Pola Asuh Permisif, Orangtua Tak Banyak Aturan dan Cenderung Bebas

Pola asuh permisif cenderung lebih santai dan tidak menerapkan aturan yang wajib diikuti anak
Orangtua yang menerapkan pola asuh permisif justru menjadi sosok teman, bukan sosok orangtua

Jika melihat orangtua yang dekat dengan anak mereka dan tidak banyak aturan, bisa jadi mereka menerapkan pola asuh permisif. Orangtua dengan pola asuh permisif tidak menuntut perilaku dewasa dari anak-anak mereka, justru menjadi sosok “teman” bukannya “orangtua”.

Pola asuh permisif adalah kebalikan dari helicopter parenting yang cenderung overparenting. Pada pola asuh permisif, bukannya terus-menerus memberi aturan pada anak, mereka lebih santai dan tidak menerapkan aturan atau struktur tertentu yang harus diikuti anak.

Karakteristik pola asuh permisif

Setiap pola asuh tentu memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu pula dengan pola asuh permisif. Dalam pola asuh permisif, orangtua tidak banyak menuntut anak untuk mengikuti aturan tertentu. Konsekuensinya, anak belum belajar mengenal kedisiplinan.

Beberapa karakteristik lain dari pola asuh permisif adalah:

  • Tidak banyak menerapkan aturan perilaku
  • Ketika ada aturan, bisa jadi tidak konsisten
  • Sangat dekat dan menyayangi anak-anak
  • Terlihat seperti teman, bukan orangtua
  • Kerap menggunakan hadiah agar anak melakukan sesuatu
  • Lebih mengutamakan kebebasan anak ketimbang tanggung jawab
  • Meminta pendapat anak pada keputusan-keputusan besar
  • Jarang menerapkan segala jenis konsekuensi

Dampak pola asuh permisif

Pola asuh permisif membuat anak tidak bisa memahami emosinya sendiri
Salah satu dampak pola asuh permisif adalah anak kesulitan memahami emosinya sendiri

Dengan pola asuh permisif, jelas anak tidak akan belajar mengenai aturan bahkan dari lingkungan terdekat mereka, yaitu keluarga. Akibatnya, anak tidak terbiasa mengenal tanggung jawab dan kedisiplinan.

Menurut beberapa penelitian, dampak pola asuh permisif adalah:

  • Kurang berprestasi

Mengingat orangtua dengan pola asuh permisif tidak banyak menerapkan ekspektasi, mereka tidak memiliki target. Menurut beberapa penelitian, pola asuh permisif berdampak pada anak yang kurang berprestasi secara akademik.

  • Kurang pandai mengambil keputusan

Selain itu, kebiasaan orangtua dengan pola asuh permisif yang tidak menerapkan aturan di rumah membuat anak kurang pandai mengambil keputusan. Lebih jauh lagi, anak jadi tidak piawai memecahkan masalah. Hal ini dapat menyebabkan anak memiliki keterampilan sosial yang buruk.

  • Kurang bisa memahami emosi

Mengingat anak dengan pola asuh permisif tidak terbiasa menghadapi beragam emosinya sendiri secara efektif, mereka menjadi tidak terlatih memahami emosi. Utamanya, ketika ada hal-hal yang memicu stres atau kondisi sulit.

  • Tidak bisa mengatur waktu atau kebiasaan

Anak yang dibesarkan dengan pola asuh permisif tidak terbiasa dengan batasan atau aturan. Hal ini bisa berakibat pada kebiasaan yang kurang baik seperti terlalu lama menonton televisi, bermain games, atau kebiasaan lain. Pada akhirnya, hal ini dapat menciptakan kebiasaan yang tidak sehat.

Bagaimana menyiasati pola asuh permisif?

Siasati pola asuh permisif dengan menerapkan aturan
Ajari anak untuk memahami konsekuensi dari perbuatannya

Orangtua yang menerapkan pola asuh permisif tidak sepenuhnya salah, karena setiap orangtua memiliki gaya parenting mereka masing-masing. Meski demikian, ada beberapa cara untuk menyiasati pola asuh permisif seperti:

  • Buat aturan sederhana di rumah

Untuk membiasakan anak dengan aturan serta struktur, ciptakan aturan di rumah. Tujuannya adalah agar anak tahu apa ekspektasi orangtua terhadap mereka.

  • Buat mereka paham apa konsekuensi dari perbuatan

Selain aturan, ajarkan juga konsekuensi dari setiap perbuatan mereka. Contoh konsekuensi yang logis adalah membatasi akses terhadap hal yang mereka sukai atau time-out yang diberikan jika melanggar aturan.

  • Konsisten

Meskipun sedikit sulit bagi orangtua dengan pola asuh permisif, sebisa mungkin lakukan hal-hal di atas dengan konsisten. Meski demikian, tak perlu mengesampingkan kebiasaan Anda yang cenderung penyayang dan dekat dengan anak. Bantu anak memahami mengapa perlu ada aturan dan konsekuensi.

  • Beri hadiah perilaku yang baik

Ketika anak mulai mengikuti aturan yang diterapkan di rumah, sesekali berikan hadiah sederhana untuk membantu mereka memahami konsekuensi.

Bagi orangtua dengan pola asuh permisif, coba adaptasi beberapa aturan dalam pola asuh otoritatif. Tujuannya bukan untuk membuat aturan yang berpotensi menjauhkan anak dan orangtua, namun sebaliknya untuk membimbing mereka mengenal apa itu aturan dan tanggung jawab.

Berikan struktur dan juga dukungan dengan cara yang seimbang. Dengan demikian, mereka memiliki kemampuan untuk bertahan menghadapi segala hal berat di luar sana.

Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-is-permissive-parenting-2794957
Diakses 28 Januari 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/parenting/what-is-permissive-parenting
Diakses 28 Januari 2020

Parenting Science. https://www.parentingscience.com/permissive-parenting.html
Diakses 28 Januari 2020

Artikel Terkait