Penyebab Skoliosis Bisa Berbeda-beda, Berdasarkan Jenisnya

Penyebab skoliosis bisa tidak diketahui secara pasti namun tergantung dari jenis skoliosis yang diderita
Skoliosis terjadi ketika tulang belakang membengkok dan membentuk huruf c atau s

Di masyarakat, mungkin beredar mitos bahwa melakukan olahraga yang terlalu berat menjadi salah satu penyebab skoliosis. Padahal, anggapan itu sama sekali tidak berdasar, mengingat skoliosis bisa terjadi karena banyak faktor.

Skoliosis sendiri adalah kondisi tulang belakang yang membengkok ke satu arah tertentu dengan kemiringan mencapai 10 derajat atau lebih. Dokter mendeskripsikan masalah kesehatan ini sebagai ‘tulang C’ atau ‘tulang S’ karena memang bentuknya menyerupai kedua huruf tersebut.

Gejala skoliosis yang mudah terdeteksi

Selain struktur tulang belakang yang bengkok, kelainan ini juga biasanya terlihat ketika penderita sedang berdiri. Bagian bahu penderita skoliosis tidak sejajar karena ketika berdiri, mereka akan bertumpu pada salah satu kaki.

Skoliosis bisa memengaruhi bagian tulang belakang manapun. Tetapi daerah yang paling sering terjadi adalah tulang belakang yang sejajar dengan dada dan tulang belakang bagian bawah. 

Pada pengidap anak-anak dan remaja, skoliosis jarang memicu rasa sakit pada punggung. Namun bila dialami oleh orang dewasa, kelainan tulang punggung ini dapat ditandai dengan nyeri punggung bawah, punggung yang terasa kaku, dan kelelahan.

Penyebab skoliosis berdasarkan jenisnya

Banyak mitos yang beredar di masyarakat mengenai penyebab skoliosis, salah satunya ialah berolahraga berat. Selain itu, jenis olahraga tertentu juga dianggap sebagai salah satu faktor yang bisa membuat skoliosis Anda semakin parah. Namun apakah anggapan-anggapan ini benar?

Pertama-tama, perlu dipahami bahwa skoliosis umum mulai terjadi saat anak berusia 10 hingga 16 tahun. Di umur itu, anak atau remaja memang sedang senang-senangnya melakukan banyak aktivitas, termasuk olahraga yang berat dan menantang.

Skoliosis tanpa penyebab yang jelas

Meski demikian, belum tentu anak terkena skoliosis karena olahraga. Fakta menyebutkan bahwa sekitar 80% penyebab skoliosis tidak diketahui dengan pasti.

Kondisi tersebut dikenal dengan istilah skoliosis idiopatik. Sementara ada pula sebagian kecil skoliosis yang diketahui penyebabnya.

Skoliosis dengan penyebab yang diketahui

Untuk kategori skoliosis ini, dokter kembali menggolongkannya ke dalam tiga tipe berikut ini:

1. Skoliosis nonstruktural

Skoliosis ini tidak menyebabkan gangguan fungsi tulang belakang karena biasanya terjadi sebagai efek negatif dari kondisi medis lain. Misalnya, kaki yang panjang sebelah, otot yang kaku, hingga peradangan. Jika penyebab telah diatasi, skoliosis pun akan sembuh dengan sendirinya.

2. Skoliosis struktural

Tipe skoliosis ini tergolong permanen, sehingga tidak bisa disembuhkan. Penyebabnya adalah kondisi-kondisi medis tertentu yang dapat berupa lumpuh otak (cerebral palsy), distrofi otot, kelainan bawaan lahir, infeksi, tumor, serta kelainan genetik (seperti, sindrom Marfan dan sindrom Down).

3. Skoliosis degeneratif

Jenis skoliosis ini hanya dialami oleh orang dewasa. Sesuai namanya, skoliosis degeneratif terjadi akibat menurunnya kondisi tulang belakang karena proses penuaan.

Kelainan tulang skoliosis seharusnya tidak menjadi penghalang bagi penderitanya untuk beraktivitas, termasuk olahraga.

Apa penderita skoliosis boleh berolahraga?

Anggapan lain yang berkembang di masyarakat mungkin ialah penderita skoliosis tidak boleh berolahraga. Pendapat ini pun tidak tepat.

Penderita skoliosis pada umumnya bisa melakukan olahraga. Tidak ada bukti medis yang menyatakan bahwa berolahraga bisa memperparah pembengkokkan tulang belakang.

Hanya saja, memang terdapat batasan dan syarat khusus bagi penderita skoliosis dengan kondisi tertentu. Berikut contohnya:

  • Pasien dengan skoliosis nonstruktural tidak memiliki larangan dalam melakukan olahraga tertentu. Sedangkan pasien skoliosis struktural disarankan untuk memilih jenis olahraga yang dapat meningkatkan kelenturan pada tulang belakangnya.
  • Pada skoliosis struktural, pasien akan dibatasi oleh penyebab skoliosisnya. Contohnya, penderita lumpuh otak tidak mungkin bisa bermain sepak bola.
  • Sementara itu, penderita skoliosis yang masih dalam periode pertumbuhan (growth spurt) boleh melakukan olahraga. Tapi pertumbuhan tulangnya harus senantiasa dipantau oleh dokter untuk menghindari pembengkokan tulang yang lebih parah. 
  • Pada penderita skoliosis yang baru saja menjalani operasi, melakukan olahraga yang rawan kontak fisik (contohnya, hoki dan gulat) sangat tidak disarankan. Anda bisa melakukan olahraga, seperti renang, tenis, badminton, bahkan sepakbola dan basket, setidaknya enam bulan setelah operasi, atau sesuai rekomendasi dokter.

Berolahraga bagi pasien skoliosis sangat disarankan karena dapat meningkatkan kesehatan maupun kepercayaan dirinya. Meski demikian, dokter pada umumnya akan merekomendasikan jenis olahraga rekreasional saja jika tujuannya untuk menjaga stamina Anda. 

Selalu konsultasikan pada dokter serta minta bimbingan dari fisioterapis profesional agar latihan yang dijalankan tetap aman dan cocok untuk kondisi Anda. Semoga bermanfaat!

WebMD. https://www.webmd.com/back-pain/causes-scoliosis#1
Diakses pada 27 Juni 2019

Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/4-scoliosis-myths-you-shouldnt-believe/
Diakses pada 27 Juni 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/190940.php
Diakses pada 27 Juni 2019

Fédération Internationale de Médécine du Sport. https://www.fims.org/files/2814/2056/1224/Scoliosis-and-sports-participation.pdf
Diakses pada 27 Juni 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed