Perlukah Memberikan Suplemen Vitamin untuk Bayi? Simak Penjelasannya

Tidak semua bayi membutuhkan vitamin bayi
Beberapa orangtua ada yang meminta vitamin bayi guna mencukupi kebutuhan nutrisi buah hati

Semua orangtua tentu menginginkan yang terbaik bagi sang buah hati, termasuk mengenai pemberian tambahan vitamin dan mineral. Alhasil, tak sedikit orangtua yang meminta vitamin bayi guna mencukupi kebutuhan nutrisi Si Kecil saat kunjungan rutin ke dokter, ataupun saat bayi sedang sakit.

Apakah semua bayi membutuhkan tambahan vitamin?

Jawabannya, bisa iya atau tidak. Pada bayi baru lahir, misalnya, ia akan mendapatkan asupan gizi utama melalui air susu ibu (ASI) selama 6 bulan.

Namun, ketika bayi sudah boleh dikenalkan dengan makanan padat pertama selepas ASI eksklusif, maka ia akan membutuhkan cukup banyak nutrisi. Hal ini termasuk karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.

Dokter spesialis anak mungkin memberikan vitamin bayi atau mungkin saja tidak. Pasalnya, pemberian vitamin bayi merupakan sebuah suplementasi atau pelengkap. Ini artinya, vitamin dan mineral hanya diberikan pada bayi dan anak bila kebutuhan mikronutriennya tidak dapat terpenuhi dari asupan makanan sehari-hari.

Bayi yang mendapat asupan makanan dari berbagai macam nutrisi tentu tidak membutuhkan vitamin bayi tambahan. Akan tetapi, bayi dengan kondisi kesehatan tertentu bisa saja direkomendasikan untuk diberikan vitamin bayi.

Adapun beberapa kondisi kesehatan yang membuat bayi perlu diberikan vitamin bayi, antara lain:

1. Bayi lahir prematur

Bayi lahir prematur membutuhkan kebutuhan nutrisi yang berbeda dibandingkan bayi lahir normal. Bayi prematur tidak memiliki jumlah vitamin dan mineral yang cukup seperti halnya pada bayi lahir normal.

Akibatnya, mereka membutuhkan lebih banyak asupan vitamin dan mineral yang tidak diperoleh dari ASI saja, melainkan juga vitamin bayi dan mineral tambahan. Jenis dan dosis vitamin bayi yang diberikan tergantung pada berapa usia bayi lahir prematur dan kondisi kesehatannya.

2. Bayi lahir dengan kondisi kesehatan tertentu

Bayi yang lahir dengan kondisi medis tertentu biasanya membutuhkan zat besi serta vitamin dan mineral yang lebih banyak sejak awal kelahirannya. Jenis vitamin bayi yang diberikan tergantung pada kondisi medis yang dialami Si Kecil.

3. Bayi dengan ASI ekskusif

Mengingat prevalensi jumlah kekurangan zat besi pada bayi yang hanya mendapatkan ASI cukup tinggi, maka pemberian suplemen zat besi perlu dilakukan. Akan tetapi, langkah ini tidak perlu dilakukan pada bayi yang mengonsumsi susu formula atau makanan yang sudah diberi tambahan vitamin. 

4. Ibu bayi adalah seorang vegetarian

Daging dan produk olahan susu merupakan sumber vitamin B12. Jika Anda adalah seorang vegetarian maka ASI yang diproduksi tentu tidak mengandung vitamin B12 yang cukup.

Anda bisa saja mengonsumsi suplemen vitamin B12 selama hamil dan menyusui. Meski demikian, jika kadar vitamin B12 dalam ASI rendah, maka bayi Anda mungkin akan membutuhkan vitamin bayi tambahan.

Selain itu, vitamin bayi juga penting diberikan bagi bayi yang memiliki berat badan rendah, minum ASI dengan jumlah lebih sedikit bila dibandingkan dengan bayi lain seusianya, serta bayi yang mengonsumsi makanan dengan nutrisi itu-itu saja.

Jadi, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak jika Anda memiliki kekhawatiran terhadap perkembangan tumbuh kembang bayi Anda.

Jenis vitamin bayi untuk mendukung kesehatan dan tumbuh kembangnya

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, vitamin bayi hanya diperlukan bila anak kekurangan zat gizi atau memiliki kondisi medis tertentu. Jika ia makan dan menyusui dengan baik, tidak memiliki masalah kesehatan tertentu, dan secara umum kondisi kesehatannya baik maka tidak perlu memberikan vitamin bayi.

Berikut adalah berbagai jenis vitamin bayi yang dapat diberikan guna memastikan kondisi kesehatan dan tumbuh kembang bayi tetap baik. Namun lagi-lagi harus disesuaikan dengan kondisi bayi.

1. Vitamin A

Salah satu vitamin bayi yang penting untuk kesehatan dan tumbuh kembangnya adalah vitamin A. Vitamin A berperan dalam mendukung sistem kekebalan tubuh bayi serta menjaga kesehatan mata dan kulitnya.

World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian vitamin A sebesar 100.000 U (kapsul biru) pada bayi usia 6-11 bulan dan vitamin A sebesar 200.000 U (kapsul merah) pada anak usia 12-59 bulan setiap 4-6 bulannya.

Rekomendasi dari WHO ini sudah diterapkan dalam program pemerintah, yaitu pemberian vitamin A secara rutin pada bulan vitamin A (Februari dan Agustus).

Vitamin A juga dapat diperoleh dari berbagai jenis makanan, seperti wortel, ubi, kuning telur, bayam, brokoli, kol, mangga, minyak ikan, hati sapi, hingga produk olahan susu.

2. Vitamin B12

Vitamin bayi lainnya yang juga dibutuhkan adalah vitamin B12.

Vitamin B12 sangat penting untuk perkembangan sistem saraf bayi. Selain itu, jenis vitamin untuk bayi ini juga berperan dalam mempertahankan sel-sel saraf dan darah agar tetap sehat serta membuat DNA, yang merupakan materi genetik di setiap sel.

Vitamin bayi satu ini bisa diperoleh dari berbagai makanan, seperti ikan, daging merah, daging ayam, telur, susu, dan produk olahan susu lainnya.

Jika bayi Anda tidak mendapat asupan vitamin B12 yang cukup, maka bayi mungkin saja mendapat asupan vitamin B12 tambahan.

3. Vitamin C

Vitamin C berperan dalam melindungi tubuh dari infeksi, membantu tubuh menyerap zat besi, membangun kekuatan otot dan tulang, serta membantu proses penyembuhan luka.

Bayi berusia 1-3 tahun membutuhkan asupan vitamin C sebanyak 15 miligram per hari. Sementara, bayi di atas usia 3 tahun memerlukan asupan vitamin C sebesar 25 miligram per hari.

Vitamin bayi ini secara alami terdapat dalam buah dan sayuran, seperti jeruk, pepaya, stroberi, kiwi, mangga, jambu biji, kembang kol, kentang, dan brokoli.

4. Vitamin D

Vitamin D diperlukan bagi bayi untuk membangun kekuatan tulang dan gigi, membantu tubuh menyerap kalsium, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh guna mencegah infeksi. ASI yang biasa dikonsumsi oleh bayi ternyata hanya mengandung sedikit vitamin D.

Oleh sebab itu, American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian suplementasi vitamin D sebesar 400 IU pada bayi ASI eksklusif serta bayi yang minum susu formula kurang dari 1 liter sehari.  Namun, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang dapat merekomendasikan suplemen vitamin D secara rutin untuk anak Indonesia.

Selain pemberian tambahan vitamin D untuk bayi, sumber vitamin D juga dapat diperoleh dari paparan sinar matahari yang langsung mengenai kulit. Meski demikian, bukan berarti bayi Anda boleh dijemur dalam waktu yang lama di bawah sinar matahari, ya.

Bayi boleh dijemur selama beberapa menit saja di pagi hari sebelum pukul 9 pagi. Ketika menjemur bayi, lindungi mata bayi dari sinar matahari langsung dengan kacamata khusus serta jangan lupa untuk mengoleskan tabir surya (sunscreen) pada permukaan kulit tubuh bayi.

5. Zat besi

Zat besi merupakan salah satu jenis mineral yang penting untuk pertumbuhan dan tumbuh kembang bayi. Zat besi juga dibutuhkan bagi sel darah merah untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Secara umum bayi mendapatkan asupan zat besi melalui ASI, walaupun hanya dalam jumlah sedikit, selama 6 bulan pertama. Pemberian zat besi disarankan diberikan secara rutin sejak bayi berusia 6 bulan selama 3 bulan setiap tahunnya.

Akan tetapi, ketika bayi sudah di atas usia 6 bulan, asupan zat besi yang didapat dari ASI bisa saja tidak mencukupi. Maka dari itu, pada saat bayi berusia 1 tahun, dokter mungkin akan melakukan tes pemeriksaan guna mengetahui kadar zat besi dalam tubuh bayi jika ada tanda-tanda defisiensi zat besi.

Selanjutnya, dokter akan merekomendasikan apakah bayi Anda membutuhkan asupan zat besi tambahan atau tidak. Bila diperlukan, Anda akan memberikan zat besi tambahan dalam bentuk cairan sebanyak 1 mg/kg/hari.

Selebihnya, ibu dapat memberikan asupan zat besi melalui makanan, seperti daging merah, ikan, bayam, tahu, dan kentang.

6. Zinc

Mineral untuk bayi yang tak kalah penting adalah zinc. Suplementasi zinc terbukti dapat menurunkan insidens diare dan pneumonia, mendukung pertumbuhan linear, dan memiliki efek positif dalam menurunkan angka kematian terkait penyakit infeksi.

Suplementasi zinc diberikan secara rutin selama minimal 2 bulan setiap 6 bulan sekali, pada bayi usia 6-23 bulan.

Vitamin dan mineral lainnya dibutuhkan dalam jumlah kecil dan tidak memiliki dampak kesehatan besar sehingga biasanya dapat terpenuhi dari makanan sehari-hari.

Catatan dari SehatQ

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa beberapa vitamin dan mineral penting dalam mewujudkan tumbuh kembang bayi yang optimal.

Kendati demikian, ada berbagai hal yang perlu dipertimbangkan oleh dokter Anda sebelum akhirnya memberikan vitamin bayi. Oleh sebab itu, penting untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak terlebih dahulu.

Jika bayi Anda akhirnya mendapatkan suplementasi vitamin bayi, pastikan bahwa suplementasi tersebut aman dan memang benar-benar dibutuhkan.

Verywell Family. https://www.verywellfamily.com/do-breastfed-babies-need-vitamin-supplements-4151075

Diakses pada 28 Februari 2020

Baby Center. https://www.babycenter.com/404_does-my-baby-need-to-take-vitamins_9154.bc

Diakses pada 28 Februari 2020

Baby Center. https://www.babycenter.com/0_vitamin-c-in-your-childs-diet_10324695.bc

Diakses pada 28 Februari 2020

Ikatan Dokter Anak Indonesia. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/perlukah-suplementasi-vitamin-dan-mineral-pada-bayi-dan-anak

Diakses pada 28 Februari 2020

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/vitamins-and-minerals/vitamin-b/

Diakses pada 28 Februari 2020

Artikel Terkait