Penyebab Sembelit atau Konstipasi Berbeda-beda pada Anak dan Orang Tua

Penyebab sembelit atau konstipasi berbeda pada anak dan orang tua
Konstipasi dapat menyerang siapa saja

Sistem pencernaan sebenarnya dapat bekerja dengan sangat efisien. Dalam waktu beberapa jam, ia dapat menyerap nutrisi dari asupan yang Anda makan dan minum, mengolahnya menjadi aliran darah, dan menyiapkan bahan sisanya untuk dibuang. Bahan tersebut melewati sekitar 6 meter usus sebelum akhirnya disimpan sementara di usus besar, di mana kandungan air akan dikeluarkan. Residunya akan diekskresikan melalui usus dalam satu atau dua hari.

Proses pengeluaran sisa makanan berupa kotoran ini akan bergantung pada pola makan, usia, dan aktivitas harian Anda. Biasanya, pola buang air besar tiap orang berbeda, hal ini dapat berarti tiga kali sehari hingga tiga per minggu.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa jika residu makanan yang menjadi feses tersimpan lama di usus besar, maka akan semakin sulit tinja untuk keluar karena sudah terlalu keras akibat air yang terlalu banyak terserap, sehingga menyebabkan sembelit atau konstipasi. Kotoran yang normal seharusnya tidak terlalu keras dan tidak terlalu lunak. Normalnya, Anda tidak seharusnya kesulitan saat mengeluarkannya.

Penyebab Sembelit atau Konstipasi

Konstipasi atau sembelit dapat diakibatkan oleh beberapa hal. Namun, penyebab utama sembelit atau konstipasi adalah gaya dan pola hidup yang tidak sehat, khususnya untuk asupan makanan dan minuman harian di mana seseorang tidak makan cukup serat atau minum air putih yang sebanyak yang dibutuhkan. Selain itu, kurangnya waktu berolahraga dan kebiasaan menahan diri saat ingin buang air juga menjadi penyebab sembelit atau konstipasi terjadi.

Bahkan, konstipasi kronis yang persisten dapat juga menjadi gejala dari kondisi kesehatan yang lebih serius, seperti sindrom iritasi usus, kanker kolorektal, diabetes, penyakit Parkinson, multiple sclerosis, depresi, atau kelenjar tiroid yang kurang aktif.

Meskipun begitu, perlu dipahami bahwa rutinitas buang air besar seseorang cenderung bervariasi bergantung pada usia, pola makan, dan aktivitas. Bayi yang diberi susu botol, misalnya, cenderung memiliki kotoran yang lebih keras dan sering mengalami sembelit dibandingkan bayi yang diberi ASI.

Selain itu, sebagian anak juga mengalami sembelit karena terlalu sering menahan buang air di sekolah. Begitu pula dengan balita yang sering sembelit selama toilet training karena dia tidak mau atau takut untuk menggunakan toilet. Anak-anak juga dapat mengalami sembelit karena mengonsumsi makanan tertentu, seperti produk susu.

Berbeda dengan anak-anak, penyebab sembelit atau konstipasi pada orang tua adalah asupan makanan berserat dan cairan tubuh yang kurang. Selain itu, kebiasaan duduk terlalu lama juga menjadi alasan mengapa konstipasi terjadi. Beberapa jenis obat-obatan juga kerap menyebabkan sembelit seperti narkotika, diuretik, suplemen zat besi, antasida, dan obat-obatan untuk tekanan darah, kejang, dan depresi.

Penanganan Sembelit atau Konstipasi

Secara umum, cara tepat untuk menangani konstipasi atau sembelit adalah dengan melakukan pola hidup yang sehat, mulai dari:

  1. Perbanyak asupan serat seperti sayuran dan buah setiap hari
  2. Perhatikan asupan air putih dan hindari minuman beralkohol
  3. Biasakan olahraga
  4. Hindari kebiasaan menahan buang air

WebMD. https://www.webmd.com/digestive-disorders/understanding-constipation-basics
Diakses pada Oktober 2018

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/constipation/symptoms-causes/syc-20354253
Diakses pada Oktober 2018

Artikel Terkait

Banner Telemed