Ada tiga bentuk pengobatan untuk tetanus yaitu anti tetanus serum, imunoglobulin, dan tetanus toksoid
Vaksin tetanus atau tetanus toksoid dapat mencegah terjadinya penyakit tetanus.

Tetanus merupakan infeksi bakteri Clostridium Tetani yang menyerang sistem saraf. Bakteri ini menghasilkan toksin, yaitu tetanospasmin. Toksin inilah yang menyebabkan gejala spasme otot dan dapat berakibat fatal. Prinsip pengobatan penyakit tetanus meliputi perawatan luka, netralisasi toksin, antibiotik, antikejang, dan terapi suportif.

Pilihan untuk menetralisasi toksin tetanus dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu anti tetanus serum yang berasal dari serum kuda (equine) dan Human Tetanus Immunoglobulin (HTIG) yang berasal dari manusia. Antitoksin disuntikkan segera setelah seseorang terdiagnosis dengan tetanus.

Kecepatan memberikan terapi netralisasi akan menentukan keberhasilan pengobatan. Antitoksin hanya membantu mengurangi toksin tetanus yang belum berikatan pada saraf. Akan tetapi, jika toksin telah berikatan pada saraf, toksin tidak dapat dinetralisasi.

Pemberian HTIG ataupun anti tetanus serum untuk menetralisasi toksin tetanus hanya dilakukan pada luka tertentu, seperti luka terkontaminasi dengan tanah, feses, dan air liur, luka tertusuk, luka tembak, kecelakaan yang mengakibatkan luka terbuka, luka bakar, dan frostbite pada seseorang yang belum pernah memperoleh vaksin tetanus atau riwayat vaksinasinya tidak diketahui.

Apabila seseorang pernah memperoleh vaksin, tetapi kurang dari 3 dosis maka tetap membutuhkan injeksi antitoksin setelah terjadi luka. Hal ini dikarenakan pada dosis awal belum terbentuk imunitas yang cukup.

Serum anti Tetanus 

Serum anti Tetanus mulai diberikan sebagai pengobatan tetanus sejak tahun 1890. Dosis anti Tetanus serum yang diperlukan mulai dari 10.000 hingga 500.000 unit. Kadar minimal 10.000 unit diperlukan untuk mencapai kadar antitoksin yang mencukupi dalam darah.

Penggunaan anti tetanus serum memiliki banyak kendala akibat efek samping yang dihasilkan. Efek samping yang dapat muncul berupa serum sickness. Gejala serum sickness yang dapat dialami berupa rasa tidak nyaman, demam, peradangan pada sendi, gatal, nyeri otot, bintik merah pada kulit, dan pembesaran pada kelenjar getah bening.

Selain itu, efek samping yang lebih jarang terjadi adalah reaksi anafilaksis. Apabila kondisi ini tidak segera ditangani, maka dapat berakibat fatal. Reaksi anafilaksis mungkin terjadi pada individu dengan riwayat hipersensitivitas ataupun pada mereka yang tidak memiliki riwayat sebelumnya.

Jika terjadi kesulitan bernapas dan menelan, gatal, kemerahan pada kulit terutama sekitar telinga, bengkak pada mata, wajah, dan dalam hidung, serta urtikaria (permukaan kulit meninggi seperti pulau, kemerahan, dan gatal) setelah melakukan injeksi, maka anda dipastikan sedang mengalami reaksi anafilaksis.

Human Tetanus Immunoglobulin

Mulai tahun 1960, ditemukan antitoksin yang berasal dari manusia, yaitu human tetanus immunogloulin (HTIG). Antitoksin ini menggantikan anti tetanus serum yang berasal dari kuda karena memiliki lebih sedikit efek samping yang dapat terjadi. Selain itu, HTIG juga memberikan angka kematian yang lebih rendah dibandingkan anti tetanus serum.

HTIG direkomendasikan untuk diberikan pada seseorang yang mengalami tetanus. Anti tetanus serum hanya digunakan apabila HTIG tidak tersedia. Dosis HTIG yang diberikan sebanyak 3000 sampai 6000 unit dalam bentuk injeksi intramuskular (pada otot). Meski demikian, dosis 500 unit memiliki efektivitas yang sama.

[[artikel-terkait]]

Injeksi Tetanus Toksoid

Injeksi tetanus toksoid diperlukan setelah seseorang mendapat injeksi antitoksin. Baik Human Tetanus Immunoglobulin atau anti tetanus serum berperan memberikan imunitas sementara. Pemberiannya bertujuan memastikan kadar antitoksin yang mencukupi sebelum terjadi respons imun.

Setelah pemberian antitoksin, diperlukan injeksi tetanus toksoid. Tetanus toksoid diberikan secara intramuskular pada sisi yang berbeda dengan injeksi anti tetanus serum. Pemberian tetanus toxoid perlu dilanjukan dengan dosis kedua pada 1-2 bulan setelah dosis pertama dan dosis ketiga pada 6-12 bulan setelahnya.

Tetanus toksoid memiliki fungsi yang berbeda dengan anti tetanus serum. Tetanus toksoid merupakan toksin tetanus yang sudah dilemahkan sehingga tidak berbahaya, tetapi dapat merangsang respons imunitas tubuh.

CDC. https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/tetanus.html
Diakses pada Mei 2019

Drugs.com. https://www.drugs.com/mmx/tetanus-antitoxin.html
Diakses pada Mei 2019

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/229594-treatment#d9
Diakses pada Mei 2019

Penggunaan Anti Tetanus serum dan Human Tetanus Immunoglobulin pada Tetanus Anak. Sari Pediatri. 2010

Artikel Terkait

Banner Telemed