Ada empat penyebab LGBT, seperti genetik, lingkungan, hormon, dan emosi
Menjadi bagian dari LGBT bukanlah pilihan seseorang

Topik mengenai LGBT seperti tak pernah habis untuk dibicarakan. Entah saat Anda menyaksikan peperangan opini di media sosial, atau kafe, perdebatan mengenai penyebab LGBT, atau kaitan LGBT dengan agama, terus terjadi.

LGBT adalah singkatan dari dari lesbian, gay, biseksual, dan transgender. Lesbian merupakan ketertarikan atau orientasi seksual perempuan yang menyukai sesama jenis. Gay merupakan orientasi seksual laki-laki penyuka laki-laki. Sementara itu, biseksual membuat seseorang menyukai perempuan dan laki-laki.

Dalam kelompok LGBT juga ada transgender, yang merujuk pada kelompok individu dengan identitas seksual yang berbeda dari jenis kelamin sejak lahir. Misalnya, seseorang dengan alat kelamin penis meyakini dirinya merupakan seorang wanita.

Keberadaan kelompok LGBT masih dipertanyakan, bahkan tak jarang mendapat penolakan. Sebenarnya, apa penyebab LGBT? Ada yang beranggapan, kesalahan pola asuh menjadi penyebabnya. Benarkah pemicu LGBT adalah salah asuhan sejak kecil?

Penyebab LGBT, apa saja?

Ada banyak faktor yang menjadi pemicu atau penyebab LGBT. Para ahli percaya, kombinasi dari beberapa faktor membuat seseorang memiliki orientasi seksual dan ekspresi gender yang berbeda, dari Anda. Faktor tersebut, meliputi:

1. Faktor genetik

Allan Schwartz, LCSW, Ph.D, seorang psikoanalis lulusan National Psychological Association for Psychoanalysis, Amerika Serikat, menuliskan bahwa faktor genetik diyakini ahli sebagai salah satu penyebab LGBT. Kromosom X yang diturunkan dari ibu ke anak, membawa keragaman gen yang membuat seseorang menjadi gay.

Dua orang pria gay kelompok LGBT
Para ahli meyakini, genetik berperan dalam orientasi seksual seseorang

Kajian-kajian terkait faktor genetik tersebut, sebagai penyebab orientasi seksual seseorang dalam LGBT, dibuktikan oleh 50-60 % responden yang berpartisipasi.

2. Faktor biologis & hormon

Allan Scwartz juga menuliskan, faktor biologis turut menjadi penyebab homoseksual dan biseksual, dalam LGBT. Ibu yang melahirkan lebih dari satu anak laki-laki, berisiko memiliki anak laki-laki gay, di antara putra-putra yang ia lahirkan.

Menurut ahli, saat sang ibu melahirkan anak laki-laki yang lebih tua, fenomena biologis terjadi pada dinding rahimnya. Kondisi ini, memicu perubahan pada janin anak laki-laki yang lebih muda, dan memunculkan risiko orientasi homoseksual.

Para ilmuwan berspekulasi, fenomena biologis tersebut melibatkan adanya perubahan hormon. Hal ini memengaruhi otak sang anak yang menjadi gay, walaupun mekanisme spesifiknya masih belum diketahui.

Penyebab LGBT bukanlah salah asuhan

Dengan demikian, ada banyak faktor yang menjadi penyebab LGBT, dan memiliki orientasi seksual dan identitas gender yang berbeda dari orang lain. Selain itu, penyebab seseorang menyukai sesama jenis, atau menyukai kedua gender, bisa berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.

Ada beberapa hal yang diyakini orang awam sebagai penyebab LGBT, yang disanggah oleh para ahli. Berikut ini bukan penyebab LGBT.

  • Pola asuhan orangtua
  • Berhubungan seks dengan sesama jenis saat di usia muda

Selain itu, penting untuk digaribawahi, memiliki orientasi homoseksual dan biseksual bukanlah gangguan mental dan gangguan jiwa. Begitu pula dengan perihal identitas gender. Bahkan, badan kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO) sebagai bagian dari perserikatan bangsa-bangsa (PBB), berencana menghapus transgender dari daftar gangguan mental.

Apakah seseorang memilih dirinya menjadi LGBT?

Sebagian besar ahli percaya, menjadi bagian dari LGBT, atau memiliki orientasi seksual berupa homoseksual dan biseksual, bukanlah pilihan pribadi. Bahkan faktanya, seseorang lebih mungkin untuk mengubah bentuk fisiknya, tanpa mampu mengubah dan memilih orientasi seksualnya.

Para ilmuwan meyakini, memiliki orientasi seksual berupa homoseksual dan biseksual, merupakan bagian natural dari individu tersebut.

Dua orang pria gay LGBT
Memiliki orientasi homoseksual bukanlah pilihan seseorang menurut ahli

Seperti orang-orang heteroseksual, atau penyuka lawan jenis, ketertarikan terhadap sesama jenis pada individu homoseksual dan biseksual dalam LGBT, sudah muncul sejak kecil. Begitu pula dengan transgender, sebagai keyakinan atas identitas gender yang berbeda dari jenis kelamin. Keyakinan semacam ini bahkan bisa muncul sebelum menginjak usia 5 tahun.

Anak-anak dan remaja LGBT mungkin berisiko untuk mengalami stres berlebih, karena memiliki orientasi seksual dan identitas gender yang berbeda dari teman sebayanya. Sebagian dari mereka mungkin memilih untuk menyembunyikan jati dirinya, karena takut dengan penghakiman dan penolakan orang lain.

Sebagian individu homoseksual dan biseksual dalam LGBT dapat menerima orientasi seksualnya pada usia tertentu. Namun, sebagian lagi, mungkin akan tetap sulit mengakui perasaan diri sendiri. Beberapa dari mereka mungkin akan menyimpannya rapat-rapat. Ada banyak pula yang melela atau coming out ke orang terdekat, bahwa mereka gay, lesbian, biseksual, atau transgender.

Catatan dari SehatQ

Terlepas dari keyakinan saat ini terhadap LGBT, Anda disarankan untuk tidak mendiskriminasi kelompok individu LGBT yang membuka jati dirinya, serta tetap memperlakukan mereka seperti manusia biasa lainnya. Sebab, para ahli sudah menyatakan, menjadi LGBT bukanlah sesuatu yang dapat dipilih, sehingga Anda tidak akan mampu untuk mengubah mereka.

Healthy Children. https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/gradeschool/Pages/Gender-Identity-and-Gender-Confusion-In-Children.aspx 
Diakses pada 23 Oktober 2019

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/sexual-orientation.html
Diakses pada 23 Oktober 2019

Web MD. https://www.webmd.com/sex-relationships/guide/sexual-orientation
Diakses pada 23 Oktober 2019

Web MD. https://www.webmd.com/sex/news/20190529/being-transgender-not-a-mental-disorder-who-says
Diakses pada 23 Oktober 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed