Penyebab Mata Juling pada Anak, Benarkah Karena Keturunan?

Sekitar 30% anak yang bermata juling, memiliki anggota keluarga dengan kondisi serupa.
Mata juling merupakan kondisi yang dapat menurun di keluarga.

Sebagai suatu kondisi yang sudah sering didengar, penyebab mata juling bagi sebagian orang masih menjadi misteri. Banyak orangtua yang merasa khawatir anaknya akan mengalami kelainan ini, karena tidak tahu kondisi yang mendasarinya.

Hal ini juga membuat mitos yang beredar seputar mata juling semakin menyebar. Karena itu, ada baiknya anda mengenali lebih jauh kondisi yang sebenarnya bisa menjadi penyebab mata juling serta faktor risikonya.

[[artikel-terkait]]

Main gadget bukan penyebab mata juling pada anak

Dalam istilah kedokteran, mata juling disebut dengan strabismus. Kondisi ini dapat terjadi karena adanya gangguan pada otot mata, saraf yang memberikan informasi ke otot, atau bagian di otak yang secara langsung mengatur pergerakan mata.

Mata juling juga merupakan kondisi yang dapat menurun di keluarga. Sekitar 30% anak yang bermata juling, memiliki anggota keluarga dengan kondisi serupa. Kondisi lain yang sering berkaitan dengan mata juling di antaranya:

  • Kelainan rabun di mata yang tidak kunjung mendapat perawatan
  • Gangguan penglihatan hanya pada satu mata
  • Cerebral palsy (lumpuh otak)
  • Sindrom down (sekitar 20-60% orang dengan kondisi ini memiliki mata juling)
  • Hidrosefalus
  • Tumor otak
  • Cedera kepala
  • Gangguan saraf

Bayi yang baru lahir juga sering terlihat memiliki mata juling. Namun perlu diingat, mata juling pada bayi bukanlah kondisi sebenarnya dan akan mulai membaik saat memasuki usia empat bulan.

Susunan mata bayi yang baru lahir terlihat seperti juling, karena perkembangan fisik yang belum sempurna. Akibatnya, pergerakan mata bayi belum dapat terjadi secara sempurna.

Jika kondisi mata juling pada bayi tak kunjung membaik setelah usia empat bulan, Anda disarankan untuk mengonsultasikannya ke dokter mata.

Bisakah mata juling pada anak disembuhkan?

Mata juling bisa dirawat dan semakin cepat perawatan dimulai akan semakin baik. Hal ini dikarenakan koneksi utama antara mata dan otak baru akan terbentuk sempurna saat anak berusia delapan tahun.

Perawatan mata juling pada anak dapat menggunakan kacamata, penutup mata, obat tetes mata, atau operasi. Dokter akan menentukan langkah perawatan yang paling tepat, sesuai dengan kondisi Anda.

Mata juling yang dialami anak pada tahun pertama kehidupannya, disebut sebagai infatile esotropia. Jenis gangguan inilah yang biasanya menurun di keluarga dan memerlukan operasi untuk merawatnya.

Sementara itu, mata juling yang muncul pada anak berusia dua hingga lima tahun, disebut sebagai acquired esotropia. Pada kondisi ini, perawatan menggunakan kacamata lebih dianjurkan.

Setelah perawatan dilakukan, Anda masih perlu untuk tetap memperhatikan perkembangannya, karena kekambuhan bisa saja terjadi.

Jika mata juling disebabkan oleh penyakit tertentu, maka pengobatan penyakit tersebut dapat membantu memperbaiki mata juling.

Setelah mengetahui berbagai penyebab mata juling di atas, Anda diharapkan tidak lagi mempercayai mitos-mitos yang tidak benar seputar kondisi ini. Jangan tunda untuk segera memeriksakan mata ke dokter, apabila mulai muncul gejala-gejala gangguan tertentu.

American Optometric Association. https://www.aoa.org/patients-and-public/eye-and-vision-problems/glossary-of-eye-and-vision-conditions/strabismus
Diakses pada 2 Mei 2019

Very Well Health. https://www.verywellhealth.com/babies-and-newborns-are-crossed-eyes-normal-3421580
Diakses pada 2 Mei 2019

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15065-strabismus-crossed-eyes
Diakses pada 2 Mei 2019

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/strabismus.html
Diakses pada 2 Mei 2019

Healthline. https://www.healthline.com/symptom/crossed-eyes
Diakses pada 2 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed