Penyebab Miss V Becek, Normalkah? Ini Penjelasannya


Penyebab vagina becek ternyata bisa disebabkan oleh berbagai hal. Dikhawatirkan kondisi ini membuat pasangan terganggu ketika berhubungan intim.

(0)
13 Apr 2020|Dina Rahmawati
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Penyebab miss V salah satunya karena perubahan hormonVagina becek bisa membuat wanita kurang percaya diri
Pernahkah Anda mendengar istilah ‘vagina becek’? Keluarnya pelumas alami pada vagina sebetulnya merupakan hal yang normal. Sebab pelumas tersebut dapat menjaga kesehatan vagina dan membuat aktivitas seksual terasa nyaman.Namun, berbagai keluhan bisa muncul jika pelumas tersebut keluar secara berlebihan hingga membuat miss V becek. Kondisi ini juga dikhawatirkan dapat membuat pasangan merasa terganggu ketika berhubungan intim.

Penyebab miss V becek

Vagina yang normal dan sehat umumnya agak lembap karena rata-rata wanita menghasilkan 1-4 ml cairan vagina dalam sehari. Penyebab meningkatnya produksi pelumas organ intim yang membuat vagina becek, yaitu:

1. Rangsangan seksual

Saat wanita terangsang secara seksual, kelenjar Bartholin yang terletak di sebelah kanan dan kiri lubang vagina menghasilkan lebih banyak cairan. Cairan ini membantu melumasi vagina selama melakukan aktivitas seksual untuk mengurangi risiko iritasi akibat penetrasi. Pelumas ini biasanya tetap ada hingga Anda selesai berhubungan seks atau tak lagi merasa terangsang. Akan tetapi, sebagian wanita mungkin menghasilkan cairan ini secara berlebihan hingga vaginanya becek. 

2. Ovulasi

Ketika ovulasi mendekat, serviks akan menghasilkan lebih banyak lendir. Lendir yang dihasilkan pun bisa saja berlebihan hingga membuat vagina terasa becek. Akan tetapi, lendir tersebut dapat membantu sperma melakukan perjalanan ke sel telur sehingga meningkatkan peluang Anda untuk hamil. 

3. Perubahan hormon

Hormon estrogen yang tinggi juga dapat membuat vagina becek karena mendorong kelenjar Bartholin untuk menghasilkan lebih banyak cairan. Oleh sebab itu, wanita-wanita yang menggunakan alat kontrasepsi tertentu atau melakukan terapi hormon juga akan mengalami peningkatan kebasahan vaginanya.

4. Infeksi

Keluarnya cairan vagina yang berlebihan hingga terasa becek juga dapat menjadi tanda infeksi jamur, bakteri, atau infeksi menular seksual. Infeksi jamur menyebabkan timbulnya keputihan yang tebal dan berwarna putih seperti keju cottage. Selain itu, vagina juga bisa terasa sangat gatal, terbakar, dan nyeri saat berhubungan seks. Sedangkan, vaginosis bakteri (infeksi bakteri pada vagina) yang terjadi akibat ketidakseimbangan bakteri dalam vagina juga bisa menjadi dalang di balik vagina becek. Infeksi ini menghasilkan keputihan berwarna putih, abu-abu, atau kuning yang berbau, dengan rasa gatal atau terbakar pada vagina. Di sisi lain, trikomoniasis bisa menyebabkan keluarnya keputihan berwarna kekuningan atau kehijauan. Terkadang cairan ini juga bergelembung, berbau tidak sedap, dan disertai rasa gatal atau terbakar yang hebat. Kurang menjaga kebersihan vagina, sering memakai celana dalam ketat, berganti-ganti pasangan seksual, dan tidak menggunakan pengaman saat berhubungan intim, bisa memicu terjadinya infeksi-infeksi tersebut.

5. Vagina berkeringat

Vagina basah juga bisa terjadi karena keringat atau vaginal sweat. Hal ini bisa terjadi ketika mendapatkan rangsangan awal saat bercinta, area vagina membesar karena aliran darah menjadi lebih kencang. Inilah yang menyebabkan vagina bisa mengalami transudate sehingga terasa lembap di bawah sana.Menariknya, vagina basah juga bisa terjadi saat tubuh memberikan respons secara fisiologis. Contohnya saat melihat gambar atau membaca sesuatu yang sensual. Meski demikian, bukan berarti hal ini berarti seorang wanita sedang horny atau terangsang.Artinya, bukan berarti setiap kali seorang wanita mengalami vagina basah berarti dirinya sedang terangsang. Itu hanyalah respons tubuh secara umum yang menunjukkan bahwa vagina sedang menjalankan fungsi anatominya.

Cara mengatasi vagina becek

Jika vagina yang becek disertai dengan gejala lain, seperti perubahan warna cairan lendir, perubahan konsentrasi lendir, gatal di kemaluan, bau khas, sakit perut, atau rasa tidak nyaman maupun perih ketika buang air kecil atau berhubungan seks, sebaiknya lakukan pemeriksaan ke dokter untuk mengetahui penyebabnya untuk mendapatkan penanganan yang tepat.Akan tetapi, jika tak ada keluhan tersebut maka tak perlu dikhawatirkan karena ini bisa merupakan hal yang normal. Masalah ini juga kadang bisa menguntungkan, terutama bagi Anda yang aktif secara seksual dibandingkan yang mengalami masalah vagina kering karena akan kesulitan dalam berhubungan intim. Meski begitu, ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk menjaga kesehatan vagina, yaitu:
  • Tidak perlu menggunakan cairan pembersih vagina

Sebetulnya vagina dapat membersihkan dirinya sendiri dengan menyeimbangkan bakteri sehat dan tingkat pH. Oleh sebab itu, tak perlu menggunakan cairan pembersih vagina karena justru dapat menghilangkan bakteri sehat yang ada dan mengubah pH-nya sehingga lebih rentan terhadap infeksi.
  • Melakukan hubungan seks yang aman

Jika Anda aktif secara seksual, maka melakukan hubungan seks yang aman menjadi cara terpenting dalam menjaga kesehatan vagina. Gunakanlah pengaman ketika akan berhubungan seks sehingga risiko tertular infeksi menular seksual menjadi lebih rendah. Selain itu, tak ada salahnya untuk melakukan tes infeksi menular seksual secara teratur agar dapat mendeteksi masalah yang ada sedini mungkin. Setelah berhubungan seks, jangan lupa pula untuk langsung buang air kecil agar mengurangi risiko infeksi saluran kemih dan menjaga kebersihan vagina.
  • Hindari celana dalam yang ketat

Celana dalam yang ketat bisa menyebabkan vagina lembap dan memicu terjadinya infeksi. Oleh sebab itu, hindari menggunakan celana yang ketat. Akan lebih baik jika Anda menggunakan celana yang lebih longgar dan berbahan katun karena dapat menyerap kelembapan dan dan memungkinkan kulit vagina bernapas. Pastikan juga untuk menggantinya setiap hari.

Kapan harus memeriksakan diri ke dokter?

Vagina basah umumnya bukan masalah yang perlu dikhawatirkan karena kondisinya tergolong normal. Keluarnya cairan vagina justru menandakan bahwa vagina sehat dan tanda bahwa tubuh bekerja dengan baik. Jadi, tak perlu khawatir berlebihan saat merasakan vagina basah. Selama tidak ada aroma dan warna yang berbeda dari biasanya, itu hanyalah respons alami vagina.Namun, Anda perlu segera memeriksakan diri ke dokter apabila miss V disertai keluhan lain, seperti:
  • Rasa gatal, nyeri, dan sensasi terbakar pada vagina
  • Keputihan dengan aroma menyengat
  • Keputihan berwarna kehijauan atau kecokelatan
  • Muncul keputihan setelah melakukan hubungan seksual
  • Pembengkakan di vagina
  • Perubahan cairan vagina yang berkaitan dengan penggunaan obat baru, seperti kontrol kelahiran atau terapi penggantian estrogen
  • Nyeri atau sensitivitas vagina yang tidak dapat dijelaskan
Menjaga kesehatan vagina merupakan hal yang wajib dilakukan. Selain agar terhindar dari berbagai infeksi yang mengintai, vagina yang sehat juga akan melancarkan proses reproduksi Anda.
kesehatan wanitaorgan intim wanitakesehatan vagina
Healthline. https://www.healthline.com/health/8-vagina-health-tips#11
Diakses pada 27 Maret 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/326504#summary
Diakses pada 27 Maret 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait