Perlu Tahu, Ini Macam-Macam Zat Aditif pada Makanan

Macam-macam zat aditif memiliki fungsinya sendiri, misalnya MSG untuk menambah rasa makanan
MSG merupakan salah satu zat aditif pada makanan yang paling sering ditemukan

Anda mungkin sering mendengar bahwa zat aditif adalah bahan kimia yang berbahaya. Mengonsumsi bahan tambahan makanan ini diyakini dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung, hingga kanker.

Tapi sebenarnya, ada banyak zat aditif yang tergolong aman bagi kesehatan. Beberapa di jenisnya bahkan bisa ditemukan secara alami pada tumbuhan. Untuk lebih jelasnya, mari kenali macam-macam zat aditif pada makanan serta fungsinya.

Apa itu zat aditif?

Zat aditif adalah bahan kimia yang ditambahkan ke dalam makanan untuk berbagai tujuan. Selain sebagai bahan pengawet agar makanan lebih tahan lama, macam-macam zat aditif sudah dimanfaatkan sejak berabad-abad lalu dalam mempercantik tampilan makanan dan memberikan aroma yang lebih sedap.

Selama ini, zat aditif amat berperan dalam kelancaran produksi makanan dalam jumlah besar. Membuat makanan dalam skala besar tentu berbeda dengan skala kecil di rumah.

Penggunaan macam-macam zat aditif diperlukan untuk memastikan makanan agar tetap aman sepanjang perjalanannya, dari pabrik hingga sampai ke konsumen.

Penggunaan zat aditif sudah diatur oleh BPOM

Tidak semua zat aditif itu berbahaya. Beberapa jenisnya aman untuk dikonsumsi, selama dalam jumlah tertentu.

Di Indonesia, zat aditif disebut dengan istilah bahan tambahan pangan (BTP). Penggunaannya telah diatur oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

BPOM menyatakan bahwa zat aditif boleh ditambahkan ke dalam makanan dengan jumlah yang tidak melebihi batas maksimal yang sudah ditentukan.

Zat aditif juga dibedakan menjadi dua, yaitu zat aditif alami dan zat aditif sintetis. Zat aditif yang alami bisa berasal dari tumbuhan, hewan, atau mineral. Sementara jenis sintesis merupakan zat aditif yang dibuat oleh manusia.

Macam-macam zat aditif yang umum digunakan

Berikut sederet jenis zat aditif yang umum ditambahkan ke dalam pangan beserta fungsi dan keamanannya:

  • Monosodium glutamate (MSG)

Tentu Anda sudah familiar dengan MSG serta desas-desus bahayanya. Bahan ini terkenal dapat membuat hidangan terasa lebih gurih, dan bisa ditemukan di berbagai makanan olahan maupun kemasan. 

Efek MSG terhadap kesehatan sudah lama menjadi bahan penelitian, bahkan sejak tahun 1969. Beberapa studi menemukan bahwa MSG mungkin dapat menambah berat badan serta memicu sindrom metabolik. Tapi penelitian lainnya tidak menemukan kaitan tersebut.

Hal yang lebih perlu diperhatikan adalah mengonsumsi MSG terlalu banyak bisa memicu gejala sensitivitas (gejala seperti alergi) pada beberapa orang. Keluhannya dapat berupa sakit kepala, berkeringat, dan mati rasa. Jika Anda mengalaminya setelah mengonsumsi MSG, lebih baik hindari zat aditif ini sepenuhnya.

  • Pewarna makanan buatan

Berkat pewarna makanan buatan, permen dan bumbu rempah jadi terlihat lebih menarik dengan warna yang cerah dan mencolok. Tetapi pewarna ini sering dianggap tidak aman untuk kesehatan. Beberapa jenisnya diketahui dapat menyebabkan reaksi alergi.

Pewarna makanan buatan juga pernah dilaporkan dapat membuat anak jadi lebih hiperaktif.

Untuk berjaga-jaga, ada baiknya Anda membatasi konsumsi makanan olahan karena jenis makanan ini sering mengandung pewarna buatan. Makanan alami, seperti sayur dan buah warna-warni, juga tak kalah enak, segar, dan menyehatkan untuk disantap. 

  • Natrium nitrit

Ada macam-macam zat aditif yang sering ditambahkan ke dalam makanan, salah satunya natrium nitrit. Bahan ini sering ditemukan dalam daging olahan karena dapat mencegah pertumbuhan bakteri, memberikan rasa asin serta warna merah pada daging. Contohnya, sosis dan bacon.

Natrium nitrit bisa berubah menjadi komponen berbahaya yang disebut nitrosamine jika terpapar panas tinggi sekaligus asam amino. Hal ini disebut dapat meningkatkan risiko beberapa jenis kanker.

Karena itu, Anda disarankan untuk membatasi asupan natrium nitrit serta daging olahan. Masih banyak asupan kaya protein lainnya yang lebih sehat, misalnya daging ayam, kacang-kacangan, tempe, dan telur.

  • Lemak trans

Lemak trans pun termasuk macam-macam zat aditif. Senyawa ini sering dimasukkan ke dalam gorengan, produk roti, margarin, dan biskuit.

Anda sebaiknya membatasi lemak trans karena bahan tambahan pangan ini dikatakan dapat meningkatkan kolesterol jahat pada tubuh. Kadar kolesterol tinggi dalam darah bisa menaikkan risiko penyakit jantung dan stroke.

American Heart Association menyarankan agar Anda membatasi konsumsi makanan yang mengandung lemak trans tidak lebih dari 1 persen dari kebutuhan kalori harian.

  • Sirup jagung tinggi fruktosa

Ini adalah pemanis buatan yang terbuat dari jagung, serta lebih manis dan lebih murah daripada gula biasa. Anda bisa menemukannya di berbagai makanan maupun minuman kemasan, seperti soft drink dan minuman buah-buahan.

Konsumsi sirup jagung tinggi fruktosa diyakini dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2. Daripada mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung zat aditif ini, lebih baik Anda makan buah jika sedang ingin yang manis-manis. Atau gunakan pemanis alami stevia yang lebih aman untuk tubuh.

Catatan dari SehatQ

Selain kelima zat aditif di atas, macam-macam zat aditif lain yang umum digunakan meliputi guar gum, carrageenan, natrium benzoat, xanthan gum, dan perasa buatan. Masing-masing zat ini memiliki efek samping untuk kesehatan.

Walau tak semua zat aditif berbahaya, Anda tetap perlu berhati-hati dalam mengonsumsinya supaya tidak terlalu banyak. Anda juga sebaiknya membatasi makanan olahan yang mengandung zat aditif dan mengonsumsi lebih banyak makanan alami yang segar demi kesehatan jangka panjang.

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/common-food-additives
Diakses pada 4 Maret 2020

WebMD. https://www.webmd.com/diet/features/the-truth-about-seven-common-food-additives#1
Diakses pada 4 Maret 2020

WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/food-additives
Diakses pada 4 Maret 2020

Artikel Terkait