Hati-hati, Ini Dia Penyebab Muntah Darah pada Anak yang Tak Terduga

Salah satu penyebab utama muntah darah pada anak adalah adanya perdarahan saluran cerna bagian atas
Muntah darah pada anak harus segera ditangani

Muntah darah (hematemesis) disebabkan oleh perdarahan pada saluran cerna bagian atas, yaitu kerongkongan, lambung, dan usus halus. Muntah darah pada anak dapat berupa muntah berwarna merah darah, berwarna coklat seperti ampas kopi, atau muntah bercampur darah. Kadang jenis makanan juga bisa membingungkan orangtua karena tampak seperti muntah darah, misalnya makanan yang mengandung pewarna merah, minuman rasa buah, jus buah, buah naga, dan buah bit.

Muntah darah pada anak adalah kondisi yang membutuhkan penanganan segera. Penanganan pertama meliputi menjaga stabilitas tanda vital, memastikan kecukupan oksigen, menggantikan volume darah (jika jumlah darah yang dimuntahkan banyak), dan menangani penyebabnya. Dengan penanganan yang tepat, berbagai komplikasi berat bisa dicegah.

5 Penyebab Muntah Darah pada Anak Berdasarkan Kelompok Usia

Salah satu kondisi utama yang menyebabkan muntah darah pada anak adalah adanya perdarahan saluran cerna bagian atas. Penyebab perdarahan ini berbeda-beda bergantung pada kelompok usia anak.

1. Bayi Baru Lahir (0-40 Hari)

  • Pengikisan pada dinding mukosa kerongkongan, lambung, dan usus halus. Katup lambung pada bayi baru lahir biasanya belum dapat berfungsi dengan optimal sehingga seringkali asam lambung mengalir kembali ke kerongkongan atau ke usus halus. Sifatnya yang asam dapat menimbulkan luka dan menyebabkan perdarahan.
  • Tukak lambung juga dapat terjadi pada bayi baru lahir. Risiko terjadinya tukak lambung, yaitu stres pada ibu selama trimester ketiga kehamilan dan pemberian obat NSAID atau heparin.
  • Stres gastritis, sering terjadi pada bayi prematur yang dirawat di ICU
  • Kelainan pembekuan darah (kekurangan vitamin K)
  • Tertelannya darah ibu, baik saat proses kelahiran maupun saat menyusui (jika terdapat luka pada puting ibu).
  • Radang usus besar akibat alergi dapat menyebabkan muntah yang bercampur darah (alergi protein susu).

2. Usia 1 Bulan-1 Tahun

  • Radang kerongkongan (esofagitis) akibat refluks gastroesofageal (GERD)
  • Pada anak-anak yang mulai memasukkan benda ke dalam mulut, tertelannya benda asing juga dapat menyebabkan muntah darah.
  • Gastritis (maag) akibat infeksi kuman Helicobacter pylori, penggunaan obat anti-inflamasi, sindrom Zollinger-Ellison, dan penyakit Crohn.

3. Usia 1-2 Tahun

  • Penyebab muntah darah pada kelompok ini mirip dengan penyebab pada kelompok usia 1 bulan-1 tahun.
  • Penyakit sistemik juga dapat menyebabkan muntah darah, misalnya akibat trauma kepala (Cushing ulcer), kanker, atau sepsis.

4. >2 Tahun

  • Pecahnya varises esofagus akibat tingginya tekanan darah pada hati. Penyakit pada hati dapat menyebabkan sumbatan pada sistem pembuluh darah hati. Sumbatan ini mengakibatkan aliran darah di kerongkongan terbendung sehingga pembuluh darahnya melebar (varises esofagus). Jika bendungan semakin besar dan lama, pembuluh darah kerongkongan bisa pecah dan menyebabkan muntah darah.

5. >12 Tahun

  • Muntah darah pada anak dalam kategori usia ini dapat disebabkan oleh tukak usus halus, radang kerongkongan, radang lambung, dan robekan Mallory-Weiss.

Jika anak Anda mengalami muntah darah, segera bawa mereka ke Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan segera. Jika kondisi anak sudah stabil, dokter mungkin perlu melakukan prosedur bilas lambung atau endoskopi untuk mencari sumber perdarahan, agar penanganan yang sesuai dapat dilakukan.

Jafari SA, Kiani MA, Kianifar HR, et al. Etiology of gastrointestinal bleeding in childreen referred to pediatric wards of Mashhad hospitals, Iran. Electron Physician. 2018; 10(2):6341-5. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5878028/
Diakses pada Mei 2019

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/1955984-overview
Diakses pada Mei 2019

Romano C, Oliva S, Martellossi S, et al. Pediatric gastrointestinal bleeding: perspectives from the Italian Society of Pediatric Gastroenterology. World J Gastroenterol. 2017;23(8):1328-37. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5330817/
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed