Penyebab Kanker Usus Besar dan Usus Halus Ini Perlu Dicermati Untuk Jaga Diri

Penyebab kanker usus berasal dari mutasi gen
Mutasi gen bisa memicu tumbuhnya kanker dalam usus

Usus besar dan usus halus memiliki fungsi yang berlainan. Usus kecil berfungsi menyerap nutrisi dari makanan, sedangkan usus besar bertugas menyerap air dan membentuk sisa pencernaan (feses).

Penyebab kanker usus adalah adanya mutasi pada sel-sel di usus, yang bisa terjadi pada usus besar maupun usus halus. Perubahan abnormal ini menyebabkan sel-sel tumbuh secara berlebihan dan dapat bersifat ganas.

Penyebab kanker usus besar dan usus halus

Kanker usus besar merupakan jenis kanker usus yang lebih umum terjadi daripada kanker usus halus. Penyebab di balik kedua jenis kanker ini adalah mutasi gen.

Meski pemicu perubahan gen tersbut belum diketahui secara pasti hingga sekarang, ada beberapa faktor risiko yan mungkin bisa meningkatkan risiko Anda untuk mengalaminya. Apa sajakah itu?

  • Usia tua

Sebagian besar orang yang menderita kanker usus besar mengalaminya pada usia di atas 50 tahun. Namun akhir-akhir ini, terjadi peningkatan jumlah pasien penyakit yang juga disebut kanker kolon ini pada kelompok usia yang lebih muda.

Sementara untuk kanker usus halus, rata-rata usia orang yang mengalaminya adalah sekitar 60 tahun.

  • Polip usus

Kanker berawal dari tumbuhnya polip alias benjolan kecil yang tidak bersifat ganas pada permukaan usus. Setelah jangka waktu tertentu, polip usus bisa saja berkembang menjadi kanker.

  • Penyakit usus tertentu

Penyakit-penyakit tertentu yang menimbulkan peradangan kronis pada usus bisa meningkatkan risiko kanker kolon di kemudian hari. Contohnya, seperti penyakit Crohn dan kolitis ulseratif.

Sementara pada kanker usus halus, penyakit celiac juga bisa menjadi salah satu faktor risikonya. Walau penyebab pastinya belum jelas, gejala dari kondisi autoimun ini muncul ketika penderita mengonsumsi gluten.

  • Faktor keturunan

Jika ada orang tua atau saudara kandung Anda yang menderita kanker usus besar maupun halus, hal ini akan turut meningkatkan risiko Anda untuk terkena penyakit serupa.

  • Pola makan tinggi lemak dan rendah serat

Banyak riset yang telah menemukan kaitan antara timbulnya kanker usus dengan pola makan tertentu. Khususnya pada orang yang terlalu banyak mengonsumsi daging merah dan daging olahan, serta jarang mengonsumsi sayur maupun buah.

  • Gaya hidup sedenter

Orang yang jarang bergerak dan beraktivitas fisik lebih tinggi risikonya terkena kanker usus besar.

  • Obesitas

Pengidap obesitas memiliki risiko lebih besar untuk kanker usus besar, bahkan meninggal karena penyakit ini bila dibandingkan dengan orang dengan berat badan normal.

  • Diabetes

Penyakit kencing manis maupun kondisi resistensi insulin juga menjadi salah satu faktor penyebab kanker usus besar.

  • Merokok dan konsumsi alkohol berlebihan

Kedua kebiasaan ini tak hanya bisa menjadi faktor penyebab kanker usus besar maupun halus, tapi juga berbagai gangguan kesehatan lainnya.

  • Jenis kelamin

Khusus untuk kaker usus halus, kaum pria memiliki risiko yang sedikit lebih tinggi dibandingkan para wanita. Namun dalang di balik faktor risiko ini belum diketahui dengan pasti.

  • Paparan zat kimia tertentu

Tinggal atau bekerja di area yang banyak terpapar zat kimia tertentu pun dikatakan dapat menjadi faktor penyebab kanker usus halus.

Seperti apa gejala kanker usus besar?

Gejala-gejala di bawah ini sebaiknya Anda waspadai dan diperiksakan ke dokter:

  • Perubahan pada pola buang air besar (BAB), seperti lebih sering diare atau konstipasi
  • Perdarahan saat BAB
  • Perut sering sakit, kram, atau terus-menerus kembung
  • BAB yang terasa tidak tuntas
  • Penurunan berat badan walau tidak sedang diet
  • Rasa lemas dan letih berkepanjangan

Seperti apa gejala kanker usus halus?

Meski belum tentu merupakan tanda kanker usus kecil, tidak adanya salahnya Anda memeriksakan diri ke dokter jika mengalami beberapa keluhan berikut:

  • Sering merasa sakit atau kram pada perut bagian tengah
  • Berat badan berkurang walau Anda tidak sedang berdiet
  • Ada benjolan yang bisa diraba di bagian perut
  • Darah pada tinja
  • Limfedema atau pembengkakan pada tungkai akibat penyumbatan kelenjar getah bening

Lakukan ini bila Anda merasakan gejala kanker

Kanker bersifat progresif, yang artinya penyakit ini tidak langsung menunjukkan gejala yang parah. Untuk itu, Anda harus waspada dan berkonsultasi ke dokter jika mengalami gejala-gejala tersebut.

Selain menanyakan gejala Anda secara rinci, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan fisik maupun penunjang. Jenis pemeriksaan lanjutan ini bisa berupa pencitraan. Contohnya, rontgen, CT scan, atau MRI. Dengan ini, dokter bisa mendeteksi ada tidaknya keabnormalan dalam usus.

Bila dibutuhkan, dokter juga akan meminta pasien untuk menjalani endoskopi. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan selang fleksibel dengan ujung kamera langsung ke saluran pencernaan pasien agar kondisinya bisa dievaluasi.

Melalui serangkaian pemeriksaan lanjutan tersebut, dokter dapat mendeteksi beragam gangguan pada usus yang bisa saja menjadi penyebab kanker usus. Proses ini juga akan sekaligus menentukan diagnosis Anda.

Pengobatan kanker usus kecil dan usus besar tergantung dari lokasi tumbuhnya kanker, stadium kanker, usia, dan pertimbangan medis lainnya. Penanganan umumnya melibatkan operasi untuk membuang jaringan kanker, terapi radiasi, serta kemoterapi.

Bila terdeteksi sejak dini dan ditangani secepatnya, harapan hidup penderita kanker usus juga akan meningkat. Jadi segera konsultasikan ke dokter apabila Anda mengalami kejanggalan atau keluhan tertentu pada pencernaan Anda.

Web MD. https://www.webmd.com/cancer/cancer-of-the-small-intestine#1
Diakses pada 14 April 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/colon-cancer/diagnosis-treatment/drc-20353674
Diakses pada 14 April 2020

Artikel Terkait