Perkembangan Obat Corona: Remdesivir Dapat ‘Lampu Hijau’ dari BPOM Amerika

Berdasarkan uji coba, Remdesivir meningkatkan waktu pemulihan pasien Covid-19 sekitar 31% lebih cepat
Obat Remdesivir tak hanya membantu pemulihan lebih cepat, tetapi juga mengurangi angka kematian pasien Covid-19

Obat COVID-19 memang masih belum juga ditemukan. Namun, pada Rabu 29 April 2020 yang lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) mengumumkan akan mengizinkan salah satu obat bernama Remdesivir untuk dirilis sebagai pilihan pengobatan Covid-19 yang disarankan. Apa itu Remdesivir dan bagaimana efektivitasnya dalam mengatasi COVID-19?

Mengenal Remdesivir, calon obat COVID-19

Remdesivir adalah antivirus berspektrum luas. Sebelumnya, obat ini telah diujikan dan terbukti bermanfaat untuk penyakit-penyakit yang disebabkan coronavirus seperti MERS dan SARS. Berdasarkan perannya sebagai antivirus tersebut, kini Remdesivir tengah diuji potensinya untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh virus corona jenis baru yang disebut COVID-19. 

Saat masuk ke dalam tubuh, coronavirus berkembang biak dengan cara menyalin materi genetik mereka menggunakan enzim yang disebut RNA (dependent RNA polymerase). Memanfaatkan fakta tersebut, sebuah penelitian terdahulu kemudian mengujikan Remdesivir pada corona virus penyebab MERS. 

Hasilnya, Remdesivir ternyata dapat membuat blok terhadap enzim RNA. Akibatnya, tak lama setelah Remdesivir bereaksi, virus tidak mampu memperbanyak diri karena enzim yang dibutuhkan telah diblokir.  Jika perkembangan virus telah terhenti, proses pemulihan pasien dapat terjadi lebih cepat.

Benarkah Remdesivir efektif dalam pengobatan COVID-19?

Meski hingga saat ini belum ada satu obat pun yang dinyatakan sebagai obat COVID-19 secara khusus, namun para peneliti bersama lembaga pemerintah di berbagai negara telah bekerja cepat guna mewujudkan pengobatan yang paling efektif untuk penyakit ini. 

Berdasarkan perkembangan terbaru, FDA kini berencana merilis izin bagi Remdesivir supaya tersedia secara meluas untuk disertakan dalam pengobatan COVID-19. Keputusan itu dikeluarkan berdasarkan hasil penelitian yang digubah oleh lembaga Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) bersama pabrik pembuat Remdesivir, Gilead Sciences.

Pada penelitian yang dibiayai oleh pemerintah AS tersebut diungkapkan bahwa Remdesivir memiliki dampak positif yang jelas dan signifikan dalam mempercepat waktu pemulihan dan angka hidup pasien corona. 

Hasil dari uji coba awal menunjukkan Remdesivir meningkatkan waktu pemulihan sekitar 31% lebih cepat. Pada studi tersebut dinyatakan bahwa waktu rata-rata pasien COVID-19 yang diberi Remdesivir untuk sembuh adalah 11 hari. Sedangkan pasien yang tidak diberi Remdesivir rata-rata waktu pulih terjadi lebih lama, yakni sekitar 15 hari. 

Remdesivir juga disebut dapat mengurangi angka kematian pasien. Berdasarkan data, kelompok pasien yang diberikan pengobatan Remdesivir memiliki angka kematian sebesar 8%. Sementara itu, kelompok pasien yang tidak diberikan Remdesivir angka kematiannya lebih tinggi yakni sebesar 11.6%.

Update penelitian Remdesivir untuk COVID-19

Proses pembuatan obat baru harus melalui rangkaian kompleks yang membutuhkan ketelitian dan langkah yang terstruktur. Berdasarkan peraturan yang berlaku, obat baru harus melewati 4 tahapan uji klinis. 

Dipantau dari situs pabrik pembuat Remdesivir, Gilead, hingga tulisan ini dibuat, obat ini sudah menginjak tahap 3 dari 4 fase uji klinis. Fase 3 ini dilakukan untuk mengujikan khasiat dan kemungkinan adanya efek samping yang muncul. Jumlah sampel yang diujikan harus sebanyak 300 hingga 3000 orang. 

Umumnya, waktu yang dibutuhkan untuk beralih ke fase 4, berkisar dari 1 sampai 4 tahun. Persentase obat yang lulus ke tahap berikutnya pun sangat ketat, hanya sekitar 25 hingga 30 persen. Berdasarkan peraturan uji klinis tersebut, dapat dinilai bahwa sebenarnya masih terlalu dini untuk menyatakan remdesivir sebagai obat baru yang dapat mengobati COVID-19.  

Meskipun demikian, di antara banyak obat yang berpotensi untuk mengatasi COVID-19 yang tengah diujikan, uji coba dari NIAID terkait remdesivir ini adalah yang paling sesuai dengan aturan FDA. Pasalnya, pengujian Remdesivir tersebut telah melibatkan 1090 orang yang berpartisipasi. Pengujian tersebut adalah percobaan terkontrol acak dengan skala besar pertama yang dilakukan terhadap pasien COVID-19. 

Sikap WHO dan para ilmuwan terhadap Remdesivir

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berpendapat bahwa masih terlalu awal untuk mengomentari hasil uji coba Remdesivir yang dirilis Rabu kemarin. Dilansir dari situs CNN, jubir WHO untuk urusan coronavirus, Dr. Maria Van Kerkhove, mengungkapkan bahwa masih dibutuhkan lebih banyak penelitian sebelum menentukan apakah suatu obat dapat dianggap sebagai obat baru, tidak cukup hanya dari satu studi saja.

Sementara itu, peneliti utama di balik uji klinis Remdesivir, Elizabeth Cohen, mengatakan bahwa tahap ini bukanlah akhir dari cerita Remdesivir dan COVID-19. Penelitian lanjutan tetap akan dilakukan ke depannya.

Untuk sementara waktu, pemulihan yang lebih cepat bagi pasien COVID-19 dirasa cukup membantu tenaga kesehatan dan juga pasien itu sendiri. Lantaran pasien yang lebih lama tinggal di rumah sakit cenderung mengalami komplikasi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, waktu pemulihan yang lebih cepat walau 4 hari saja merupakan hasil yang signifikan dan bermakna.  

Catatan dari SehatQ

Para ilmuwan, tenaga kesehatan, dan pemerintah tentunya sedang memberikan upaya terbaik mereka untuk menemukan obat corona yang tidak hanya paling manjur untuk mengobati tapi juga aman untuk dikonsumsi. Untuk mendukung usaha mereka, warga masyarakat sebaiknya tetap tinggal di rumah dan melakukan physical distancing. Bila terpaksa harus pergi ke luar rumah, kenakanlah masker kain dan hindari kerumunan. Selalu terapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi dan melakukan olahraga.

Gilead. https://www.gilead.com/purpose/advancing-global-health/covid-19/about-remdesivir
Diakses pada 30 April 2020

CNN. https://edition.cnn.com/2020/04/29/health/gilead-sciences-remdesivir-covid-19-treatment/index.html
Diakses pada 30 April 2020

NIAID. https://www.niaid.nih.gov/news-events/nih-clinical-trial-shows-remdesivir-accelerates-recovery-advanced-covid-19
Diakses pada 30 April 2020

FDA. https://www.fda.gov/patients/drug-development-process/step-3-clinical-research
Diakses pada 30 April 2020

Artikel Terkait