4 Penyebab Munculnya False Memory yang Dialami Hampir Semua Orang


Ingatan semu atau false memory adalah kumpulan hal yang terasa nyata di pikiran, padahal sebagian hingga seluruhnya adalah buatan. Menariknya, orang yang mengalami ingatan semu ini bisa merasa benar-benar yakin.

(0)
19 Mar 2021|Azelia Trifiana
Ingatan semu adalah ingatan yang terasa nyata padahal kenyataannya tak pernah terjadiIngatan semu adalah ingatan yang terasa nyata padahal kenyataannya tak pernah terjadi
Ingatan semu atau false memory adalah kumpulan hal yang terasa nyata di pikiran, padahal sebagian hingga seluruhnya adalah buatan. Menariknya, orang yang mengalami ingatan semu ini bisa merasa benar-benar yakin. Secara umum, fenomena ini tidaklah terlalu berpengaruh dalam kehidupan.Meski demikian, situasi bisa menjadi lebih rumit apabila ingatan yang tidak benar-benar terjadi ini menyangkut orang lain. Contohnya ketika dalam persidangan, saksi atau korban meyakini insiden tertentu meski itu ternyata merupakan ingatan semu.

Mengapa bisa terbentuk?

Memori adalah hal yang sangat kompleks. Tidak ada hitam dan putih saja dalam hal ini karena memori selalu bisa berubah, terpengaruh, bahkan dibuat sendiri.Memang benar bahwa ketika tidur, kejadian dipindahkan dari daya ingat sementara ke permanen. Namun, transisi ini tidaklah absolut. Ada elemen memori yang mungkin hilang. Inilah asal mula terjadinya false memory.Untuk memahami bagaimana terbentuknya ingatan semu, berikut ini hal yang menyebabkannya cukup umum terjadi, yaitu:

1. Sugesti

Jangan sepelekan kekuatan dari sebuah kesimpulan. Ini bisa menjadi pintu gerbang terbentuknya ingatan baru yang salah atau semu. Contohnya ketika ditanya apakah pelaku perampokan mengenakan jaket kulit dan Anda mengiyakan, namun tak lama meralat karena tidak yakin apakah jaketnya terbuat dari kulit.Ingatan semu ini muncul karena sugesti bahwa perampok kerap kali mengenakan jaket kulit.

2. Misinformasi

Sangat mungkin seseorang meyakini informasi yang salah atau kurang tepat tentang sebuah kejadian. Misinformasi ini membuat Anda yakin bahwa itu benar-benar terjadi meskipun sebenarnya tidak. Bahkan, ada kemungkinan ingatan yang baru bercampur dengan faktanya.

3. Misatribusi

Memori bisa berisi beberapa elemen dari kejadian berbeda menjadi satu. Apabila sedang berupaya mengingat kejadian tertentu, terkadang alur waktunya berantakan atau tercampur dengan berbagai kejadian lain. Ini juga rentan mengakibatkan terciptanya false memory.

4. Emosi

Emosi yang melekat pada kejadian tertentu bisa berdampak signifikan pada bagaimana dan apa yang disimpan dalam ingatan. Menurut penelitian, emosi yang diberi label negatif cenderung berakhir menjadi memori yang semu, bukannya positif atau netral.

False memory yang sengaja dibuat

Ingatan semu sangat mungkin tercipta tanpa disengaja. Di sisi lain, ada pula yang memang sengaja mengubah memori yang ada. Contohnya dalam teknik psikoterapi seperti hipnosis dan meditasi yang digunakan untuk melupakan kejadian traumatis.Artinya, sedang dilakukan false memory syndrome yaitu menciptakan fakta seputar memori yang tidak benar-benar terjadi. Hingga kini, praktik mengubah ingatan ini masih menuai perdebatan.Lebih jauh lagi, ada kelompok orang yang rentan mengalami ingatan semu. Mereka adalah:
  • Saksi mata

Tentunya saksi mata memegang peran krusial terkait insiden atau kecelakaan yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri. Pihak terkait memerlukan kesaksiannya demi keutuhan proses investigasi. Di sinilah ingatan dipertaruhkan.Sayangnya, seorang saksi mata bisa saja memiliki celah dalam ingatan mereka. Konsekuensinya, apa yang sebenarnya salah atau tidak terjadi bisa dianggap sebagai fakta.
  • Trauma

Penelitian menyebutkan bahwa orang yang memiliki pengalaman traumatis, depresi, atau stres lebih rentan mengalami false memory. Kejadian negatif ini lebih rentan menciptakan ingatan yang semu ketimbang positif atau netral.
  • Obsessive-compulsive disorder

Individu yang memiliki obsessive-compulsive disorder atau OCD juga bisa memiliki defisit memori. Tak hanya itu, kepercayaan dirinya mengingat suatu kejadian pun rendah.Itulah mengapa, muncul kecenderungan untuk menciptakan ingatan semu karena tidak ada kepercayaan diri pada ingatan yang dimilikinya sendiri. Akibatnya, bisa tercipta perilaku yang berulang berhubungan dengan gangguan perilaku ini.
  • Penuaan

Orang berusia lanjut rentan mengalami pikun? Ini merupakan dampak dari penurunan fungsi kognitif. Ketika bertambah usia, detail tentang ingatan bisa berkurang. Makna besarnya masih diingat, namun detailnya perlahan menghilang. Ini adalah situasi yang juga berperan dalam terciptanya ingatan semu.

Bagaimana menyikapinya?

Jangan salah, false memory adalah hal yang terasa begitu nyata bahkan melibatkan emosi intens. Orang yang memilikinya bisa saja teguh pada pendiriannya bahwa suatu hal benar-benar terjadi. Ada kepercayaan diri bahwa hal itu benar-benar terjadi.Namun tetap saja, seteguh apapun seseorang meyakini ingatan semu dalam pikirannya, bukan berarti itu benar-benar terjadi.Begitu pula dengan adanya ingatan semu bukan berarti daya ingat seseorang bermasalah atau menderita penyakit ingatan seperti demensia atau Alzheimer. Adanya ingatan semua adalah keniscayaan sebagai seorang manusia biasa.Lebih jauh lagi, ini bukanlah hal langka. Hampir setiap orang memilikinya dengan bentuk berbeda. Bisa berupa hal sederhana seperti yakin sudah mengisi daya ponsel sebelum tidur, hingga yang signifikan seperti kesaksian dalam sebuah kasus.

Namun, kabar baiknya sebagian besar ingatan semu ini tidaklah berbahaya. Bahkan, bisa saja mengundang gelak tawa ketika bersisian dengan cerita dari pihak orang lain.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar ingatan semua dan kaitannya dengan kesehatan mental, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
gangguan mentalkesehatan mentalpola hidup sehat
Healthline. https://www.healthline.com/health/false-memory
Diakses pada 7 Maret 2021
Clinical Psychological Science. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29170722/
Diakses pada 7 Maret 2021
Emotion Journal. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30896206/
Diakses pada 7 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait