Perlu Tahu, Ini Dampak Servisitis Kronis pada Fertilitas dan Kehamilan

Servisitis adalah peradangan pada leher rahim (serviks)
Servisitis kronis dan akut sejatinya adalah penyakit yang sama.

Servisitis adalah peradangan pada leher rahim (serviks). Penyakit ini kerap tidak disadari karena gejalanya yang jarang terasa oleh penderita, khususnya pada servisitis kronis.

Namun bila tidak ditangani dengan saksama, servisitis berpotensi memengaruhi fertilitas maupun kehamilan. Mari simak penjelasannya di bawah ini!

[[artikel-terkait]]

Dampak servisitis kronis dan akut pada fertilitas

Sebelum membahas dampaknya, mari kita ketahui jenis-jenis servisitis terlebih dulu. Banyak orang yang mungkin bingung mengenai servisitis kronis dan akut. Apakah perbedaannya?

Kedua jenis servisitis di atas sejatinya adalah penyakit sama. Yang membedakannya hanyalah durasi peradangan yang terjadi.

Servisitis akut berarti radang terjadi secara tiba-tiba dengan gejala yang umumnya terasa oleh penderita. Sementara servisitis kronis mengacu pada peradangan leher rahim yang terjadi untuk jangka panjang. Gejala jenis kronis umumnya tidak terasa oleh penderita, sehingga kerap tidak disadari.

Sementara itu, penyebab servisitis dapat dibagi lagi menjadi dua tipe, yaitu infeksi dan noninfeksi. Jenis infeksi yang bisa memicu peradangan serviks umumnya adalah penyakit menular seksual (seperti gonore atau klamidia) maupun infeksi virus herpes simplex.

Sedangkan penyebab jenis noninfeksi biasanya meliputi faktor-faktor yang bukan infeksi. Mulai dari prosedur ginekologi, masuknya benda asing (misalnya, tampon) ke leher rahim, zat kimiawi (seperti kandungan dalam vaginal douche), atau alergi. 

Servisitis kronis maupun akut berpotensi mengganggu fertilitas pada kaum hawa. Kenapa?

Pada mulut rahim yang terinfeksi, biasanya muncul sekresi servikal yang abnormal. Sekresi ini umumnya menjadi lebih lengket dan jumlahnya lebih banyak dari normal. Sebagai akibatnya, motilitas atau pergerakan sperma pun bisa terpengaruh, sehingga sulit untuk berenang mencapai rahim dan melakukan pembuahan.

Saat menderita radang atau infeksi, tubuh akan memproduksi sel darah putih untuk melawan infeksi tersebut. Karena itu,sekresi servikal penderita servisitis juga akan mengandung sel-sel darah putih yang memerangi infeksi di mulut rahim.

Dampak sel darah putih ini tidak hanya akan melawan infeksi, tapi juga menyerang spermayang masuk ke mulut rahim. Pasalnya, sperma-sperma tersebut juga dianggap sebagai zat asing yang menyebabkan infeksi. Kondisi ini pun kemudian berujung pada sulit untuk hamil.

Apakah servisitis akan memengaruhi kehamilan?

Servisitis akibat infeksi menular seksual dapat menyebabkan terjadinya keguguran atau kelahiran prematur bila tidak ditangani dengan benar. Radang serviks ini juga bisa menimbulkan penyakit bagi bayi Anda. Contohnya, infeksi pada mata dan paru-paru bayi yang baru lahir dari ibu dengan gonore atau herpes simplex.

Oleh sebab itu, ibu hamil dianjurkan untuk segera menjalani pemeriksaan penyakit menular seksual ketika mengetahui dirinya sedang mengandung. Deteksi dini akan membantu dalam mencegah komplikasi yang tidak diinginkan. 

Penanganan servisitis kronis dan akut oleh dokter

Pada banyak kasus, servisitis tidak menimbulkan gejala. Namun ada juga penderita yang mengeluhkan perdarahan di luar waktu menstruasi, sakit saat melakukan hubungan intim, atau keluarnya cairan vagina yang tidak wajar. 

Dengan memeriksakan kondisi ke dokter dan menjalani serangkaian pemeriksaan, penyebab servisitis kronis akan diketahui. Pengobatan yang diberikan tergantung pada penyebab tersebut.

Sebagai contoh, servisitis akibat infeksi bakteri ditangani dengan pemberian antibiotik, sementara sevisitis akibat infeksi virus bisa diatasi dengan obat antivirus. Pasangan dari penderita servisitis akibat infeksi menular seksual juga sebaiknya ikut berobat karena ada risiko penularan infeksi.

Pada kasus servisitis yang terjadi di masa kehamilan, infeksi yang disebabkan oleh penyakit menular seksual tetap harus diobati. Dokter akan memberikan jenis antibiotik yang aman bagi ibu maupun janin. 

Sementara itu, servisitis kronis atau akut yang bukan disebabkan oleh infeksi menular, obat antibiotik maupun antivirus tidak diperlukan. Bila dirasa perlu, dokter biasanya akan memberikan obat untuk mengurangi keluhan yang dirasakan oleh penderita.

Ketika penyebab peradangan serviks noninfeksi sudah diketahui, penderita harus menghindari penggunaan bahan-bahan pemicu alergi atau iritasi tersebut. 

Mengingat penyebab servisitis kronis dan akut bisa dari infeksi maupun noninfeksi, penting bagi penderita untuk berkonsultasi dengan dokter dan menjalani pemeriksaan medis. Penyebab akan diketahui dengan pasti dan pengobatan dilakukan secara tepat, sehingga komplikasi berbahaya bisa dihindari.

Medical news today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/321573.php
Diakses pada 13 Juni 2019

ADA Health. https://ada.com/conditions/cervicitis/
Diakses pada 13 Juni 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cervicitis/diagnosis-treatment/drc-20370818
Diakses pada 13 Juni 2019

MSD. https://www.msdmanuals.com/professional/gynecology-and-obstetrics/vaginitis,-cervicitis,-and-pelvic-inflammatory-disease-pid/cervicitis
Diakses pada 13 Juni 2019

NYC Health. https://www1.nyc.gov/assets/doh/downloads/pdf/std/std-cervicitis.pdf
Diakses pada 13 Juni 2019

Ezine. https://ezinearticles.com/?Cervicitis-and-Fertility&id=6722781
Diakses pada 13 Juni 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed