Pisah Ranjang, Bisakah Menyelamatkan Pernikahan?


Pisah ranjang tidak selalu berarti hancurnya rumah tangga seseorang. Bahkan, bisa jadi ini adalah cara untuk menjaga pernikahan. Seperti apa caranya?

(0)
29 Nov 2020|Azelia Trifiana
Pisah ranjang tidak selalu berarti hancurnya rumah tangga seseorangMetode pisah ranjang bisa digunakan untuk menyelamatkan pernikahan
Pisah ranjang tidak selalu berarti hancurnya rumah tangga seseorang. Bahkan, bisa jadi ini adalah cara untuk menjaga pernikahan. Dengan berpisah untuk sementara, siapa tahu keduanya bisa kembali bersama dengan pikiran yang lebih jernih.Umumnya, fase pisah ranjang ini diambil sebelum mengambil keputusan bercerai. Dengan tidak tidur dan menghabiskan waktu selalu bersama, bisa diperoleh pandangan apa bagaimana hidup terpisah sebelum mengambil keputusan besar seperti perceraian.

Pisah ranjang, baik atau buruk?

Ketika melakukan pisah ranjang, kesepakatan diambil antara kedua belah pihak saja. Umumnya, tidak ada orang ketiga yang ikut campur seperti pengacara atau pihak keluarga.Saat sepakat melakukan pisah ranjang, beberapa hal harus disepakati dengan jelas, seperti:
  • Tinggal terpisah atau tetap satu rumah namun berbeda ruangan
  • Membagi tugas terkait kewajiban membayar kebutuhan
  • Mengatur pembagian finansial setiap bulannya
  • Jika ada anak, memutuskan akan ikut siapa
  • Bekerja sama membahas siapa yang akan mengelola aset seperti rumah
Bagaikan dua sisi mata uang. Pisah ranjang bisa menjadi langkah lebih dekat dan tertata menuju perceraian. Di sisi lain, ini bisa menjadi periode menjernihkan pikiran sehingga dapat menyelesaikan masalah tanpa emosi berlebihan.Mana yang akan terjadi pada sebuah pernikahan tentu berbeda-beda. Jika pisah ranjang berhasil membuat pasangan tertentu kembali akur, belum tentu demikian halnya pada orang lain.

Manfaat pisah ranjang

pasangan berpelukan
Pisah ranjang dapat membuka peluang untuk kembali bersama
Beberapa hal ini dapat berpotensi menjadi manfaat melakukan pisah ranjang:

1. Mengelola emosi

Berpisah untuk sementara waktu dengan pasangan memberi ruang untuk mengenali emosi serta memproses apa yang terjadi. Ada banyak hal yang memicu rumah tangga berakhir. Inilah akar masalah yang perlu diselami lebih dalam hingga bertemu titik terang.Jika tidak berada satu atap dengan pasangan, maka pikiran dan emosi bisa lebih jernih. Validasi emosi pun lebih memungkinkan dilakukan tanpa distraksi.

2. Mengatur respons yang tepat

Terkadang ada saja hal sepele pemicu konflik dengan pasangan. Ketika merespons hal ini, kebiasaan yang muncul bisa mengomel, memarahi, hingga merendahkan pasangan tanpa disadari. Lama kelamaan, hal ini bisa menjadi sumber konflik yang cukup besar. Pisah ranjang memberi ruang untuk berhenti melanggengkan potensi gesekan.

3. Apresiasi pasangan

Ketika pisah ranjang membuat hal-hal negatif seperti mengomel dan menggerutu terhenti, di situlah apresiasi terhadap pasangan bisa muncul. Saat sudah tidak satu atap, baru disadari betapa bisa diandalkannya pasangan selama ini. Mungkin saja terus menerus berada satu rumah membuat hal itu luput terlihat.

4. Menenangkan diri

Apabila pasangan ketahuan selingkuh, pisah ranjang akan memberi kesempatan untuk menenangkan diri. Tak hanya itu, berpisah ini memungkinkan pemulihan diri sebelum benar-benar terjun mencari solusi atas akar masalahnya.

5. Proyeksi masa depan

Jika keputusan bercerai akan diambil, pisah ranjang akan menjadi bayangan bagaimana jika tak lagi tinggal bersama pasangan. Inilah momen merasakan tidak memiliki pasangan. Apakah terasa tepat atau tidak, setiap orang tentu akan menjumpai kesan berbeda.

Adakah risikonya?

Pisah ranjang malah bisa mengarah ke perceraian
Meski pisah ranjang bisa memberikan manfaat, ada saja risiko yang mungkin muncul. Beberapa kemungkinannya seperti:
  • Menjauh satu sama lain

Pisah ranjang bisa saja justru terasa sebagai langkah yang tepat untuk mulai bergerak dengan jalan masing-masing. Terlebih jika seseorang merasa hidupnya lebih kondusif ketika hidup sendiri, maka keputusan untuk kembali bersama bisa menjadi kian mustahil.
  • Bukan transisi yang mulus

Apabila pasangan sudah sepakat akan bercerai, pada dasarnya pisah ranjang bukan fase transisi yang mulus. Justru, ini akan membuat seseorang merasa sakit hati lebih lama dan merasa perjuangan selama ini sia-sia.
  • Masalah tetap ada

Apa jadinya jika pisah ranjang tidak menyelesaikan akar masalah? Ini mungkin saja terjadi. Perkara uang atau kepercayaan, misalnya. Jika tidak dikomunikasikan secara langsung, bisa jadi titik temunya semakin tak tergapai.
  • Isu pribadi diketahui orang lain

Siap pisah ranjang, harus siap juga meladeni pertanyaan orang lain tentang apa yang terjadi di rumah tangga Anda. Apakah sudah siap menceritakannya kepada teman atau keluarga? Alih-alih membuat tenang, situasi ini bisa saja justru membuat suasana hati semakin kusut.
  • Anak-anak merasa bingung

Bagi pasangan yang sudah memiliki anak dan memutuskan pisah ranjang, perhitungkan pula bagaimana reaksi anak-anak. Mereka belum mengerti betul apa yang terjadi, tapi mengapa diminta berpisah dengan salah satu orangtua mereka? Fase ini bisa saja terasa sulit bagi mereka.Pisah ranjang tidak bisa dijadikan keputusan yang sama rata bisa diterapkan pada semua orang. Ada banyak faktor yang ikut berperan. Jangan ragu untuk berkomunikasi secara terbuka, utamanya untuk hal-hal sensitif seperti finansial dan pengasuhan anak.

Catatan dari SehatQ

Saat pisah ranjang pun pastikan semua aturan mainnya sudah disepakati sejak awal. Apakah masih boleh bertemu? Apakah diperkenankan dekat dengan orang lain? Bagaimana interaksi dengan anak? Semuanya harus sudah didiskusikan dengan matang.Jika merasa kalut dengan situasi yang tengah dihadapi, bantuan profesional seperti konselor pernikahan mungkin bisa membantu. Anda bisa konsultasi langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.  
kesehatan mentalperceraianmempertahankan pernikahanmenjalin hubungan
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/could-a-trial-separation-actually-save-your-marriage-4846984
Diakses pada 14 November 2020
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/blog/contemplating-divorce/201004/can-temporary-separation-make-relationship-stronger
Diakses pada 14 November 2020
Relate. https://www.relate.org.uk/relationship-help/help-relationships/feeling-unsatisfied-your-relationship/trial-separations-do-they-work
Diakses pada 14 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait