Penderita delirium bisa mudah lupa dan kesulitan berpikir akibat gangguan kognitif
Gangguan kognitif dapat menyebabkan penderita delirium mudah lupa

Delirium adalah perubahan mendadak yang terjadi pada otak, hingga menyebabkan kebingungan, gangguan emosi, dan kurangnya kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar. Penderita delirium biasanya mengalami kesulitan berpikir, mengingat, tidur, dan gangguan pemusatan perhatian.

Delirium dapat terjadi pada saat pasien mengalami penyakit kronik, sindrom putus alkohol, infeksi, pembedahan, keracunan obat, atau demensia (kepikunan). Delirium bersifat sementara, dan umumnya dapat diobati secara efektif.

[[artikel-terkait]]

Gejala delirium muncul dalam hitungan hari

Gejala delirium biasanya dapat mulai muncul dalam beberapa hari hingga minggu. Gejala delirium bersifat fluktuatif, atau tidak stabil sepanjang hari, memberat pada malam hari. Penderitanya bahkan bisa tidak mengalami gejala apapun pada waktu tertentu.

Berikut ini gejala yang dapat dialami oleh penderita delirium.

  1. Penurunan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar:
    Hal ini dapat menyebabkan penderita delirium sulit berkonsentrasi pada satu pokok pembicaraan, sulit merespons pertanyaan, mudah terdistraksi, dan terisolasi dari lingkungan sekitar.
  2. Gangguan kognitif atau gangguan berpikir:
    Gangguan kognitif dapat membuat penderita delirium mudah lupa, disorientasi (untuk tempat, waktu, dan orang), sulit berbicara karena susah menemukan kata, sering mengoceh, dan kesulitan membaca serta menulis.
  3. Perubahan perilaku:
    Penderita delirium bisa mengalami berhalusinasi (melihat sesuatu yang tidak ada), mudah lelah, mudah panik, sering memanggil orang, membuat suara-suara yang mengganggu, diam, menarik diri, lesu, bergerak dengan lambat, serta mengalami gangguan atau perubahan pola tidur.
  4. Gangguan emosi:
    Delirium menyebabkan penderitanya mengalami gangguan panik, ketakutan, paranoid, depresi, kemarahan, euforia, apatis, perubahan mood, dan perubahan kepribadian.

Kondisi-kondisi ini menyebabkan delirium

Delirium terjadi karena sinyal di dalam otak terganggu dan seluruh proses yang menyebabkan gangguan di otak dapat menimbulkan delirium. Delirium dapat disebabkan oleh satu atau kombinasi dari beberapa kondisi.

Berikut ini beberapa kondisi yang dapat menyebabkan delirium.

  • Beberapa obat-obatan atau keracunan obat
  • Intoksikasi alkohol atau sindrom putus alkohol
  • Stroke, serangan jantung, asma, gangguan paru, gangguan hati, atau cedera
  • Gangguan metabolik seperti hiponaterima atau hipocalcemia
  • Penyakit berat dan kronis
  • Demam dan infeksi akut, terutama pada anak-anak
  • Infeksi saluran kemih, radang paru, atau influenza, terutama pada orang tua
  • Paparan gas atau senyawa beracun seperti karbon monoksida, sianida, dan racun lainnya
  • Malnutrisi dan dehidrasi
  • Kurang tidur atau gangguan emosi berat
  • Nyeri
  • Pembedahan atau tindakan medis yang membutuhkan pembiusan

Selain dari faktor-faktor penyebab di atas, delirium mudah terjadi pada individu dengan kelompok maupun kondisi berikut ini.

  • Menjalani rawat inap atau dirawat di panti jompo
  • Lansia
  • Memiliki riwayat delirium sebelumnya
  • Mengalami gangguan otak seperti stroke, demensia, atau penyakit Parkinson
  • Memiliki gangguan penglihatan atau pendengaran

Cara terbaik untuk mencegah delirium adalah dengan cara mengidentifikasi penyebab dan faktor risiko yang dapat memicunya. Selalu konsultasikan ke dokter, apabila Anda atau keluarga memiliki gejala atau faktor risiko tersebut. Penanganan lebih dini, dapat mengurangi tingkat keparahan delirium.

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed