Benarkah Stres Dapat Menyebabkan Lemah Syahwat? Ini Penjelasannya

Kelainan pembuluh darah menjadi salah satu penyebab umum masalah lemah syahwat atau disfungsi seksual
Kondisi stres dapat memicu lemah syahwat dan mengganggu kehidupan seksual Anda dan pasangan.

Lemah syahwat atau yang sering disebut impotensi, sering dianggap sebagai penyakit yang memalukan. Sehingga, tidak sedikit pria yang kemudian tak acuh mengenai kondisi disfungsi seksual ini.

Padahal, lemah syahwat bisa jadi merupakan tanda penyakit serius, seperti kerusakan saraf hingga penyakit jantung. Mengenali lebih jauh penyebab serta gejala lemah syahwat, bisa membantu Anda mendeteksi sejak dini kondisi yang merupakan salah satu jenis disfungsi seksual ini.

Dengan begitu, perawatan yang tepat dan efektif pun dapat segera dimulai sehingga keluhan Anda dapat teratasi.

9 Penyebab lemah syahwat yang paling umum

Kondisi lemah syahwat sebenarnya bisa disebabkan oleh berbagai hal. Namun, yang paling umum adalah 5 kondisi di bawah ini.

1. Kelainan pembuluh darah

Ereksi baru bisa terjadi ketika darah sudah terkumpul di batang penis. Agar bisa sampai ke sana, maka darah harus dipompa dengan baik, ke area tersebut.

Kelainan pembuluh darah dapat menghambat proses tersebut. Kondisi ini merupakan penyebab paling umum terjadinya lemah syahwat.

2. Kerusakan saraf

Fungsi saraf pada pria juga harus berjalan dengan baik, untuk bisa mengalami ereksi. Banyak orang beranggapan bahwa kerusakan saraf merupakan kondisi yang jarang terjadi. Namun, beberapa kondisi di bawah ini juga bisa jadi penyebabnya.

3. Faktor hormon

Tubuh memerlukan hormon agar fungsi seksual dapat berjalan dengan baik. Hormon dalam tubuh diproduksi oleh sistem endokrin, yang juga mengatur metabolisme hingga reproduksi.

Saat sistem endokrin terganggu akibat penyakit seperti diabetes, kemampuan tubuh untuk menggunakan hormon insulin menjadi terganggu. Akibatnya, terjadilah lemah syahwat.

4. Penyakit jantung

Jantung berfungsi untuk memompa darah ke seluruh tubuh, termasuk penis. Ketika jantung tidak dapat berfungsi dengan baik, maka kemampuannya untuk memompa darah ke penis juga terganggu, sehingga terjadilah impotensi.

5. Gangguan psikologis

Ereksi perlu dimulai dengan perasaan senang untuk melakukan hubungan seksual. Di situlah otak berperan. Otak akan memberikan pemicu atau rangsangan agar ereksi dapat terjadi. Gangguan psikologis bisa menghalangi proses tersebut, termasuk:

6. Diabetes

Kaum pria yang menderita diabetes, berisiko dua hingga tiga kali lebih besar mengalami lemah syahwat. Bahkan, penyakit ini bisa muncul 10 hingga 15 tahun lebih awal dari usia rata-rata penderita lemah syahwat. Risiko dapat berkurang dengan melakukan langkah-langkah untuk mengontrol gula darah.

7. Gaya hidup yang kurang sehat

Gaya hidup juga dapat memengaruhi performa seksual pada pria. Bagi kaum pria yang memiliki kebiasaan merokok, minum alkohol berlebih dan mengonsumsi obat-obatan terlarang, mempertahankan ereksi akan menjadi hal yang sulit dilakukan. 

Sebab, menjalani gaya hidup yang kurang sehat tersebut dapat merusak pembuluh darah dan mengganggu aliran darah ke penis. Memiliki berat badan berlebih dan tidak pernah olahraga, juga meningkatkan risiko seseorang mengalami lemah syahwat.

8. Efek samping obat-obatan

Lemah syahwat juga dapat muncul sebagai efek samping konsumsi obat-obatan. Jenis obat yang dapat memicu timbulnya kondisi ini antara lain obat untuk menurunkan darah tinggi dan antidepresan. Konsultasikan ke dokter apabila obat yang diresepkan memberikan efek samping ini. Namun, jangan dulu berhenti mengonsumsi obat tersebut, sebelum Anda berkonsultasi.

9. Kadar testosteron rendah

Kadar testoseron yang rendah, bisa mengurangi kemampuan mempertahankan ereksi seorang pria. Pasalnya, selain aliran darah ke penis, kadar testoseron juga berpengaruh pada proses terjadinya ereksi. Rendahnya kadar testosteron juga berkaitan erat dengan penyakit-penyakit yang diketahui bisa memicu timbulnya kondisi ini, seperti diabetes, obesitas,

Lemah syahwat bisa mengancam kaum pria segala usia

Meski penyakit ini umumnya dialami oleh lansia, namun pria yang berusia di bawah 60 tahun ternyata juga bisa mengalaminya. Sebanyak 12% penderita lemah syahwat, disebutkan berusia di bawah 60 tahun, 22% nya berusia 60-an tahun, dan 30%nya berusia di atas 70 tahun. 

Perlu diingat bahwa tidak semua pria pasti akan mengalami lemah syahwat saat memasuki usia tua. Secara umum, semakin sehat tubuh Anda, maka fungsi seksual Anda akan semakin baik. 

Bagi kaum pria yang berusia di bawah 40 tahun yang mengalami lemah syahwat, penyebab utamanya adalah gaya hidup tidak sehat, seperti kebiasaan merokok. 

Ini gejalanya jika Anda mengalami lemah syahwat

Pria yang mengalami lemah syahwat, akan kesulitan untuk mempertahankan ereksi. Kondisi ini dapat terjadi secara tiba-tiba, maupun perlahan.

Pada kondisi yang terjadi secara perlahan, durasi ereksi lama-kelamaan akan semakin berkurang. Sedangkan impotensi yang terjadi secara tiba-tiba, biasanya akan disebabkan oleh faktor gangguan psikologis. Impotensi yang terjadi secara tiba-tiba, bisa membaik dengan mendadak pula.

Berbeda dari bayangan banyak orang, pria yang lemah syahwat atau impoten, masih bisa mengalami orgasme. Selain itu, pria tersebut juga masih bisa mengalami ejakulasi tanpa ereksi yang penuh. Sehingga, kehidupan seksual pada pria yang mengalami lemah syahwat sebenarnya masih tetap bisa berjalan. 

Cara mengatasi lemah syahwat

Jika gejala di atas sudah mulai Anda alami, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat. Untuk mengatasi lemah syahwat, dokter dapat menggunakan beberapa metode berbeda, tergantung dari penyebabnya.

Pemberian obat-obatan adalah satu cara mengatasinya. Selain itu, penggunaan alat seperti pompa penis dan implan penis juga dapat menjadi pilihan. Olahraga teratur, serta konsultasi psikologi juga juga menjadi pilihan untuk mengatasi lemah syahwat.

Tidak usah malu untuk mengonsultasikan seputar masalah lemah syahwat dengan dokter ahli andrologi. Apalagi, jika kondisi ini sudah memicu terjadinya gangguan kecemasan dan mengancam keharmonisan hubungan Anda dan pasangan.

Harvard Health Publishing. https://www.health.harvard.edu/a_to_z/impotence-erectile-dysfunction-a-to-z
Diakses pada 15 Mei 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/erectile-dysfunction/common-causes-impotence
Diakses pada 15 Mei 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/erectile-dysfunction/symptoms-causes/syc-20355776
Diakses pada 15 Mei 2019

WebMD. https://www.webmd.com/erectile-dysfunction/ss/erectile-dysfunction
Diakses pada 21 Oktober 2019

WebMD. https://www.webmd.com/erectile-dysfunction/erectile-dysfunction#1
Diakses pada 21 Oktober 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed