7 Pertanyaan untuk Pasangan yang Harus Didiskusikan Sebelum Mantap Menikah


pertanyaan yang harus didiskusikan dengan pasangan sebelum menikah bukan cuma seberapa besar bujet untuk menggelar pesta kawinan. Bukan pula hanya tentang berapa dan atas nama siapa cicilan rumah harus dibayarkan. 

(0)
pasangan berdiskusi untuk mengajukan pertanyaan penting sebelum menikahMenikah perlu banyak pertimbangan yang mesti didiskusikan berdua, maka jangan ragu untuk mengajukan pertanyaan pada pasangan mengenai rencana masa depan Anda berdua
Menikah dan berumah tangga adalah komitmen seumur hidup yang dibuat berdua. Oleh karena itu, pertanyaan yang harus didiskusikan dengan pasangan sebelum menikah bukan cuma seberapa besar bujet untuk menggelar pesta kawinan. Bukan pula hanya tentang berapa dan atas nama siapa cicilan rumah harus dibayarkan. Anda benar-benar perlu mengenal sosok masing-masing luar dan dalam sebelum mantap memutuskan menikah. Anda dan pasangan juga perlu berdiskusi lebih dalam soal bagaimana masa depan Anda berdua seterusnya setelah hajatan selesai.Maka itu, berdiskusi tentang hal-hal yang menjadi prinsip dan pegangan hidup sebaiknya dilakukan jauh sebelum mengangkat topik tanggal perkawinan.Bagaimana caranya? Coba sisihkan waktu luang khusus untuk berdua bisa mencari jawaban dari berbagai pertanyaan berikut ini sebagai pertimbangan sebelum mantap menikah.

Pertanyaan untuk pasangan yang wajib didiskusikan sebelum menikah

Berdiskusi mengenai segala urusan pesta pernikahan, dari menu catering, lokasi, harga sewa gaun dan dekorasi, sampai pilih-pilih suvenir memang penting. Namun jauh sebelum itu, ada banyak hal bersifat prinsipil yang perlu Anda berdua diskusikan.Diskusi sebelum menikah penting untuk menyatukan visi dan harapan. Sebab, Anda dan pasangan sejatinya adalah dua individu yang unik dan mungkin memiliki banyak perbedaan. Entah itu cara asuhan dan didikan yang berbeda hingga adat, kebiasaan, dan kepentingannya karena pengalaman hidup setiap orang tidak selalu sama.Semua perbedaan ini amatlah wajar dan sangat manusiawi. Namun, berdiskusi dan negosiasi dapat meminimalisir konflik serta perdebatan karena semua sudah dibicarakan terang-terangan sebelumnya.Lantas, apa saja pertanyaan yang wajib didiskusikan untuk pasangan yang akan menikah?

1. Apakah kita ingin punya anak?

pasangan suami istri
Pertanyaan mengenai anak adalah salah satu bahan untuk diskusi yang wajib dibicarakan jauh sebelum ingin menikah. Sebab bagi kebanyakan orang, urusan anak adalah prinsip hidup. Jika Anda berdua sama-sama ingin punya anak, kini pertanyaan selanjutnya yang perlu dibahas adalah berapa banyak dan kapan Anda ingin memilikinya? Apakah Anda atau pasangan ingin menunggu beberapa tahun dulu, atau mau segera punya momongan setelah menikah?Setelah itu, perlu juga untuk mendiskusikan bagaimana rencana masing-masing untuk mendidik dan membesarkan anak nantinya.Jika salah satu dari Anda tidak menginginkan anak, cobalah untuk mengemukakan alasannya seterbuka mungkin. Beberapa orang mungkin ingin merasa bebas berkarir, tidak merasa mampu secara finansial, atau khawatir tak bisa jadi orang tua yang baik.Lainnya mungkin memiliki masalah kesehatan yang memengaruhi kesuburan atau proses kehamilan.Apa pun alasannya, semua itu sahih dan Anda wajib menghormati pandangannya sebagai pasangan. Cobalah untuk mencari jalan tengah yang terbaik untuk kedua belah pihak, dan apa yang bisa Anda berdua lakukan ke depannya.Terlepas dari ingin tidaknya, penting juga untuk membahas pertanyaan soal penggunaan kontrasepsi dengan pasangan sebelum menikah. Jawaban dari pertanyaan ini akan sangat berguna untuk Anda dan pasangan merencanakan kehamilan atau malah menghindarinya sama sekali.

2. Bagaimana kita berbagi tugas rumah tangga?

Jangan berasumsi bahwa pasangan akan melakukan tugas rumah tertentu jika tidak pernah dibicarakan di depan. Setiap orang mungkin punya pandangan tersendiri mengenai pekerjaan rumah tangga. Beberapa memang ada yang sudah sangat terbiasa mengerjakan semuanya sendiri, tapi ada juga yang sama sekali tidak pernah beres-beres rumah sendiri. Tidak sedikit pula yang menganggap bahwa urusan beres-beres rumah adalah murni tugas perempuan.Setelah menikah nanti, Anda dan pasangan adalah mitra yang berkedudukan setara sehingga soal perawatan rumah juga perlu diemban berdua. Ingatlah bahwa rumah dan segala isinya adalah milik Anda berdua yang harus dijaga bersama-sama.Maka baiknya diskusikanlah soal tanggung jawab ini di depan: siapa yang bertanggung jawab untuk tugas apa sementara yang satunya mengerjakan apa.Jika Anda berdua setuju untuk membagi rata kewajiban rumah, bicarakan hal-hal apa saja yang sanggup Anda lakukan dan tidak. Sebagai contoh, Anda mungkin tidak masalah untuk cuci piring dan cuci-setrika baju tapi tidak suka mengepel dan menyapu. Pasangan bisa mengajukan diri untuk melakukan dua hal tersebut.Sebaliknya apabila Anda berdua sepakat agar segala pekerjaan rumah utama diurus pihak perempuan, pasangan laki-laki dapat mengambil alih tanggung jawab lain yang mungkin tidak “terpegang”.

3. Siapa yang mencari nafkah?

Persoalan ini tidak bisa dielak juga sering menjadi sumber cekcok bagi banyak pasangan yang berencana menikah. Terutama jika kedua belah pihak memiliki pekerjaan dan karir yang mapan, serta pendapatannya masing-masing.Gunakan petunjuk berikut untuk mengetahui apakah pandangan Anda dan pasangan tentang pekerjaan dan kehidupan rumah sejalan:
  • Seberapa penting pekerjaanmu bagi dirimu sendiri?
  • Pengorbanan pribadi seperti apa yang rela dan harus kamu lakukan untuk meniti karier pilihanmu?
  • Apakah kamu mampu menyeimbangkan kebutuhan pekerjaan dan rumah? Bagaimana Anda melakukannya?
  • Apakah kamu bisa memahami/mendukung pekerjaanku, jika pekerjaan itu terlalu banyak menuntut waktuku? Apa itu membuatmu khawatir? Bagaimana jika pada akhirnya aku dipromosikan atau berganti karier dan memiliki penghasilan yang lebih besar darimu?
  • Apakah kamu berencana untuk melanjutkan pendidikan atau pelatihan khusus untuk mengasah skill karier? Jika ya, bagaimana kerangka waktunya untuk menyelesaikan semua itu sampai kamu mendapatkan pekerjaan yang diharapkan?
  • Bagaimana jika seandainya kamu tidak lagi memiliki pekerjaan itu, baik itu resign sukarela atau tidak — misal di-PHK atau dipecat? Adakah ekspektasi atau rencana tentang bagaimana atau siapa yang akan menghasilkan uang sementara itu?
Diskusi ini memang pelik, tapi jangan sampai terbawa emosi. Jika ada perbedaan, telaah lagi seberapa sulitnya perbedaan itu untuk diselesaikan dan apakah ada ruang untuk kompromi.Jika ada, cobalah mencari jalan tengahnya.Sebagai contoh pihak perempuan mungkin bisa “mengalah” untuk berhenti kerja sementara jika Anda berdua sepakat untuk memiliki anak. Ketika anak sudah agak besar, istri boleh kembali bekerja sesuain kesepakatan.Contoh lainnya adalah dengan menitipkan anak di daycare, rumah orang tua, atau mempekerjakan baby sitter yang terpercaya jika kedua pasangan memutuskan untuk tetap bekerja.

4. Bagaimana dengan keuangan rumah tangga kita?

mengatur keuangan rumah tangga
Siapa yang  bertanggung jawab mengatur keuangan rumah tangga?
Pertanyaan di atas adalah kelanjutan dari “siapa yang mencari nafkah?”. Masalah keuangan merupakan topik diskusi yang sensitif bagi banyak orang. Namun, pertanyaan ini juga mesti dijawab dari jauh hari sebelum pasangan memutuskan untuk menikah.Siapa yang akan bertanggung jawab untuk mencari nafkah dan mengatur keuangan rumah tangga; apakah sang istri, dibagi berdua, atau suami?Kemudian, perlukah membuat rekening bersama untuk transaksi rumah tangga jika Anda berdua sama-sama memiliki pendapatan tetap? Hal-hal apa saja yang perlu rutin dibayarkan dari rekening bersama, dan apa yang bisa dibayar dari rekening pribadi?Lebih lanjut, apakah ada rencana untuk menabung; baik itu untuk tabungan pendidikan anak, tabungan jalan-jalan berdua, atau tabungan di masa pensiun? Jika ya, bagaimana Anda berdua akan mengaturnya?Bagaimana dengan utang-piutang? Apakah salah satu dari Anda ada yang memiliki tanggungan utang atau cicilan tertentu sejak sebelum menikah? Jika ya, bagaimana langkah ke depannya untuk melunasi semua itu sementara juga harus mempertimbangkan pengeluaran rumah tangga?Banyak orang yang memandang sebelah mata persoalan ini dengan berpikiran “jalani saja dulu”. Namun, prinsip “coba-coba” mungkin hanya akan berhasil jika kedua pihak memiliki pemikiran yang sama perihal keuangan.Jika tidak, ini dapat menyebabkan konflik dalam rumah tangga. Salah satu pihak mungkin merasa keuangan rumah sangat dibatasi, sementara yang lain merasa pasangan mereka tidak bisa mengatur finansial dengan baik.

5. Bagaimana jika kita bertengkar nanti?

pasangan suami istri bertengkar
cara menangani konflik penting didiskusikan calon pasutri
Bulan-bulan pertama pernikahan adalah masa bulan madu yang terasa serba romantis, indah dan membahagiakan layaknya dunia milik berdua.Di masa-masa ini pula kedua belah pihak masih merasa “jaim” dan selalu siap siaga menampilkan sisi terbaik mereka di hadapan pasangan baru. Meski demikian, masa-masa semanis madu ini bisa membuat kita tidak benar-benar memahami bagaimana mereka berperilaku saat sedang di bawah tekanan atau stres.Respon setiap orang memang berbeda ketika dihadapkan dengan stres dan ini sebetulnya wajar. Namun ingatlah bahwa rumah tangga adalah bahtera yang dikemudikan berdua.Perjalanan ini dapat menghadirkan lebih banyak tekanan yang mungkin tak pernah Anda hadapi sebelumnya. Sebab, permasalahan dalam perkawinan akan jauh lebih rumit daripada ketika bertengkar waktu masih pacaran.Oleh karena itu, pahamilah bagaimana cara masing-masing pihak untuk menghadapi konflik dan bagaimana menyelesaikannya.Mungkin, ada salah satu dari Anda yang lebih memilih untuk menyendiri dulu untuk menenangkan pikiran. Ada yang tidak mau menunda dan langsung menyelesaikan masalah pada saat itu juga agar hati jadi lebih plong.Di sisi lain, ada pula yang “cepat panas” dan emosian sehingga mungkin perlu lebih hati-hati saat mendekatinya. Apakah salah satu dari Anda selalu yang pertama berargumen sementara yang lain selalu meminta maaf lebih dulu?Temukanlah jalan tengah yang baik untuk Anda berdua agar konflik tersebut nantinya tidak malah semakin memanas.Keberhasilan suatu hubungan sangat ditentukan dari bagaimana pasangan menangani masalah bersama. Secara umum, perkawinan yang paling sehat memiliki gaya komunikasi yang penuh hormat dan jujur, tanpa trik manipulasi, tendensi pasif-agresif, kekerasan, atau perebutan kekuasaan.

6. Apakah aku boleh punya me-time?

wanita minum kopi saat me time
menghabiskan waktu sendiri bukan berarti sudah tidak cinta lagi
Meski nanti akan selalu hidup berdua sesuai janji nikah, Anda dan pasangan tetap merupakan dua insan yang berbeda.Tidak sedikit pasangan yang memiliki kebiasaan dan hobi yang jauh bertolak belakang. Selain itu, pasangan mungkin juga punya ekspektasi yang berbeda mengenai apa arti privasi.Maka, tidak ada salahnya saling menanyakan kapan Anda dan dirinya paling membutuhkan waktu untuk menyendiri. Coba kulik juga apa persamaan dan perbedaan lain dari gaya hidup Anda? Apakah Anda termasuk orang yang aktif sementara pasangan Anda lebih suka di rumah? Apakah Anda punya kelompok pertemanan sendiri-sendiri?Berangkat dari situ, diskusikan bagaimana pandangan Anda berdua tentang waktu luang: kapan dan bagaimana bisa dihabiskan bersama, dan kapan kita bisa “berpisah” untuk melakukan hobi atau kegiatan yang diminati masing-masing. Meluangkan waktu “menyendiri” meski sudah resmi menjadi suami istri bukan berarti Anda egois, sudah tidak cinta, atau tidak peduli lagi. Me time” memberikan ruang bagi Anda sebagai seorang individu untuk tumbuh dan berkembang sembari berbagi pengalaman, wawasan, ide, dan pemikiran baru ketika Anda dan pasangan “bersatu” kembali.Menyempatkan me-time juga dapat membuat Anda lebih menghargai keberadaan dan pentingnya pasangan dalam hidup. Oleh karena itu, waktu “me time” bisa sama berharganya dengan waktu yang dihabiskan bersama.Namun ingat, jangan gunakan waktu me time sebagai celah untuk lari dari masalah atau dengan melakukan hal-hal yang dapat memunculkan masalah baru.

7. Seperti apa peran keluarga masing-masing dalam rumah tangga kita?

Pernikahan tidak cuma menyatukan dua insan, tapi dua keluarga besar yang pasti punya aturan dan kebiasaannya masing-masing. Maka, tidak cukup untuk hanya meyakinkan diri Anda nyaman hidup bersama si dia. Anda juga perlu memastikan bahwa hubungan Anda dengan mertua serta keluarganya yang lain terasa nyaman. Begitu juga sebaliknya. Pasangan haruslah merasa nyaman dengan keluarga Anda.Seberapa dekat dan terbukanya Anda dan pasangan untuk menceritakan kehidupan sehari-hari Anda dengan mereka?Lebih lanjut, peran apa yang akan dimiliki mertua Anda dalam kehidupan anak-anak Anda nantinya? Apa yang terjadi seiring bertambahnya usia orang tua masing-masing dan membutuhkan perhatian? Apa yang terjadi jika mereka perlu meminjam uang, atau sebaliknya mereka memberi Anda jumlah yang mungkin membuat segan?Bagaimana dengan liburan hari raya? Anda dan pasangan mungkin terbiasa untuk mudik setiap hari lebaran, natal, imlek, maupun di hari-hari raya lain.Nah sekarang, bagaimana Anda berencana untuk membagi waktu yang adil kepada kedua kelompok keluarga ini selama liburan besar?Meski tampak sepele, diskusi “jadwal piket hari raya” penting agar tidak menumbuhkan perang dingin antar keluarga karena merasa ditelantarkan.

Pesan SehatQ

Mungkin tidak semua pertanyaan untuk pasangan ini bisa langsung didapat jawaban pastinya sebelum menikah. Beberapa hal bisa saja baru Anda dapatkan solusinya ketika sudah berhadapan langsung dengan masalah.Di samping itu, pertanyaan-pertanyaan di atas juga tidak termasuk diskusi soal kesehatan pribadi, mulai dari "Apakah kamu memiliki riwayat kesehatan tertentu yang harus aku ketahui?" dan "Apakah kamu sudah menjalani tes kesehatan sebelum menikah?"Dengan berdiskusi, Anda berdua setidaknya jadi memiliki arah dan peta yang lebih jelas supaya lancar mengarungi bahtera rumah tangga. Semakin Anda berdua memiliki ekspektasi yang lebih jelas terhadap satu sama lain, akan semakin andal Anda untuk mengantisipasi perubahan dalam rencana dan menanggulangi risiko di masa depan.
asmarapernikahanpercintaanrumah tanggamenjalin hubungan
Counseling Center. https://counselingcenter.org/13-questions-to-ask-before-getting-married/Diakses 8 April 2021 Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/friendship-20/201705/18-questions-ask-getting-marriedDiakses 8 April 2021 New York Times. https://www.nytimes.com/interactive/2016/03/23/fashion/weddings/marriage-questions.htmlDiakses 8 April 2021 Womens Health. https://www.womenshealthmag.com/relationships/a19925532/conversations-to-have-before-getting-married/Diakses 8 April 2021 Huffington Post. https://www.huffpost.com/entry/15-things-every-couple-mu_b_5638629Diakses 8 April 2021 Good Therapy. https://www.goodtherapy.org/blog/self-care-in-relationships-creating-me-time-within-we-0512165Diakses 8 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait