Perayaan Natal dan Tahun Baru: Saat Angka Bunuh Diri Malah Meningkat

Bunuh diri selama masa perayaan Natal dan tahun baru bisa dipicu oleh meningkatnya rasa kesepian.
Pada masa perayaan Natal dan tahun baru, perasaan kesepian bisa meningkat, hingga memicu keinginan bunuh diri.

Malam Natal dan tahun baru menjadi momen yang dinantikan banyak orang di seluruh dunia, dan dirayakan besar-besaran. Meski demikian, tanpa disadari, momen tersebut ternyata menjadi waktu ketika angka depresi dan bunuh diri mencapai puncaknya.

Sebab pada masa-masa perayaan seperti ini, perasaan kesepian pun meningkat. Kondisi ini berpotensi memicu peningkatan angka bunuh diri. Menghadapi kondisi di luar ekspektasi terhadap hari-hari perayaan tersebut juga mendorong munculnya “efek ingkar janji”. Sejauh mana dampaknya terhadap kejadian bunuh diri? Simak ulasan berikut ini.

Ingkar Janji dan Angka Bunuh Diri

Di malam Natal dan akhir tahun, pada umumnya banyak yang sengaja menghabiskan waktu dengan keluarga, teman, dan orang yang dicintai. Namun, tak sedikit juga yang masih harus bekerja dan memegang tanggung jawab, karena target dalam pekerjaan yang belum tercapai.

Sebuah penelitian dilakukan terhadap 1.000 orang dewasa. Hasilnya, sebanyak 30 persen di antaranya mengalami kesepian di masa libur hari besar dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, ada responden yang mengatakan bahwa keceriaan palsu selama perayaan tersebut, memberikan dampak sangat besar, sehingga menimbulkan keinginan bunuh diri.

Penelitian tahun 2017 menunjukkan, angka kematian sedikit menurun pada malam Natal dan malam tahun baru. Namun, angka tersebut meningkat tajam pada hari pertama tahun baru. Pelaku bunuh diri mayoritas pria berusia antara 15-24 tahun, serta 45-64 tahun.

Yang diduga menjadi penyebabnya adalah persoalan yang terakumulasi dari malam Natal hingga tahun baru. Dengan kata lain, jumlah kasus bunuh diri kemungkinan tertunda pada hingga 31 Desember, dan akhirnya memuncak di tanggal 1 Januari.

Selain itu, mayoritas pelaku bunuh diri merupakan pria berusia muda hingga separuh baya. Mereka diasumsikan lebih rentan terhadap konsumsi alkohol yang berlebih. Sehingga keesokan harinya, mereka mungkin saja mengalami intoksikasi alkohol, yang memunculkan perasaan impulsif, agresi, hingga konflik sosial.

Mengenali Gejala Bunuh Diri dan Cara Mencegahnya

Banyaknya undangan serta kegiatan berkumpul yang harus dihadiri selama masa Natal hingga tahun baru, mungkin menjadi penyebab utamanya. Oleh karena itu, penting untuk bersosialisasi dan mendampingi teman serta kerabat yang hidup sendirian.

Selain itu, akan lebih baik jika para penderita depresi bisa menyampaikan hal-hal yang dibutuhkan. Sehingga, keluarga dan teman terdekat bisa bertindak dengan lebih bijak. Sayangnya, seperti yang diungkapkan J. Raymond DePaulo Jr., MD, seorang profesor dan professional di bidang psikiatrik, sekaligus direktur klik gangguan afeksi di Johns Hopkins School of Medicine di Baltimore, kemampuan berkomunikasi para penderita depresi mengalami penurunan drastis, karena mereka malu untuk mengatakan yang mereka perlukan dan takut dianggap aneh. Maka dari itu, cobalah memberi bantuan dalam bentuk seperti ini.

Tawarkan Dukungan:

Beritahu mereka bahwa kita akan selalu bersama mereka, sebanyak apapun waktu, uang, dan tenaga yang mereka butuhkan.

Mendengarkan:

Berikan pertanyaan, dan dengarkan mereka. Jangan berikan saran.

Menemani:

Kebanyakan penderita depresi membaik jika mereka memiliki teman untuk menghabiskan waktu. Membiarkan mereka sendirian bisa jadi berbahaya.

Pastikan bahwa Anda ‘benar-benar’ peduli. Sebab, bisa jadi kehadiran Anda ternyata menjadi motivasi terbesar mereka untuk bertahan di saat-saat genting.

Nordic Journal of Psychiatry. https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/08039488.2017.1378716
Diakses pada 21 Februari 2019

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/lifetime-connections/201812/suicide-risk-spikes-after-the-holidays
Diakses pada 21 Februari 2019

Everyday Health.
https://www.everydayhealth.com/columns/my-health-story/grief-during-holidays/
Diakses pada 21 Februari 2019

Medium. https://medium.com/@marlena.fiol/the-truth-about-holiday-depression-a68360636dc9
Diakses pada 21 Februari 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed