Penyebab Kifosis Bisa Beragam, Simak Cerita Kasus Ekstrem Kifosis

Kifosis terjadi ketika tulang belakang membungkuk hingga 50 derajat
Semakin parah lengkungan tulang belakang, semakin parah pula penyakit kifosis yang diderita

Pernah mendengar kisah legenda The Hunchback of Notre Dame? Ceritanya bahkan diangkat menjadi film tahun 1996 silam, menggambarkan seorang pemukul lonceng Notre Dame yang mengalami kifosis alias tubuh bungkuk. Lalu apa sebenarnya penyebab kifosis?

Usia remaja adalah periode terjadinya kifosis yang paling umum. Sebenarnya pada banyak kasus, tidak perlu dilakukan perawatan apapun untuk menanganinya. Asal mengetahui penyebab kifosis dan menghindarinya, maka kifosis sudah teratasi.

Namun pada beberapa kasus ekstrem, kifosis bisa menyebabkan rasa nyeri berlebih hingga kesulitan bernapas. Bukan tidak mungkin penderita kifosis parah harus menjalani operasi untuk mengurangi posisi tulang belakang yang membungkuk ini.

Kasus ekstrem kifosis di dunia

Bagi beberapa orang mungkin kifosis bisa ‘diperbaiki’ hanya dengan memastikan postur tetap tegak, berolahraga, atau terapi. Namun bagi sebagian orang, kasus kifosis bisa menjadi ekstrem. 

Berikut beberapa contoh kasus ekstrem kifosis di dunia:

Anna Pesce, nyaris terjatuh akibat kifosis 

Cerita pertama datang dari Anna Pesce, seorang wanita berusia 89 tahun yang tinggal di Wagener, South Carolina, Amerika Serikat. Begitu parahnya kifosis yang dideritanya, ia nyaris terjatuh saat berusaha menaiki tangga.

Penyebab kifosis yang diderita Pesce juga berhubungan dengan skoliosis dan osteoporosis yang membuat tulang punggungnya semakin lemah.

Ia telah mencoba berbagai macam pengobatan seperti akunpuntur hingga terapi. Pesce akan merasa baikan sesaat namun kembali merasakan nyeri.

Sejak itu, Pesce menjalani terapi seminggu sekali bersama instruktur yoga bernama Rachel Jesien yang spesialis menangani gangguan tulang belakang. Setelah 2 bulan, Pesce tahu bentuk tubuh apa yang harus dilakukannya ketika rasa nyeri itu datang.

Bahkan Pesce terus menekuni yoga hingga 2 tahun kemudian. Kini, Pesce bisa menyetir sendiri dan melaukan hal-hal yang sebelumnya mustahil dilakukannya.

Julie, kifosis di usia senja 

Sebelumnya Julie tak pernah menyangka bahwa ia menderita gangguan kifosis parah. Dua hal yang dia tahu adalah pakaian kerjanya tak lagi muat dan jatuh pas di badannya dan mudah merasa lelah ketika berdiri terlalu lama.

Tak hanya itu, rekan kerjanya juga mengatakan bahwa ia selalu saja duduk dengan posisi terlalu membungkuk.

Dari situ, berangkatlah Julie memeriksakan diri ke terapis untuk mengetahui apa yang terjadi dengan tubuhnya. Dari situ diketahui bahwa ia menderita kifosis. Istilah medis dari apa yang dialaminya adalah osteopenia yaitu kerapatan tulang yang rendah.

Kifosis yang dideritanya membuat wanita berusia 68 tahun ini tak bisa menegakkan punggungnya, bahkan otot punggungnya tak lagi kuat menyangga posturnya dengan baik.

Konsekuensinya adalah kesulitan untuk berdiri tegak, mudah lelah jika berdiri tanpa penyangga, hingga kehilangan keseimbangan ketika berjalan.

Selain mengonsumsi obat, Julie juga menjalani terapi untuk memperkuat otot punggungnya. Selama ini, otot di leher dan bahunya cenderung terlalu kaku. Terapi dilakukannya bersama dokter dan di rumah.

Setelah pengobatan selama beberapa periode, Julie dapat mengatasi kifosis yang dideritanya bahkan ikut bergabung dengan walking group dengan orang-orang berusia senja.

Ceren dan kifosis kongenital

Berbeda dengan cerita Julie yang baru merasakan kifosis ekstrem di usia senja, yang terjadi pada Ceren justru sebaliknya. Gangguan pada kifosisnya telah terdeteksi sejak ia masih di dalam kandungan, ketika usia kehamilan ibunya mencapai 23 minggu.

Ketika mengandung, ibu Ceren yang tinggal di Turki ingin melakukan pemeriksaan USG. Dari situ, terlihat bahwa bayi yang dikandungnya mengalami gangguan di tulang belakang

Radiologis menyebut bahwa sangat mungkin bahwa bayinya kelak akan terlahir dengan bentuk tulang belakang yang tidak normal.

Tentunya orangtua Ceren kala itu sangat terpukul. Mereka segera mencari tahu penyebab kifosis yang diderita bayinya dan menemukan bahwa itu adalah kifosis kongenital. 

Terus mencari opini dari banyak dokter, mereka memutuskan untuk menanti kelahiran sang bayi dan mengambil tindakan ketika saat itu datang. Dari pemeriksaan berkala sejak Ceren masih berusia 3 bulan, diputuskan bahwa Ceren akan dioperasi saat usianya mencapai 23 bulan.

Kabar baiknya, operasi yang berlangsung selama 3,5 jam tersebut berjalan sukses. Pascaoperasi, tubuhnya masih dilapisi perban dari bawah ketiak hingga lutut di satu sisi. Tentu saja, hal ini membuatnya kesulitan untuk duduk dan mandi.

Namun kabar baiknya, Ceren beradaptasi dengan begitu cepat. Orangtuanya memintanya menganggap perban itu seperti halnya mengenakan kaos yang kedodoran. 

Lima bulan kemudian, perban itu dilepas dan kifosis Ceren telah benar-benar sembuh. 

Kapan seseorang disebut menderita kifosis?

Sebenarnya, adalah hal yang wajar ketika tulang belakang cenderung membungkuk sekitar 20-45 derajat. Seseorang dikatakan menderita kifosis ketika derajatnya mencapai lebih dari 50 derajat.

Semakin besar lengkungannya, semakin parah pula kifosis yang diderita seseorang. Tipe kifosis yang paling umum terjadi – terutama pada remaja – adalah kifosis postural.

Pada tipe yang satu ini, gejala kifosis bisa terdeteksi ketika seorang remaja cenderung membungkuk ketika beraktivitas. Jika belum terlalu parah, bungkuknya bisa dengan mudah hilang ketika yang bersangkutan diminta untuk berdiri tegak.

Ketika menjadi semakin parah, biasanya yang terjadi adalah kifosis Scheuermann. Nama ini diambil dari seorang radiologis asal Denmark yang pertama kali mendeskripsikan kondisi ini.

Berbeda dengan kifosis postural, kifosis Scheuermann terlihat lebih parah, terutama pada pasien yang bertubuh kurus. Jika dilakukan x-ray, tulang belakang berbentuk triangular bukannya rectangular seperti seharusnya.

Bentuk ini menyebabkan tulang belakang melebar dan membuat postur tubuh pemiliknya sangat bungkuk. Penderitanya pun tidak bisa memperbaiki postur tubuhnya sendiri meski diminta berdiri tegak.

Satu lagi jenis kifosis adalah kifosis kongenital. Penyebab kifosis jenis ini adalah kolom tulang belakang gagal tumbuh normal ketika bayi masih berada dalam janin. Biasanya, kifosis jenis ini akan memburuk seiring dengan pertumbuhan bayi.

Sangat diperlukan operasi sejak dini untuk menangani kifosis jenis ini. Biasanya, penderitanya juga mengalami komplikasi masalah di bagian tubuh lainnya seperti jantung atau ginjal.

American Academy of Orthopaedic Surgeons. https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases--conditions/kyphosis-roundback-of-the-spine
Diakses pada 25 Juni 2019

New York Post. https://nypost.com/2016/08/08/this-85-year-old-proves-yoga-can-keep-you-young/
Diakses pada 25 Juni 2019

Scoliosis Research Society. https://www.srs.org/patients-and-families/patient-stories/ceren
Diakses pada 25 Juni 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed