Penyintas Stroke Rentan Depresi Hingga Bunuh Diri, Benarkah?


Ada temuan baru yang cukup mengejutkan yang dipublikasikan di American Heart Association, bahwa penyintas stroke 2 kali lipat lebih rentan mencoba bunuh diri atau meninggal akibat percobaan bunuh diri, dibandingkan dengan orang yang belum pernah stroke.

(0)
16 Apr 2021|Azelia Trifiana
Penyintas stroke rentan melakukan bunuh diriPenyintas stroke rentan melakukan bunuh diri
Ada temuan baru yang cukup mengejutkan yang dipublikasikan di American Heart Association, bahwa penyintas stroke 2 kali lipat lebih rentan mencoba bunuh diri atau meninggal akibat percobaan bunuh diri, dibandingkan dengan orang yang belum pernah stroke. Tidak tanggung-tanggung, analisis itu diperoleh dari studi terhadap lebih dari 2 juta penyintas stroke.Dalam ulasan terhadap 23 studi yang sudah pernah dipublikasikan, setidaknya 5.563 partisipan sudah pernah mencoba bunuh diri. Bahkan, kemungkinan meninggal akibat hal ini mencapai 61%.

Apa alasannya?

Menurut penggagas studi ini, alasan utama mengapa penyintas stroke rentan bunuh diri adalah karena konsekuensi yang dihadapi akibat penyakitnya. Mulai dari fisik, kognitif, hingga kondisi mental.  Fase paling krusial adalah bulan-bulan awal setelah stroke menyerang. Di tahap ini, kesehatan mental harus benar-benar terpantau dengan baik. Ada beberapa faktor yang berperan mulai dari seberapa parah keterbatasan fisik setelah terkena stroke hingga riwayat mengalami depresi atau gangguan mood.Kabar baiknya, setelah beberapa tahun pascastroke, risiko melakukan bunuh diri akan turun 3%.  Namun, penelitian ini tidak mengulas secara spesifik apa hal yang memicu naik turunnya risiko penyintas stroke mencoba bunuh diri.

Stroke dan depresi

depresi
Dalam studi yang dipublikasikan di International Journal of Stroke, setidaknya 1 dari tiap 3 penyintas stroke rentan mengalami depresi. Bahkan berselang 5 tahun sejak terkena stroke, 1 dari tiap 5 penyintasnya mungkin saja jatuh depresi.Senada dengan hal ini, studi  di tahun 2017 menemukan bahwa depresi merupakan pemicu utama munculnya suicidal thought pada tiap 1 dari 8 penyintas stroke.Lebih jauh lagi, orang yang mengalami stroke dan pernah memiliki riwayat depresi sebelumnya punya peluang terpikir bunuh diri lebih tinggi, hingga 7 kali lipat.Belum lagi orang yang pernah mengalami stroke berulang, artinya keterbatasan fisik atau penurunan fungsi kognitifnya bisa lebih signifikan. Ini berpengaruh pula pada munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup.Selain itu, banyak penyintas stroke yang tidak bisa menyampaikan secara gamblang apa yang mereka rasakan. Faktor utamanya adalah kemampuan berbahasa yang menurun.

Gejala depresi pascastroke

Rupanya, stroke bisa memicu perubahan zat kimia di otak sehingga menghambat kemampuan merasakan emosi positif. Di saat yang sama, hal ini menyebabkan perasaan negatif semakin kuat. Kondisi inilah akar dari munculnya suicidal thought pada penyintas stroke.Selain itu, ada beberapa gejala lain yang umum pada orang yang pernah mengalami stroke sekaligus depresi:
  • Terus menerus merasa sedih
  • Merasakan cemas berlebih
  • Merasa tidak berdaya
  • Tidak lagi tertarik pada hobi
  • Tubuh terasa lesu
  • Sulit berkonsentrasi
  • Daya ingat menurun
  • Kemampuan mengambil keputusan memburuk
  • Mengalami insomnia
  • Perubahan dramatis pada berat badan atau pola makan
Berbeda dengan penyakit kronis yang menimbulkan keterbatasan secara bertahap dari bulan hingga tahun berikutnya, stroke sifatnya lebih mendadak. pasien harus beradaptasi pada perubahan signifikan yang terjadi tanpa aba-aba. Bukan hanya fisik, namun juga kondisi mentalnya.Kondisi yang memicu stres ini kemudian memicu depresi dan meningkatnya keinginan untuk menyakiti diri sendiri. Ada perasaan tidak ingin menjalani hidup atau berada di tengah orang-orang terdekatnya lagi.

Bagaimana mencegahnya?

Kondisi terpuruk pasca-mengalami stroke ini tidak boleh diremehkan. Orang terdekat perlu peka terhadap munculnya gejala-gejala yang membuat mereka rentan terjebak dalam keinginan mengakhiri hidup.Untuk mencegahnya, ada banyak rehabilitasi dan terapi yang bisa dijalani. Contohnya terapi bicara untuk mengembalikan kemampuan berkomunikasi hingga terapi fisik untuk meningkatkan kemampuan koordinasi dan bergerak.Selain itu, ada pula terapi okupasi untuk memudahkan aktivitas sehari-hari seperti makan, mandi, atau mengenakan baju. Semakin terlatih, kemandirian juga terasah dan ini berdampak positif pada kepercayaan diri penyintas stroke.

Lebih jauh lagi, depresi yang berlarut-larut sangat mungkin menghambat rehabilitasi. Ada banyak gejala depresi yang membuat terapi menjadi lebih menantang. Fokus pun lebih sukar.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar cara mencegah munculnya depresi hingga suicidal thought pada penyintas stroke, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
gejala strokebunuh diristroke
Everyday Health. https://www.everydayhealth.com/stroke/stroke-survivors-have-higher-risk-of-suicide/
Diakses pada 4 April 2021
CDC. https://www.cdc.gov/stroke/recovery.htm
Diakses pada 4 April 2021
International Journal of Stroke. https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1111/ijs.12357
Diakses pada 4 April 2021
Journal of Neurology, Neurosurery, and Psychiatry. https://jnnp.bmj.com/content/88/6/498
Diakses pada 4 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait