Tak Seseram Bayangan, Ini Penyebab Penyakit Step Sebenarnya

Penyakit step pada anak biasanya tidak mengakibatkan komplikasi apa pun
Demam tinggi di atas 39 derajat Celcius merupakan salah satu gejala penyakit step

Melihat anak kejang saat demam tinggi tidak jarang membuat orangtua panik. Anda mungkin mengenal kondisi ini sebagai penyakit step, sementara dalam dunia medis kondisi ini disebut sebagai kejang demam.

Penyakit step atau kejang demam adalah reaksi mendadak yang dapat terjadi ketika anak-anak mengalami demam sangat tinggi dengan suhu tubuh di atas 38 derajat celcius. Kejang ini biasanya berlangsung selama beberapa menit, kemudian berhenti dengan sendirinya meski anak masih berstatus demam tinggi.

Step dapat terlihat sebagai penyakit yang serius pada anak, apalagi setelahnya anak akan merasa mengantuk dan memejamkan mata lebih sering. Meski demikian, kondisi ini biasanya tidak mengakibatkan masalah kesehatan yang lebih serius.

Gejala penyakit step

Kondisi anak yang dikatakan menderita penyakit step tergantung pada jenis kejang itu sendiri. Sebagian besar anak yang mengalami kejang demam akan memerlihatkan tanda-tanda, seperti:

  • Seluruh anggota tubuh anak kaku secara tiba-tiba
  • Demam dengan suhu tubuh lebih dari 38 derajat celcius
  • Bola mata mendelik ke atas
  • Tidak responsif saat dipanggil
  • Keluar suara seperti merintih dari mulut anak
  • Buang air kecil atau besar di celana
  • Keluar darah dari mulut akibat lidah tergigit.

Setelah kejang berakhir, anak akan merasa mengantuk atau bahkan rewel dan seperti kebingungan. Namun, ini adalah gejala yang normal dan biasanya tidak mengakibatkan komplikasi.

Dalam kasus yang lebih jarang, kejang pada anak dapat berlangsung lebih dari 15 menit dan terjadi lebih dari satu kali dalam sehari. Bagian tubuh yang gemetar juga tidak semuanya, serta menyebabkan kaki dan tangan anak menjadi lemah setelah kejang berakhir. Jika anak mengalami kejang seperti ini, sebaiknya periksakan ia ke dokter.

Penyebab penyakit step pada anak

Penyakit step biasanya dipicu oleh demam tinggi yang dialami oleh anak. Namun, tidak menutup kemungkinan juga anak akan mengalami kejang sekalipun demamnya tidak terlalu tinggi.

Beberapa hal yang dapat membuat anak menderita penyakit step, yakni:

  • Infeksi, baik infeksi virus maupun bakteri. Salah satu infeksi yang paling banyak menyebabkan kejang pada anak adalah virus penyakit roseola yang memang ditandai dengan demam tinggi pada anak.
  • Beberapa jenis vaksin yang memiliki risiko kejadian ikutan pascaimunisasi berupa kejang adalah DPT (difteri, pertusis, tetanus) dan MMR (measles-campak, mumps-gondongan, rubella). Vaksin ini kerap menyebabkan demam pada anak dan demam inilah yang memicu kejang.
  • Anak berusia 6 bulan hingga 5 tahun (terutama pada umur 12-18 bulan) memiliki risiko lebih besar terkena penyakit step.
  • Anak yang memiliki saudara atau orangtua dengan riwayat penyakit step berpeluang lebih besar untuk terkena penyakit yang sama.

Perlu ditekankan bahwa penyakit step tidak sama dengan epilepsi. Pada anak yang menderita epilepsi, kejang akan berlangsung sangat sering, bahkan ketika ia tidak sedang demam.

Sementara pada anak dengan penyakit step, kejang hanya terjadi pada saat demam. Namun, Anda patut waspada jika kejang demam pada anak berlangsung lebih dari 15 menit karena dapat meningkatkan risiko anak terkena epilepsi.

Penanganan penyakit step

Hal pertama yang harus dilakukan orangtua ketika melihat anak kejang adalah tetap tenang. Dengan demikian, Anda dapat melakukan langkah-langkah pertolongan pertama pada penyakit step berikut dengan lebih teliti:

  • Catat lamanya durasi kejang pada anak. Jika kejang bertahan lebih dari 5 menit, segera hubungi ambulans atau bawa ia ke pusat kesehatan terdekat.
  • Siapkan obat penurun panas untuk segera diberikan saat ia demam.
  • Saat anak mulai kejang, tempatkan ia di lantai dan singkirkan barang-barang yang dapat mengganggu membuatnya cedera.
  • Jangan menahan badan anak yang kaku.
  • Miringkan tubuh anak untuk mencegahnya tersedak.
  • Bila memungkinkan, singkirkan benda yang berada di mulut anak dan berpotensi menyumbat jalan napas anak.
  • Jangan memberi obat kejang, air minum, atau makanan apa pun selama anak kejang.
  • Bila anak memerlihatkan tanda-tanda gawat darurat, seperti leher kaku dan muntah terus-menerus setelah kejang, bawa ia ke dokter.

Penyakit step pada anak memang terlihat menyeramkan. Tetapi, kejang demam ini biasanya tidak menyebabkan kerusakan otak maupun sistem saraf, apalagi sampai mengakibatkan kelumpuhan, keterbelakangan mental, hingga kematian, sehingga orangtua diharapkan tidak panik saat memberi pertolongan pertama pada anak dengan kondisi ini.

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/febrile.html
Diakses pada 28 Desember 2019

NINDS. https://www.ninds.nih.gov/disorders/patient-caregiver-education/fact-sheets/febrile-seizures-fact-sheet
Diakses pada 28 Desember 2019

WebMD. https://www.webmd.com/children/febrile-seizures
Diakses pada 28 Desember 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/febrile-seizure/symptoms-causes/syc-20372522
Diakses pada 28 Desember 2019

Healthy Children. https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/head-neck-nervous-system/Pages/Febrile-Seizures.aspx
Diakses pada 28 Desember 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed