Intoleransi laktosa atau alergi laktosa adalah kondisi di mana tubuh tidak dapat mencerna laktosa dalam susu
Alergi susu atau intoleransi laktosa dapat disebabkan oleh beberapa faktor

Intoleransi laktosa adalah kondisi di mana tubuh tidak mampu mencerna laktosa yang terkandung dalam susu atau produk turunannya. Diperkirakan 75% dari warga dunia mengalami intoleransi laktosa, dengan tingkat kasus tertinggi ditemukan pada orang Afrika dan Asia (60-80%).

Saat Anda minum susu atau produk olahannya, laktosa yang terkandung di dalamnya akan masuk ke dalam usus halus. Jika usus halus Anda tidak memproduksi enzim laktase dalam jumlah cukup, laktosa yang tidak dicerna masuk ke dalam usus besar. Bakteri dalam usus besar memecah laktosa, kemudian menghasilkan cairan dan gas. Hal inilah yang dapat menyebabkan gejala intoleransi laktosa, seperti kembung, diare, mual, dan sakit perut.

Penyebab intoleransi laktosa

Terdapat empat hal yang digolongkan sebagai penyebab intoleransi laktosa. Empat penyebab tersebut, antara lain:

1. Primer

Intoleransi kongenital primer paling sering ditemukan. Ketika lahir, tubuh kita memproduksi cukup enzim laktase untuk mencerna laktosa dalam susu. Seiring dengan bertambahnya usia dan perubahan pola makan, jumlah produksinya menjadi semakin sedikit.

Umumnya, tubuh manusia akan berhenti memproduksi laktase sejak usia dua tahun. Ini yang menyebabkan susu dan produk olahannya sulit untuk dicerna. Kondisi ini diperkirakan berkaitan dengan gen karena ditemukan variasi berdasarkan ras.

2. Sekunder

Pada penyebab ini, intoleransi laktosa terjadi akibat adanya cedera pada usus halus sehingga tidak dapat memproduksi enzim laktase dalam jumlah cukup, misalnya akibat penyakit atau prosedur operasi. Penyakit celiac dan Crohn, yang merupakan suatu keadaan peradangan kronis pada usus, juga sering menyebabkan intoleransi laktosa. Penyebab lainnya adalah radang lambung dan usus halus, kemoterapi, atau penggunaan antibiotik dalam waktu lama.

3. Developmental

Pada bayi-bayi yang lahir prematur, fungsi usus halus seringkali belum sempurna sehingga tidak mampu memproduksi enzim laktase dalam jumlah cukup untuk mencerna susu. Hal ini dapat menyebabkan intoleransi laktosa yang bersifat sementara. Biasanya gejala akan menghilang saat bayi bertambah besar.

4. Kongenital

Penyebab ini jarang terjadi. Intoleransi laktosa akibat kongenital umumnya ditemukan pada bayi baru lahir. Kelainan genetik menyebabkan tubuh bayi tidak memproduksi atau hanya sedikit memproduksi enzim laktase. Mutasi gen yang menyebabkan intoleransi laktosa ini dapat diturunkan dari orangtua.

[[artikel-terkait]]

Mengonsumsi susu dan produk olahannya umumnya sudah menjadi bagian dari pola hidup kebanyakan orang. Seringkali penderita intoleransi laktosa sulit untuk menghilangkan susu dari pola makan sehari-hari mereka. Ada banyak alternatif untuk mengganti susu sapi, seperti susu kedelai, susu almond, susu beras, atau santan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih pengganti susu sapi, antara lain:

  • Kandungan protein. Kandungan protein yang serupa susu sapi ditemukan pada susu kedelai.
  • Kandungan gula. Produk yang tersedia di pasaran seringkali mengandung gula. Sebisa mungkin pilih produk yang tidak mengandung gula. Pastikan Anda memerhatikan komposisi dalam kemasan. Jangan memilih produk yang mencantumkan gula dalam tiga komposisi pertama (komposisi dicantumkan urut berdasarkan yang kandungannya paling banyak ke yang paling sedikit).
  • Kandungan kalsium. Pilih produk dengan kandungan kalsium setidaknya 120 mg per 100 ml.
  • Vitamin B12. Bagi mereka yang tidak mengonsumsi produk hewani, pilih produk yang difortifikasi dengan vitamin B12

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/dairy-substitutes
Diakses pada Mei 2019

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/lactose-intolerance/symptoms-causes
Diakses pada Mei 2019

National Health Service. https://www.nhs.uk/conditions/lactose-intolerance/causes/
Diakses pada Mei 2019

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/dairy-substitutes#section9
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed