hasil penelitian yang disebutkan di awal artikel: 1 dari tiap 3 pria berusia 18-24 tahun tidak melakukan aktivitas seksual apapun sepanjang tahun. Prevalensinya meningkat dari 19% menjadi 31%, berdasarkan penelitian Dr. Peter Ueda dari Karolinska Institutet di Stockholm, Swedia.Faktor yang berperan dalam hal ini adalah kemudahan akses mengakses internet dan aplikasi dating online. Faktor lain yang juga berperan adalah takut dengan kehamilan hingga akses mudah melihat konten pornografi.Analisis dari penelitian ini adalah remaja berusia 18-24 tahun lebih jarang melakukan hubungan seksual karena lebih lama mencapai fase dewasa. Aktivitas yang termasuk dalam kategori fase dewasa ini termasuk menjalin komitmen dengan orang lain, tinggal bersama, hingga memiliki keturunan.

Pornografi tak selalu buruk

Masih dari pembahasan hasil penelitian di atas, akar masalah tak selalu karena pornografi. Bahkan, ada juga penelitian yang menyebutkan bahwa orang yang kerap mengakses konten porno justru aktif secara seksual.Internet dan media digital dengan arus perputaran informasi serba cepat lebih berperan membuat seseorang tak terlalu tertarik membangun hubungan asmara dengan orang lain.Adanya internet yang bisa diakses kapan saja menggantikan interaksi sosial secara langsung dengan orang lain. Aktivitas seksual bisa menjadi tak seatraktif dulu, tergeser oleh hiburan dan konten yang ada di internet.Jika membandingkan konten pornografi dengan kepuasan berhubungan seksual secara nyata, tentu tidak serta merta bisa terganti. Justru baik laki-laki maupun perempuan bisa merasakan stimulasi gairah seksual dengan menonton konten pornografi.Bagi keduanya, menonton pornografi bisa menjadi foreplay sebelum berhubungan seksual.
gangguan mentalkesehatan mentalmenjalin hubungan
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/gb/blog/talking-apes/202008/how-porn-affects-relationships
Diakses pada 10 September 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health-news/young-adults-especially-men-having-sex-less-frequently
Diakses pada 10 September 2020
JAMA Network. https://jamanetwork.com/journals/jamanetworkopen/fullarticle/2767066?widget=personalizedcontent&previousarticle=0
Diakses pada 10 September 2020
Mental Help. https://www.mentalhelp.net/blogs/how-pornography-distorts-intimate-relationships/#:~:text=Pornography%20has%20been%20shown%20to,partner's%20love%20for%20the%20other.
Diakses pada 10 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait