7 Penyebab Polifagia atau Kondisi Lapar Berlebih Walau Banyak Makan

Polifagia adalah kondisi lapar berlebihan walau Anda mungkin sudah banyak makan
Polifagia memicu rasa lapar berlebih pada penderitanya

Pada kondisi normal, rasa lapar dan peningkatan nafsu makan bisa kita kompensasi dengan konsumsi makanan. Namun, beberapa orang berisiko mengalami kondisi yang disebut polifagia atau lapar berlebih. Polifagia sulit hilang walau sudah mengonsumsi makanan, sehingga pada beberapa kasus akan perlu ditangani oleh dokter.

Apa itu polifagia?

Polifagia adalah istilah medis untuk kondisi lapar berlebihan. Sering disebut juga dengan hiperfagia, polifagia merupakan kondisi yang berbeda dengan peningkatan nafsu makan biasa.

Peningkatan nafsu makan biasanya terjadi pasca berolahraga atau beraktivitas fisik. Rasa lapar tersebut juga akan kembali terkendali setelah kita makan. Namun, pada kasus polifagia, rasa lapar cenderung tidak berkurang walau kita telah makan banyak.

Polifagia juga berbeda dengan binge eating. Walau awalnya akan sulit untuk memahami perbedaan dua kondisi ini, binge eating cenderung ditandai dengan episode makan yang tidak terkontrol, namun tidak dikaitkan dengan rasa lapar. Penderita binge eating biasanya juga akan mengalami rasa bersalah dan depresi setiap kali mengalami episode makan tidak terkontrol tersebut.

Polifagia dapat disebabkan oleh beragam faktor. Apabila rasa lapar Anda tidak terkontrol walau telah banyak makan, Anda sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mengidentifikasi penyebabnya.

Penyebab polifagia atau lapar berlebihan

Berikut ini beberapa penyebab polifagia atau lapar berlebihan:

1. Hipoglikemia

Hipoglikemia adalah kadar gula darah rendah di tubuh yang dapat memicu polifagia. Kondisi ini sering dialami oleh penderita diabetes. Namun, hipoglikemia tetap bisa terjadi pada semua orang.

Selain rasa lapar, hipoglikemia juga dapat memicu gejala berikut ini:

  • Pusing
  • Sakit kepala
  • Sulit berkonsentrasi
  • Tubuh gemetar
  • Tubuh berkeringat
  • Perubahan kepribadian

2. Diabetes

Polifagia dapat menjadi gejala diabetes melitus. Penderita diabetes mengalami masalah pada insulin, hormon yang terlibat dalam pemindahan glukosa dari aliran darah menuju sel, untuk kemudian dimanfaatkan sebagai energi.

Diabetes tipe 1 terjadi ketika tubuh tidak dapat menghasilkan insulin. Sementara itu, diabetes tipe 2 terjadi ketika insulin tidak bekerja sebagaimana mestinya. Dua kondisi ini membuat glukosa akan tertahan di aliran darah dan bisa keluar dari tubuh melalui urine.

Karena glukosa gagal dimanfaatkan oleh sel, tubuh pun tidak akan berenergi. Sel-sel tubuh akan mengirimkan sinyal bahwa Anda harus terus makan dan memicu rasa lapar berlebihan.

Selain rasa lapar berlebih, penderita diabetes juga akan mengalami gejala berikut ini:

  • Sering buang air kecil
  • Haus yang berlebihan
  • Penurunan berat badan yang tidak biasa
  • Penglihatan kabur
  • Pemulihan luka yang lambat

3. Hipertiroidisme

Hipertiroidisme adalah kondisi yang disebabkan oleh aktivitas berlebih kelenjar tiroid. Kelenjar ini menghasilkan hormon-hormon yang berfungsi vital untuk tubuh, termasuk mengendalikan metabolisme. Apabila kadar hormon dari kelenjar tiroid terlalu tinggi, rasa lapar berlebih pun dapat terjadi.

Gejala lain dari hipertiroidisme, yaitu:

  • Tubuh berkeringat
  • Penurunan berat badan
  • Gugup
  • Rambut rontok
  • Sulit tidur

4. PMS

PMS atau premenstrual syndrome adalah masalah yang sering dialami oleh kaum Hawa. PMS diyakini terjadi karena fluktuasi hormon saat memasuki periode menstruasi, termasuk meningkatnya kadar hormon estrogen dan progesteron yang diiringi dengan menurunnya serotonin.

Fluktuasi hormon saat PMS dapat memicu polifagia untuk mengonsumsi karbohidrat dan lemak. Gejala lain PMS, termasuk:

  • Lekas marah dan perubahan mood
  • Perut kembung dan bergas
  • Kelelahan
  • Diare

5. Stres

Saat pikiran dilanda stres, tubuh akan melepaskan hormon stres atau kortisol dalam kadar tinggi. Pelepasan hormon kortisol tersebut akan membuat tubuh lapar. Rasa lapar saat stres juga dapat menjadi respons emosional, baik Anda menyadarinya atau tidak.

Stres juga akan memicu gejala berikut ini:

  • Tubuh tak berenergi
  • Sakit dan nyeri yang tidak bisa dijelaskan
  • Insomnia
  • Sering masuk angin
  • Sakit perut

6. Kurang tidur dan masalah tidur

Tubuh yang tidak cukup istirahat akan sulit mengendalikan hormon pengatur rasa lapar. Sebagai akibatnya, risiko polifagia dan makan berlebih pun dapat terjadi.

Selain kurang beristirahat, masalah tidur seperti gangguan tidur apnea juga berisiko membuat Anda makan lebih banyak. Gejala lain dari gangguan tidur juga berupa ngantuk di siang hari, perubahan mood, gangguan daya ingat, dan sulit berkonsentrasi.

7. Pola makan yang tak sehat

Pernahkah Anda tetap merasa lapar setelah mengonsumsi fast food atau karbohidrat dan lemak tak sehat? Hal ini terjadi karena tubuh tidak mendapatkan nutrisi yang diperlukan, seperti serat dan protein. Selain sering lapar, kurang nutrisi juga dapat menimbulkan masalah berupa:

  • Kenaikan maupun penurunan berat badan
  • Kelelahan
  • Rambut rontok atau menipis
  • Gusi meradang atau berdarah
  • Sulit berkonsentrasi atau mengingat sesuatu
Fast food
Fast food dapat memicu polifagia

Kapan harus ke dokter jika alami polifagia?

Polifagia yang diiringi dengan rasa haus dan buang air kecil berlebih dapat menjadi gejala diabetes. Anda disarankan segera menemui dokter untuk menjalani pemeriksaan diabetes jika mengalami gejala tersebut.

Apabila rasa lapar berlebih atau polifagia Anda juga mengganggu aktivitas sehari-hari, menemui dokter juga sangat dianjurkan.

Penanganan polifagia

Pada beberapa kasus polifagia, seperti kurang istirahat dan pola makan tak sehat, Anda bisa melakukan perubahan gaya hidup. Misalnya, untuk kasus kurang tidur, penanganan paling ampuh tentu dengan mencukupkan durasi tidur, yakni 7-9 jam per hari.

Untuk masalah pola makan, Anda sangat dianjurkan untuk memenuhi nutrisi dari sumber karbohidrat dan lemak yang sehat, di samping juga protein dan serat. Makanan tersebut termasuk serealia utuh, buah dan sayuran, kacang-kacangan, ikan, dan daging tanpa lemak.

Apabila stres dan kondisi psikologis memicu polifagia dan sangat mengganggu kehidupan Anda sehari-hari, bantuan dari psikolog dan psikiater akan diperlukan. Penanganan dapat berupa terapi bicara hingga obat-obatan.

Pada kasus diabetes, hipertiroidisme, dan PMS yang parah, obat-obatan dari dokter akan diperlukan.

Catatan dari SehatQ

Polifagia adalah kondisi lapar berlebih dan tidak biasa. Polifagia dapat disebabkan oleh beragam faktor, mulai dari diabetes, PMS, hingga stres. Apabila polifagia yang dialami cenderung mengganggu kegiatan sehari-hari, Anda harus segera menemui dokter untuk mengidentifikasi penyebab dan merancang penanganannya.

Healthline. https://www.healthline.com/health/polyphagia
Diakses pada 22 Juli 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/premenstrual-syndrome
Diakses pada 22 Juli 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/166815
Diakses pada 22 Juli 2020

Web MD. https://www.webmd.com/diabetes/qa/what-is-polyphagia
Diakses pada 22 Juli 2020

Artikel Terkait