Sama-sama Aman, Ini Perbedaan Vaksin MR dan Vaksin MMR

Vaksin MR dan vaksin MMR sama-sama aman diberikan untuk anak
Vaksin seperti MR dan MMR dapat mencegah penyakit yang berbahaya pada anak

Saat anak berusia kurang dari setahun, terdapat berbagai jenis imunisasi dasar yang harus diberikan, salah satunya adalah vaksin measles (campak) dan rubella (campak Jerman) atau vaksin MR. Beberapa orangtua pun mungkin pernah mendengar jenis vaksin yang mirip, yakni vaksin MMR (mumps alias gondongan, measles, and rubella).

Apa beda dari kedua jenis vaksin ini? Berikut pembahasannya.

Perbedaan vaksin MR dan vaksin MMR

Seperti namanya, perbedaan kedua vaksin ini hanyalah cakupan penyakit yang dapat dicegah saja. Vaksin MR hanya bertujuan mencegah terjangkitnya penyakit campak dan rubella, sedangkan vaksin MMR dapat mengatasi kedua masalah kesehatan tersebut plus penyakit gondongan.

Campak, rubella, dan gondongan merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus. Ketiganya bisa menyebabkan masalah kesehatan yang lebih serius, terutama pada anak-anak atau ibu hamil dengan tingkat imunitas rendah.

Campak, misalnya, memiliki gejala demam, batuk, pilek, mata merah, dan bintik merah yang dimulai dari wajah kemudian menyebar ke seluruh badan. Ketika virus campak menginfeksi paru-paru, maka penyakit ini akan berubah menjadi pneumonia.

Rubella adalah penyakit yang gejalanya mirip dengan campak, yakni muncul bintik merah pada wajah dan disertai dengan pembengkakan di belakang telinga serta deman ringan.

Pada anak, virus rubella tidak menimbulkan efek berarti, namun ibu hamil yang terserang virus ini dapat melahirkan bayi dengan cacat bawaan, seperti buta, tuli, kelainan jantung, dan keterbelakangan mental.

Sementara gondongan ditandai dengan pembengkakan pada kelenjar yang terletak di belakang telinga sehingga pipi penderitanya terlihat bergelambir. Sebelum ada vaksin MMR, gondongan dapat menyebabkan meningitis dan ketulian hingga infertilitas pada pria jika virus menyerang testis.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan lebih memprioritasikan pemberian vaksin MR karena urgensinya. Pemerintah menilai penyakit campak dan rubella dapat menimbulkan komplikasi yang berat dan mematikan, namun belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan kedua jenis penyakit ini secara tuntas.

Sebaliknya, penyakit gondongan dinilai tidak membahayakan sehingga Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization atau WHO) hanya merekomendasikan pemberian vaksin MR. Meski demikian, Anda tetap dapat memberikan vaksin MMR kepada anak melalui tenaga kesehatan yang kompeten di rumah sakit maupun pusat pemberian vaksin yang legal.

Hanya saja vaksin MMR tidak disubsidi pemerintah sehingga orangtua harus merogoh kocek lebih dalam. Sementara itu, vaksin MR masuk dalam program Kemenkes sehingga pemberiannya gratis melalui pusat kesehatan yang dinaungi oleh pemerintah.

Fakta-fakta mengenai vaksin MR

Saat ini, banyak sekali hoaks yang beredar tentang vaksin MR maupun imunisasi yang diselenggarakan oleh pemerintah, mulai dari isu halal-haram hingga keamanan vaksin itu sendiri. Berikut fakta mengenai vaksin MR yang perlu diketahui orangtua agar tidak termakan berita bohong tersebut.

  • Majelis Ulama Indonesia (MUI) memperbolehkan anak diimunisasi

Lembaga yang menaungi umat Islam di Indonesia ini sudah mengeluarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 4 tahun 2016 yang pada dasarnya memperbolehkan (mubah) siapa pun diimunisasi. Landasannya, imunisasi adalah salah satu bentuk usaha (ikhtiar) untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya penyakit tertentu.

Bahkan, imunisasi bisa menjadi wajib jika seseorang yang tidak diimunisasi itu dikhawatirkan meninggal, mengidap penyakit berat, atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa. Tentunya, vonis ini harus berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya.

  • Vaksin MR aman untuk anak

Vaksin MR yang digunakan dalam program imunisasi MR oleh pemerintah telah mendapat rekomendasi dari WHO dan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Vaksin untuk mencegah penyakit campak dan rubella yang sama pun sudah terbukti ampuh setelah digunakan di lebih dari 141 negara di dunia.

Kemenkes memastikan tidak ada efek samping setelah anak diberikan vaksin MR ini. Demam ringan, ruam merah, bengkak ringan, dan nyeri di tempat suntikan setelah imunisasi, hanya tergolong kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) yang merupakan reaksi normal dan akan menghilang dalam 2-3 hari.

Klaim ini sekaligus membantah klaim kaum antivaksin yang menyatakan vaksin MR dapat menyebabkan autisme pada anak. Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah terkait klaim tersebut.

  • Anak yang sudah mendapat vaksin MMR bisa kembali mendapat suntikan vaksin MR

Tidak ada istilah overdosis vaksin sehingga anak yang sudah mendapat vaksin MMR bisa kembali diikutkan dalam kampanye imunisasi vaksin MR ini. Bahkan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut imunisasi MR aman bagi anak yang telah mendapat 2 dosis imunisasi campak.

Imunisasi MR dapat diberikan gratis untuk semua anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun selama kampanye imunisasi MR. Jika tidak dalam masa kampanye, orangtua tetap dapat melakukan imunisasi MR saat anak berusia 9-18 bulan dan kelas 1 SD/sederajat untuk menggantikan imunisasi campak. Imunisasi ini juga gratis di puskesmas atau posyandu terdekat.

Jadi, tunggu apa lagi? Segera bawa anak Anda untuk mendapatkan vaksin MR atau MMR sesuai dengan preferensi Anda.

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/imunisasi/daftar-pertanyaan-seputar-imunisasi-campak/measles-dan-rubella-mr
Diakses pada 15 November 2019

Depkes. https://www.depkes.go.id/article/view/18080200002/imunisasi-mr-lindungi-anak-indonesia-dari-kecacatan.html
Diakses pada 15 November 2019

WebMD. https://www.webmd.com/children/vaccines/measles-mumps-and-rubella-mmr-vaccine
Diakses pada 15 November 2019

VIVA. https://www.viva.co.id/gaya-hidup/parenting/937676-imunisasi-campak-rubella-wajib-diberikan-pada-anak
Diakses pada 15 November 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed