Pola Asuh Positif Terhadap Anak Yatim yang Bisa Anda Lakukan

(0)
03 Aug 2020|Asni Harismi
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Anak yatim dapat tumbuh dengan baik lewat pola asuh positifPola asuh positif dibutuhkan untuk mengasuh anak yatim
Mendidik anak yatim tentu berbeda dibanding membesarkan anak yang masih memiliki ibu dan ayah lengkap. Meski lebih berat, anak yatim tetap dapat memiliki masa depan cerah seperti halnya anak-anak dengan orangtua lengkap asalkan Anda tetap menerapkan pola parenting yang positif.Berdasarkan ajaran agama Islam, yatim berasal dari kata ‘yatama, mudlori, yaitamu, yatmu’ yang berarti sedih atau sendiri. Sedangkan menurut istilah, anak yatim dapat diartikan sebagai anak yang tidak lagi memiliki ayah karena dipisahkan oleh kematian sebelum anak tersebut berusia baligh atau dewasa.Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, anak yatim bukan hanya mereka yang tidak lagi memiliki ayah. Anak yang masih punya ayah, namun ibunya sudah meninggal dunia juga dapat dikatakan sebagai yatim.

Bagaimana cara mendidik anak yatim?

Sebagai orangtua tunggal, Anda mungkin merasa harus memainkan peran ibu dan ayah sekaligus pada anak yatim sehingga anak akan tumbuh sempurna seperti teman-temannya. Oleh karena itu, Anda pun mengeset target yang muluk-muluk, seperti rumah harus selalu terlihat rapi, anak selalu makan masakan rumah, dan Si Kecil tumbuh sebagai anak yang ceria dan pintar di sekolah.Pertama-tama, sebagai orangtua tunggal, yang harus Anda lakukan adalah menurunkan ekspektasi. Tidak ada satupun pola asuh yang sempurna, bahkan anak dengan orangtua yang masih lengkap pun belum tentu dapat tumbuh sempurna dan memenuhi ekspektasi banyak orang.Sebaliknya, pola asuh anak yatim harus memprioritaskan perkembangan Si Kecil dan diri Anda sendiri. beberapa hal yang dapat Anda lakukan, antara lain:

1. Berbagi kenangan baik

Untuk mengingatkan anak yatim bahwa ia pernah memiliki keluarga yang utuh, Anda dapat berbagi kenangan indah tentang pasangan yang sudah meninggal. Dengan demikian, anak tetap bisa memiliki role model yang baik untuk perkembangan karakternya.Bila ayah/ibu sudah meninggal sebelum anak bisa mengingatnya secara detail, Anda bisa menjelaskan banyak hal tentang pasangan. Jika anak masih bisa menggali memori tentang ayah/ibunya, ajak ia untuk mengingat kenangan baik tentang orangtua yang telah meninggalkannya.

2. Tunjukkan rasa sayang pada anak

Mengatakan bahwa Anda sayang pada Si Kecil mungkin terlihat sepele, tapi itu bisa sangat berarti bagi anak yang tidak memiliki siapa-siapa lagi selain orangtua tunggalnya. Jika Anda segan mengucapkan kata sayang, tunjukkan dengan perbuatan, misalnya membacakan buku sebelum tidur atau selalu menemaninya nonton film kartun di hari Minggu.

3. Buat rutinitas

Ketika Anda menerapkan pola rutinitas yang sama, anak yatim akan memiliki panduan dalam berkegiatan sehari-hari. Anda juga bisa memilihkan kegiatan yang bermanfaat untuk masa depannya, misalnya mengikutkannya pada berbagai les bakat atau mengaji dan kegiatan keagamaan lainnya.

4. Berikan batasan

Rasa sayang bukan berarti mengizinkan anak untuk melakukan apa pun yang ia inginkan. Tetap buat aturan dan batasan yang tidak boleh ia langgar agar anak yatim juga bisa disiplin dan bertanggung jawab termasuk pada dirinya sendiri di masa depan.

5. Meminta bantuan orang lain

Bila Anda harus mencari nafkah bagi anak, tidak ada salahnya menyewa pengasuh anak atau meminta bantuan tetangga maupun orang terdekat demi mengawasi buah hati Anda. Mendelegasikan peran dalam mengasuh anak tidak membuat Anda menjadi orangtua yang kurang bertanggung jawab, asalkan Anda tetap menyempatkan diri untuk melakukan quality time bersama buah hati.

6. Jangan menyalahkan diri sendiri

Selain memerhatikan kesehatan anak, Anda juga perlu untuk merawat diri sendiri, setidaknya dengan tidak menyalahkan diri sendiri atas kondisi yang Anda alami. Sesekali, tidak apa-apa menangis di depan anak, namun usahakan untuk selalu memberi nada positif dan optimistis agar anak yatim kembali bersemangat dalam menjalani rutinitasnya.

7. Ajarkan anak untuk ikhlas

Jika anak sudah mulai membandingkan keluarga Anda dengan keluarga lain yang memiliki anggota masih lengkap, katakan padanya bahwa setiap keluarga memiliki karakter yang berbeda-beda. Berikan gambaran juga bahwa ada anak yang hanya hidup dengan kakek-nenek, juga ada anak yang harus tinggal dengan orangtua asuh.Bila anak kangen dengan sosok ayah/ibu yang telah meninggal dunia, Anda juga bisa menunjuk seseorang yang dapat menggantikan figur itu, seperti kakek/nenek atau om/tante yang juga menyayangi Si Kecil. Apa pun itu, tanamkan pada anak untuk menerima kenyataan dan ajarkan ia untuk terus bersemangat menjalani hidup meski berstatus anak yatim.

Kapan Anda harus waspada?

Penelitian menunjukkan anak yatim memiliki kemungkinan mengalami depresi lebih tinggi dibanding anak yang dibersarkan dengan orangtua lengkap. Oleh karena itu, Anda harus waspada ketika ia memperlihatkan gejala penarikan diri dari hubungan sosial setelah ayah/ibunya meninggal dunia.Gejala tersebut antara lain tidak ingin bergaul, selalu murung, menyendiri, cepat marah, dan merasa putus asa. Jika Anda menemukan tanda-tanda ini, coba bujuk anak untuk mengunjungi dokter atau psikolog maupun psikiater untuk mengeliminasi kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
tips parenting
Digilib UIN Surabaya. http://digilib.uinsby.ac.id/15192/4/Bab%201.pdf
Diakses pada 20 Juli 2020
KBBI. https://kbbi.web.id/yatim
Diakses pada 20 Juli 2020
Parenting Firstcry. https://parenting.firstcry.com/articles/raising-a-child-alone-tips-for-single-parents/
Diakses pada 20 Juli 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/childrens-health/in-depth/single-parent/art-20046774
Diakses pada 20 Juli 2020
Very Well Family. https://www.verywellfamily.com/how-to-talk-to-children-about-absentee-fathers-2997224
Diakses pada 20 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait