Penyebab Pengapuran Plasenta dan Risikonya Untuk Ibu dan Janin

Pengapuran plasenta adalah kondisi yang normal terjadi pada setiap kehamilan, terutama usia kandungan trimester akhir
Pengapuran plasenta adalah kondisi jaringan plasenta berubah menjadi lebih keras secara bertahap

Plasenta atau ari-ari adalah suatu organ berbentuk oval yang berperan sangat penting melindungi tumbuh kembang janin selama dalam perut ibu. Plasenta bertujuan menyediakan oksigen dan nutrisi sebagai makanan bayi.

Jika terjadi gangguan plasenta saat kehamilan maka dapat membawa dampak buruk terhadap perkembangan bayi. Salah satu gangguan plasenta yang mungkin dapat terjadi pada ibu hamil adalah pengapuran plasenta.

Apa itu pengapuran plasenta?

Kalsifikasi plasenta atau pengapuran plasenta adalah kondisi adanya penumpukan kalsium pada plasenta sehingga jaringan plasenta berubah menjadi lebih keras secara bertahap. Kondisi ini dapat terjadi secara alami sebagai bagian dari proses penuaan plasenta saat usia kehamilan kian mendekati hari persalinan.

Pengapuran plasenta dapat ditandai oleh kemunculan bintik-bintik putih yang menyebar mulai dari dasar ari-ari hingga permukaannya. Umumnya, kondisi pengapuran bisa dilihat saat pemeriksaan ultrasonografi (USG).

Pengapuran plasenta merupakan kondisi yang normal terjadi pada setiap kehamilan, terutama pada usia kandungan trimester akhir atau kehamilan yang sudah melewati waktu perkiraan lahir.

Kendati demikian, kondisi tersebut bisa menyebabkan risiko komplikasi pada ibu dan janin jika terjadi pada usia kandungan kurang dari 36 minggu. Hal ini dapat menyebabkan berat badan bayi lahir rendah, lahir prematur, dan pada kasus yang jarang terjadi dapat berakibat pada kematian janin.

Apa tanda dan gejala pengapuran plasenta yang mungkin muncul?

Beberapa tanda dan gejala yang mungkin muncul akibat pengapuran plasenta adalah perdarahan di vagina, kontraksi rahim, hingga rasa nyeri di perut atau punggung bagian bawah.

Pada beberapa kasus, perut Anda tidak membesar sebagaimana seharusnya yang menunjukkan indikasi adanya hambatan pada perkembangan janin.

Selain itu, gejala pengapuran plasenta yang umum lainnya adalah minimnya pergerakan janin, bahkan berhenti bergerak sama sekali walaupun waktu perkiraan lahir sudah dekat.

Anda yang mengalami pengapuran plasenta mungkin akan mengalami minimnya pergerakan janin saat bangun tidur di pagi hari. Namun, apabila sesaat setelah Anda bangun tidur dan janin masih belum menunjukkan pergerakannya, maka segera temui dokter kandungan Anda.

Faktor risiko penyebab kalsifikasi plasenta

Plasenta sudah mulai terbentuk ketika usia kandungan menginjak 12 minggu. Selanjutnya, plasenta akan terus mengalami perubahan seiring masa kehamilan. Secara umum, kalsifikasi plasenta dapat terbagi menjadi empat tingkatan berbeda berdasarkan usia kehamilan, yaitu:

  • Tingkat 0, sebelum usia kehamilan 18 minggu.
  • Tingkat 1, antara usia kehamilan 18-29 minggu.
  • Tingkat 2, antara usia kehamilan 30-38 minggu.
  • Tingkat 3, saat usia kehamilan mencapai 39 minggu atau lebih. Pada tingkatan ini, pengapuran plasenta tergolong sudah cukup berat. Pasalnya, bintik-bintik pengapuran telah terbentuk menyerupai cincin yang mengelilingi plasenta.

Menurut beberapa hasil penelitian, ada berbagai faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya pengapuran ari-ari, di antaranya:

  • Kehamilan terjadi pada wanita usia muda.
  • Kehamilan pertama.
  • Kebiasaan merokok.
  • Stres berat selama kehamilan.
  • Infeksi bakteri pada plasenta.
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi) selama kehamilan.
  • Faktor lingkungan, seperti paparan radiasi.
  • Efek samping obat-obatan mengandung kalsium seperti, obat antasida atau suplemen kalsium, terutama apabila dikonsumsi terlalu lama atau dalam dosis tinggi

Risiko komplikasi yang mungkin terjadi akibat pengapuran ari-ari

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa pengapuran plasenta merupakan hal yang umum terjadi pada ibu hamil ketika usia kandungan mendekati waktu perkiraan lahir.

Akan tetapi, kondisi tersebut bisa juga menandakan adanya gangguan kesehatan pada janin dalam kandungan apabila tingkat pengapuran sudah lanjut namun usia kehamilan masih tergolong muda.

Pada umumnya, semakin awal tingkat pengapuran terjadi maka semakin tinggi risiko bahayanya. Berdasarkan usia kandungannya, berikut adalah beberapa kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan terjadinya pengapuran plasenta terlalu dini.

1. Usia kehamilan 28-36 minggu

Menurut sebuah hasil studi, wanita yang berisiko tinggi mengalami kalsifikasi plasenta pada usia kehamilan 28-34 minggu memerlukan pemeriksaan kehamilan secara rutin ke dokter kandungan. Ini terutama apabila Anda mengalami komplikasi pada kehamilan, seperti plasenta previa, diabetes, tekanan darah tinggi, atau anemia berat.

Jika pengapuran plasenta terjadi sebelum kandungan berusia 32 minggu maka kehamilan bisa lebih berisiko mengalami beberapa masalah. Misalnya, perdarahan hebat setelah melahirkan, solusio plasenta, bayi lahir prematur, bayi lahir dengan skor Apgar rendah, atau janin meninggal dalam kandungan.

2. Usia kehamilan 36 minggu

Sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa pengapuran ari-ari pada usia kehamilan 36 minggu diduga berkaitan dengan risiko tekanan darah tinggi pada ibu hamil. Selain itu, bayi pun bisa lahir dengan berat badan yang rendah.

3. Usia kehamilan 37-42 minggu

Pengapuran plasenta pada usia kandungan menginjak 37 minggu menunjukkan kondisi kehamilan yang normal sebesar 20-40 persen. Maka dari itu, kondisi ini dianggap tidak membahayakan.

Cara mencegah pengapuran plasenta

Plasenta memiliki fungsi yang penting dalam melindungi kesehatan dan memberikan asupan nutrisi kepada janin selama masa kehamilan. Secara umum, menjaga kesehatan kehamilan menjadi cara terbaik guna menghindari gangguan plasenta dan risiko komplikasi kehamilan, termasuk pengapuran plasenta.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan kehamilan, termasuk mencegah pengapuran plasenta adalah:

  • Berhenti merokok jika Anda masih merokok saat hamil. Bagi Anda yang tidak merokok, jauhi asap rokok di sekitar Anda sebisa mungkin
  • Lakukan pola hidup sehat dengan makan makanan bergizi, terutama yang mengandung antioksidan

Jika Anda memiliki riwayat kalsifikasi plasenta secara genetik atau mengalami gejala pengapuran plasenta beberapa minggu sebelum waktu perkiraan lahir, jangan ragu untuk menghubungi dokter kandungan Anda.

Selain itu, jika Anda mengalami tekanan darah tinggi, diabetes, atau anemia pada masa kehamilan, segera konsultasikan dengan dokter guna mendapatkan pencegahan pengapuran plasenta yang tepat.

Baby Center India. https://www.babycenter.in/a25015099/ageing-or-calcification-of-the-placenta
Diakses pada 22 Desember 2019

Flo. https://flo.health/pregnancy/pregnancy-health/complications/calcified-placenta-in-pregnancy
Diakses pada 22 Desember 2019

Parent 24. https://www.parent24.com/Pregnant/Foetal_development/What-is-placenta-calcification-20150826
Diakses pada 22 Desember 2019

Parenting First Cry. https://parenting.firstcry.com/articles/calcification-of-placenta-in-pregnancy/
Diakses pada 22 Desember 2019

Artikel Terkait