Meskipun Gejalanya Mirip, Demensia Berbeda dengan Alzheimer

Penderita demensia dan Alzheimer dapat merasakan gejala-gejala penurunan fungsi otak
Banyak yang sulit membedakan antara demensia dan penyakit Alzheimer

Tak kurang dari 47,5 juta orang di penjuru dunia hidup dengan demensia, menurut rilis fact sheet terbaru dari World Health Organization. Meski gejalanya serupa, demensia berbeda dengan Alzheimer.

Demensia adalah sekumpulan sindrom, sementara Alzheimer adalah jenis penyakit. Kondisi pemicu seseorang mengidap sindrom demensia bisa beragam, salah satu yang paling umum adalah Alzheimer.

[[artikel-terkait]]

Apa beda demensia dan Alzheimer?

Untuk memetakan lebih mudah perbedaan antara demensia (sindrom) dan Alzheimer (jenis penyakit), mari kita tarik garis lurus. Berbeda dengan penyakit, sindrom adalah beberapa gejala tanpa diagnosis definitif.

Gejala-gejala demensia berpengaruh pada fungsi mental kognitif, seperti bagaimana seseorang memahami konsep sebab-akibat, kepribadian, mood, hingga daya ingat.

Hal ini sama dengan orang yang mengalami radang tenggorokan, yaitu mengalami demam, flu, hingga batuk yang dirasakan. Namun, tidak ada diagnosis apa pemicunya.

Sama halnya dengan demensia. Penderitanya akan merasakan gejala-gejala penurunan fungsi otak namun penyebabnya bisa beragam.

Alzheimer adalah salah satu kondisi penyakit yang bisa memicu demensia. Bahkan, Alzheimer menyumbang 50-70% dari seluruh kasus demensia.

Perbedaan lainnya adalah peluang kesembuhan. Alzheimer adalah penyakit degeneratif yang hingga kini belum bisa disembuhkan.

Namun, demensia bisa saja diobati atau menjadi lebih ringan lewat pengobatan seperti konsumsi vitamin.

Bagaimana demensia terjadi?

Gejala demensia terjadi ketika bagian otak yang terkait dengan proses belajar, daya ingat, pengambilan keputusan, dan bahasa mengalami gangguan atau terinfeksi. Biasanya, hal ini rentan terjadi pada lansia berusia di atas 60 tahun.

Lihat bagaimana orang tua identik dengan pikun? Ya, itu adalah salah satu gejala awal terjadinya demensia. Mereka mengalami kesulitan dalam merunut waktu dan hal-hal familiar yang biasa dilakukan sehari-hari.

Ketika kian parah, orang dengan demensia bisa tak lagi mengenali orang lain. Mereka juga mudah merasa bingung.

Contohnya, kerap menanyakan hal yang sama berulang kali, tidak bisa menjaga kebersihan diri, dan kerap gagal mengambil keputusan.

Seperti yang disebutkan di atas, Alzheimer menyumbang porsi terbesar terjadinya demensia. Meski demikian, ada beberapa faktor penyebab lain, seperti:

  • penyakit saraf degeneratif (Parkinson, Huntington, Lewy Body, Alzheimer, Creutzfeldt-Jakob)
  • infeksi HIV
  • depresi
  • stroke
  • penggunaan obat-obatan terlarang kronis
  • jenis hydrocephalus tertentu dengan penumpukan cairan di otak

Apakah pikun selalu berarti demensia?

Meskipun pikun adalah gejala terjadinya demensia, tidak selalu orang yang pikun sedang mengalami demensia.

Apalagi, kemampuan mengingat memang pasti menurun seiring dengan penuaan. Salah satu faktor penyebabnya adalah penurunan kemampuan neuron di otak.

Beberapa gejala lain terjadinya demensia, antara lain:

  • lupa rangkaian kejadian atau informasi
  • terus mengulangi komentar atau pertanyaan dalam waktu berdekatan
  • lupa di mana meletakkan barang yang sehari-hari digunakan
  • tidak mengetahui tanggal dan waktu
  • sulit mengucapkan apa yang ada di pikiran
  • mood mudah berubah

Jika demensia semakin memburuk, gejalanya bisa bertambah berupa:

  • mengerjakan aktivitas sederhana seperti menekan remote hingga menyikat gigi kian sulit
  • tidak bisa mengambil keputusan saat ada masalah
  • perubahan pola tidur
  • semakin sulit menemukan kata yang tepat saat berbicara
  • bingung, frustasi, depresi, cemas, sedih, dan mudah curiga
  • halusinasi
  • memerlukan bantuan orang untuk mengerjakan aktivitas sederhana

Semua gejala demensia pada setiap orang bisa berbeda. Hal itu bergantung pada bagian otak mana yang mengalami masalah.

Satu lagi hal yang membedakan demensia dan Alzheimer adalah gejalanya. Misalnya, orang dengan demensia Lewy body cenderung mengalami halusinasi, gangguan tidur, dan sulit menjaga keseimbangan.

Sementara itu, demensia akibat Parkinson atau Huntington menunjukkan gejala lain. Tubuh penderitanya cenderung merepetisi gerakan tanpa instruksi.

Jadi, demensia tidak selalu terjadi karena Alzheimer. Bisa jadi gejala demensia terjadi karena penyakit lain. Pengobatannya pun berbeda, harus fokus pada faktor penyebabnya.

Tak lupa, dukungan dari orang sekitar menjadi hal yang esensial bagi penyembuhan orang dengan demensia.

Alzheimers. https://www.alzheimers.net/difference-between-alzheimers-and-dementia/
Diakses 9 Mei 2019

Health Line. https://www.healthline.com/health/alzheimers-disease/difference-dementia-alzheimers#outlook
Diakses 9 Mei 2019

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9170-dementia
Diakses 9 Mei 2019

WebMD. https://www.webmd.com/alzheimers/guide/alzheimers-and-dementia-whats-the-difference#1
Diakses 9 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed