Plus Minus Belajar Membaca Anak TK, Orangtua Harus Tahu

Belajar membaca anak TK dapat dilakukan jika ia menunjukkan tanda-tanda kesiapan
Ilustrasi orangtua yang mengajarkan membaca kepada anak yang lebih tua

Pandangan mengenai waktu yang tepat bagi anak belajar membaca kerap menimbulkan perdebatan. Ada yang mengatakan anak-anak yang masih berada di taman kanak-kanak (TK) tidak seharusnya diajarkan membaca, sementara beberapa lainnya beranggapan belajar membaca anak TK memiliki banyak keuntungan.

Lalu, saran mana yang harus Anda ikuti? Sebelum menjawab pertanyaan di atas, ada beberapa hal yang harus dipahami orangtua mengenai kemampuan membaca pada anak.

Membaca merupakan kemampuan sifatnya bukan alamiah pada anak sehingga ia harus diajari oleh orang yang lebih dewasa agar memiliki kapabilitas untuk melakukannya. Kemampuan membaca pada anak tidak seperti penguasaan anak akan bahasa yang secara alami bisa ia pahami dan pelajari sejak lahir.

Kapan usia yang tepat untuk mengajarkan anak membaca?

Asosiasi Dokter Anak Amerika Serikat (AAP) berpendapat usia yang paling ideal untuk mengajari anak membaca adalah pada umur 6-7 tahun. Di Indonesia, usia itu biasanya merupakan tahun pertama anak mengenyam pendidikan di sekolah dasar (SD).

Meskipun demikian, belajar membaca anak TK juga tidak dilarang oleh AAP. Jika anak sudah memperlihatkan minatnya pada buku di usia 4-5 tahun (saat masuk TK), maka sah-sah saja untuk mengajarkannya membaca.

Dalam sebuah penelitian, belajar membaca anak TK dianggap memiliki beberapa keuntungan, misalnya:

  • Anak memiliki tingkat literasi yang lebih baik

Bukan rahasia lagi bahwa mengenalkan anak dengan buku di usia sedini mungkin akan menjadikannya lebih menghargai buku itu sendiri. Jika kebiasaan ini mampu dipertahankan oleh orangtua, bukan tidak mungkin anak akan memiliki tingkat literasi yang lebih baik pada masa mendatang dibanding anak yang belum diajarkan membaca di usia yang sama.

Belajar membaca anak TK juga terbukti dapat membuat anak lebih antusias menghabiskan waktu dengan membaca. Namun, penelitian lanjutan menyatakan anak yang tidak pernah diajari membaca di TK memiliki tingkat antusiasme yang lebih tinggi lagi.

  • Anak lebih unggul dalam hal akademis

Membaca bisa dikatakan sebagai dasar akademis karena buku adalah jendela pengetahuan. Penelitian di Inggris dan Skotlandia juga membuktikan bahwa anak yang sudah bisa membaca sejak usia dini lebih unggul dibanding teman-teman mereka yang belum pernah diajarkan membaca sebelumnya.

Meski demikian, AAP menilai keunggulan ini bisa tidak bertahan lama. Anak lain yang belum pernah merasakan belajar membaca anak TK ternyata bisa mengejar ketertinggalannya saat duduk di kelas 2 atau 3 sekolah dasar.

  • Melatih anak membaca sejak dini

Tidak semua anak dapat belajar membaca dengan cepat atau dikategorikan sebagai ‘slow learner’. Oleh karena itu, mengajarkan belajar membaca anak TK dipercaya dapat membuatnya bisa belajar membaca dengan perlahan-lahan dan tak terlalu tertinggal dibanding teman-temannya.

Adakah bahaya belajar membaca anak TK?

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar membaca anak TK boleh dilakukan, bahkan memiliki banyak manfaat, asalkan anak sudah siap untuk masuk ke fase tersebut. Belajar membaca di TK hanya akan menimbulkan bahaya jika ia belum siap untuk belajar membaca, namun orangtua tidak menangkap sinyal tersebut atau terlalu memaksakan anak.

Bahaya tersebut di antaranya:

  • Anak kehilangan minat untuk membaca dalam jangka panjang
  • Anak menjadi bosan bahkan frustrasi
  • Menurunkan nilai akademis pada anak di masa-masa awal ia memasuki sekolah dasar.

Anda mungkin pernah mendengar bahaya mengenalkan buku terlalu dini yang akan mengakibatkan penglihatan anak terganggu, misalnya rabun. Namun, penelitian mengungkap bahwa klaim ini tidak memiliki dasar yang kuat.

Sama halnya ketika belajar membaca anak TK dikaitkan dengan ketidakmampuan anak untuk mengembangkan kemampuan motoriknya yang lain. Ada juga klaim yang menyatakan kebiasaan anak membaca akan membuat psikologisnya terganggu karena bosan.

Penelitian justru mengungkap bahwa membaca tidak menimbulkan bahaya tersebut.

Peran pengajar dan orangtua

Memasukkan anak ke TK yang sudah mengajarkan membaca saja tidak cukup. Anda pun harus memastikan bahwa TK tersebut memiliki kurikulum yang jelas terkait cara belajar membaca anak TK yang dimaksud.

Selain itu, pilih juga TK dengan rasio murid dan pengajar yang tidak terlalu timpang. Hal ini mengingat sebagian besar anak harus diajari secara personal dalam belajar membaca.

Tak kalah penting, kompetensi pengajar dalam mengajarkan anak membaca juga perlu diperhatikan. Tidak jarang, ada beberapa dari mereka yang sebetulnya tidak memiliki kompetensi maupun pemahaman menyeluruh terhadap karakteristik anak.

Terakhir, usaha belajar membaca anak TK tidak akan berhasil tanpa dukungan dari orangtua. Ketika anak di rumah, cobalah untuk lebih mendekatkannya pada buku, misalnya dengan membacakan buku cerita dan meletakkan buku cerita itu pada tempat yang terjangkau oleh anak-anak.

Very Well Family. https://www.verywellfamily.com/how-do-children-learn-to-read-1449108
Diakses pada 8 Maret 2020

Healthy Children by AAP. https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/preschool/Pages/Helping-Your-Child-Learn-to-Read.aspx
Diakses pada 8 Maret 2020

Waterford. https://www.waterford.org/education/how-young-is-too-young-to-teach-reading/
Diakses pada 8 Maret 2020

Eric Institue of Education Sciences. https://eric.ed.gov/?id=ED050912
Diakses pada 8 Maret 2020

Washington Post. https://www.washingtonpost.com/news/answer-sheet/wp/2015/08/17/why-pushing-kids-to-learn-too-much-too-soon-is-counterproductive/
Diakses pada 8 Maret 2020

Artikel Terkait